Kepala berdenyut ngilu setelah menutup telepon dari, Mamah. Mamah bertanya tentang kebenaran uang mahar dan seserahan Adipati yang berasal dari pinjaman uang atas nama diriku sendiri. Seminggu setelah di lamar, Adipati membawaku kerumahnya. Dia bilang Bapak dan Ibunya ingin berbicara padaku. Aku yang sudah sangat dekat dengan keluarganya, tentu saja senang bertemu dengan calon mertua. "Kami hanya punya tabungan 10.000.000,. Mungkin hanya cukup untuk catring saja." Ujar Ibu Sumi dengan wajah tak enak hati. "Ibu maunya kalian menikah saat Pati sudah punya banyak tabungan. Tapi kamu tahu sendiri, Pati sudah ngebet mau nikahin kamu. Kalian juga pacaran sudah terlalu lama, tidak enak jugakan jadi bahan omongan tetangga." Sambungnya sendu. Aku meringis, lalu menoleh pada Pati yang memandang

