*Regina’s POV*
Aku terbangun dengan kepala yang sangat sakit. Kurasa sisa mabuk semalam masih tersisa. Sehingga membuatku masih merasa seakan melayang. Bahkan lambungku terasa sangat aneh. Antara sakit dan mual yang pertama kalinya kurasakan. Selama ini aku memang tidak terlalu kuat dalam hal minuman beralkohol. Hanya karena ingin melupakan sosok mantan kekasih, aku nekat minum soju. Walaupun pada akhirnya tetap saja masih terbayang-bayang oleh setiap kenangan yang dihabiskan bersama waktu dulu. Semuanya bagaikan mimpi yang masih belum bisa kupercaya. Hubungan kami baik-baik saja. Sampai pada akhirnya di saat Seo Hyun mengatakan kata pisah pada waktu yang tidak tepat. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk berlibur selama satu bulan di sini. Sekarang justru kuhabiskan sendirian dengan mendatangi tempat yang telah dijanjikan dulu. Semua bagaikan janji yang tidak ditepati. Sebuah janji palsu yang membuat pikiranku merasa terpukul.
Bukankah sebuah janji ada karena memang insan tersebut berniat menepatinya? Justru sekarang kuketahui kalau Seo Hyun tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Kami memang terpisah oleh jarak. Namun bukan berarti aku dan Seo Hyun tidak dapat bersama. Hanya masalah waktu sehingga kami bisa kembali bersama. Setidaknya hal itu yang kupikirkan setiap kali ada teman menanyakan alasanku untuk tetap bertahan. Hal yang tidak kubayangkan justru terjadi. Seo Hyun menjauhkan diri setelah kami berpacaran selama setahun. Apalagi jarak antara kami semakin dekat karena kedatanganku ke Korea Selatan. Aku sama sekali tidak menyangka kalau ia akan memutuskanku begitu saja. Setelah banyak hal yang telah terjadi di antara kami.
Aku bangkit dari tempat tidur. Lalu, berjalan menuju kaca berhias. Menatap wajahku yang masih terlihat pucat. Tenggorokanku terasa sangat kering. Kurasa di hotel pun tidak menyediakan sup pengar untuk menghilangkan sisa mabuk semalam. Aku menyentuh wajahku dan tersenyum pahit. Seharusnya setiap pagi terukir senyum di wajahku. Karena kami akhirnya bersama. Sayangnya takdir berpihak lain terhadap hubungan kami. Yang sampai sekarang pun masih belum bisa kuterima.
Seo Hyun bisa saja melepaskanku tanpa alasan. Tapi, memblokir kontakku bukanlah kebiasaannya. Dulu waktu kami bertengkar, ia sama sekali tidak pernah memblokir bahkan mengancam untuk mengganti nomor telepon. Aku rasa semua karena sifatku yang benar-benar bersikeras untuk menemuinya. Mungkin saja Seo Hyun berpikir kalau aku akan nekat datang dan mengganggunya lagi.
“Kau keterlaluan,” ucapku di kesunyian kamar.
Tidak biasanya aku berlaku seperti sekarang. Dulu sewaktu kami masih berpacaran. Aku menyukai aroma mint dari tubuhnya di pagi hari. Waktu itu Seo Hyun akan memelukku begitu hangat dan berkata kalau kami harus tidur lebih lama. Pada waktu itu aku datang ke Korea Selatan selama seminggu. Kami pun memilih untuk tinggal bersama di hotel. Sejujurnya aku masih merasa malu. Tapi, Seo Hyun bersikeras untuk menjagaku selama berada di Korea Selatan.
Aku berjalan menuju kamar mandi. Berpikir untuk segera mandi dan mencari sup penghilang pengar karena meminum alkohol kemarin. Mungkin aku akan berendam di bathtub untuk beberapa menit. Setidaknya menghilangkan segala rasa kecewa dan sakit hati yang masih belum bisa aku atasi. Dari sekian banyak hal yang terjadi pada hubungan kami. Aku tidak menyangka kalau perpisahan kali ini menjauhkan kami. Walaupun aku percaya kalau rasa cinta itu tidak menghilang dalam semalam. Pasti ada alasan yang mendasarinya. Hal itulah yang sedang kuselidiki sekarang. Selain mengunjungi beberapa tempat yang akan membangkitkan ingatanku tentang Seo Hyun. Setiap janji yang tidak bisa ditepati. Aku akan mengingatnya.
.+.+.+.+.+.
