"Hhhppp ...." Pati ... Dia benar-benar gilaa! Dia berani meleecehkan aku! Meski berat kedua tangan dan kaki terus memberontak. Demi, Tuhan ... Aku tak terima di perlakukan sehina ini oleh, Adipati. "Aaahh ...." Pati meringis melepas ciuman, saat aku menggigit lidahnya. Tubuhku gemetar hebat. Aku benar-benar ketakutan. "Hei ... Kamu menangis?" Pati menghentikan aktivitasnya saat melihat air mata yang meleleh dari mataku. Pati bernapas panjang, menjatuhkan wajah di depan wajahku. Napas itu terasa berat dab hangat, Pati memejamkan mata, lalu menatap sayu. "Maaf ..." Lirihnya. "Aku ... Bahkan seperti bajiingan dimatamu." "Aku hanya mencintaimu ...." "Per--gi ..." Aku berucap dengan suara bergetar. "Kau membenciku?" Pati menatap nanar, menatap lekat-lekat. Aku terpejam, air mata me

