"Ya ampun, Lia!" Mamah berbalik dengan wajah kaget. "Ngapain lu kesini!" Delia berkacak pinggang dengan wajah tak suka. Ckckck ... Dasar aneh! Sebenci itu dia padaku. Harusnya aku yang melempar dia, ini kok malah sebaliknya. "Lu gilaa ya!" Desisku dengan tatapan menyalang. Aku benar-benar ingin membu-nuhnya ... Sungguh! "Mau nyamperin suami gua kan lu!" Tuduhnya dengan wajah begitu jengkel. Ya ampun! Benar-benar si Lia. Tidak punya otak! Aku mengeratkan rahang, kening rasanya benar-benar sakit dan benjut. Saat ingin melompat menyerangnya, suara ricuh dari mulut Ibu-Ibu terdengar lantang. "Heh, Lia. Sadar diri dong. Kau yang merusak si Erin, kenapa kau yang marah!" Semprot Ibu Yuli. "Iya. Kalau aku jadi si, Erin. Sudah habisnya kau kujambak-jambak!" Sahut Ibu Beta sambil menunjuk-n