Waktu masih menunjukkan jam sepuluh pagi di Seoul. Aku pun sudah selesai mandi dan berpakaian rapi untuk mencari restoran yang menjual menu kimchi jiggae untuk menghilangkan sisa mabuk semalam. Kurasa sarapan dengan sesuatu yang pedas dan hangat dapat menghilangkan sedikit rasa pusing yang masih kurasakan.
Aku mengeratkan syal dan berkeliling di sekitar hotel. Hanya mencari sebuah restoran yang mungkin menjual kimchi jiggae di pagi hari. Sekitar dua blok dari hotel tempatku menginap terdapat sebuah restoran kecil dengan cat kayu berwarna cokelat dan terpampang berbagai menu sup yang bisa dinikmati. Aku pun melangkah menuju pintu masuk dan mendorong pintu kayu yang dilapisi kaca tersebut.
Suara denting lonceng yang menandakan seseorang memasuki restoran. Di kejauhan aku bisa melihat seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda menunduk memberikan salam. Aku pun ikut membalas salam dari mereka. Lalu, duduk di meja paling depan dekat dengan pintu masuk.
Di dalam restoran tidak begitu sempit seperti kelihatan dari luar. Ada meja penuh dengan tumpukan gelas. Serta beberapa banchan yang bisa diambil secara gratis. Pencahayaan dibuat sedikit redup. Dengan beberapa aksesoris kecil berbentuk pohon yang hanya tertinggal ranting di atas meja. Meskipun masih bisa dibilang dekorasi yang minim. Tidak bisa dipungkiri restoran ini cukup ramai. Aroma makanan pun menguar di udara membuatku tiba-tiba merasakan lapar.
Aku memandang ke luar jendela. Ternyata hujan salju lagi-lagi turun. Bahkan, beberapa orang terlihat berlarian menutupi kepalanya karena hujan salju yang tiba-tiba turun. Kurasa aku pun akan tertahan di sini. Karena aku tidak membawa payung dan minimarket pun cukup jauh dari sini. Kurasa aku akan tertahan di sini.
Lagi-lagi aku memikirkan Seo Hyun sekarang. Hal ini karena pelayan menyajikan beberapa bancan yang mengingatkanku padanya. Seperti brokoli rebus dengan campuran mayonaise dan beberapa bumbu lainnya. Aku tersenyum tipis dan mulai merasakan perasaan yang akhir-akhir ini kuhindari. Sebuah kerinduan pada mantan kekasih yang sampai kapan akan kumiliki.
Kami memang berpisah tanpa sebuah alasan yang jelas. Itulah mengapa aku masih belum merelakan setiap memori yang kumiliki untuknya. Aku mungkin bisa mencari pria lain di sini. Hal itu tidak kulakukan. Karena aku masih mencintai Seo Hyun. Meskipun beberapa temanku menyarankan untuk melupakannya, hal itu sulit untuk dilakukan. Karena begitu banyak memori yang tersimpan. Baik itu di Bali atau Korea Selatan. Hal apapun yang kulakukan. Justru semakin mengingatkanku kepadanya.
Aku tersenyum melihat pelayan akhirnya membawakan satu porsi kimchi jiggae dengan potongan daging sapi yang terlihat menggoda. Aroma pedas dan gurih dari makanan membuatku sejenak melupakan keresahanku. Aku menyendokkan sedikit kimchi jiggae dan mencicipi rasanya. Benar-benar segar dan sedikit pedas. Kurasa makanan ini bisa menghilangkan sisa mabuk semalam.
Tanganku mengambil sumpit dan mencicipi beberapa bancan yang tersedia. Lalu, menyendokkan kimchi jiggae dan menuangkan ke mangkuk nasiku. Aku pun menikmati masakan dalam sunyi. Tidak memikirkan hal lain. Mencoba untuk mengusir bayang-bayang Seo Hyun yang mengusik hariku. Nantinya aku berniat untuk ke beberapa tempat untuk berbelanja. Walaupun sedikit sulit. Aku berusaha menyibukkan diri. Mungkin saja dengan begitu bisa melupakan kesedihan yang kurasakan. Kalau seharusnya Seo Hyun berada di sini sekarang. Bersamaku. Menikmati makanan enak bersama-sama dan membagi memori yang berharga. Seandainya hal itu yang terjadi. Mungkin aku tidak akan sendiri. Melewati hari-hari yang melambat tanpa kehadirannya di sisiku.