"Rin ..." Mamah menyambut saat aku keluar kamar untuk pertama kali. Bibirnya terkulum senyum, namun sinar matanya di penuhi oleh kesedihan.
"Tenangkan pikiranmu ya sayang. Erina anak Mamah ... kuat, kuat ya sayang." Mamah memelukku sambil terisak-isak. Aku hanya diam, bibir kelu di gerakkan.
Mengedarkan pandang ke sudut rumah, ekor mataku melirik pada pintu kamar milik, Delia. Pintu itu sedikit terbuka, membuat d**a menyeruak nyeuri.
Aaahh siaal!
Pikiran burukku menerka-nerka. Tentang mereka, yang melewati malam pertamanya. Ahh tidak ... Bukankah mereka lebih dulu melakukannya, bahkan sebelum ....
"Aargh!"
Kepala berdenyut nyeuri, bahkan otakku sendiri tak sanggup meneruskan bayangan sialan itu!
"Kamu kenapa, Rin?" Mamah memegang kedua pundak ku dengan wajah cemas. Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Rin ..." Bapak yang sejak tadi duduk termangu di ruang tamu membuka suara. Mamah menuntunku mendekati, Bapak.
Bapak menatap sedih, lalu berusaha melengkungkan bibirnya.
"Ma ..." Bapak menarik napas, seolah sulit bersuara. "Huuuu ..." napas panjang terhembus, bibir itu terkulum senyum sesaat.
"Ma-af." lirih Bapak dengan wajah memerah. "Bapak malu bertatap muka denganmu, Rin." sambungnya pelan, sangat-sangat pelan.
Hening ... tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya terdengar napas panjang nan putus asa.
"Hati-hati ..." Bapak bangkit dari duduknya, memaksakan senyum lalu pergi begitu saja memasuki kamarnya. Bisa aku lihat matanya merah berair sebelum melewatiku.
Aku hanya diam, tatapan kosong kearah pintu kamar yang perlahan tertutup.
"Rin ... Jangan pikirin yang bikin sakit hati ya. Buang pikiran itu jauh-jauh. Kamu harus bangkit, lupakan semua yang menyakitimu." ujar Mamah dengan wajah sendu.
Bibirku berjinjat sebelah mendengarnya.
Lupakan semua?
Mudah sekali kalimat itu terdengar ....
Di hidupku, selain keluarga hanya ada Adipati. Aku mempertaruhkan semua waktuku, hanya untuk bekerja keluarga dan kekasih hatiku.
Tiada lagi yang tersisa, semua kenangan hanya terisi Adipati, Adipati dan Adipati.
Bagaimana mungkin aku bisa dengan mudah melupakan semuanya!
"Erin ... ayok. Tuh taksi onlinenya sudah datang." Bik Umah bersuara, menuntun sebelah tanganku keluar rumah.
Mamah dengan sigap membuka pintu mobil, setelah memastikan aku duduk dengan nyaman dia langsung mencium pipiku seraya melontarkan kalimat menenangkan.
"Titip Erina ya, Um." Mamah menggenggam erat kedua tangan Adiknya. Tak lama mereka berdua menangis sambil berpelukan.
"Hati-hati ..." Mamah melambai setelah Bik Umah masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju perlahan meninggalkan perkarangan rumah seiring dengan napasku yang berhembus panjang.
***Ofd.
"Aaahh ... Ssstt ...."
Mata terbuka kaget, jantung berdetak ngilu seolah ada pedang yang menghunus begitu dalam. Keringat bercucuran, napas tersenggal-senggal. Kucengkram rambut kepala dengan erat, berharap memudar rasa sakit berdenyutnya.
"Kamu kenapa, Rin?" Bik Umah menatap cemas.
Aku menggeleng sambil mengatur napas.
"Mimpi buruk lagi?" tebaknya, kubalas dengan anggukkan kepala.
Satu minggu setelah kejadian, aku tidak bisa tidur dengan tenang.
Mereka bukan hanya menyakitiku di Dunia nyata. Di alam mimpi pun, mereka selalu menghantuiku. Benar-benar hidup yang teramat siaal. Aku bahkan kesulitan untuk terpejam, bayangan mereka yang bergerumul saling merayu terus menerus ada di pikiranku.
"Ini ..." Bik Umah menyodorkan air mineral yang sudah di buka tutupnya. Aku menyambut, meneguk minuman dengan pelan.
"Sudah?" tanyanya. Aku mengangguk. Bik Umah meraih botol mineral lalu menaruhnya kembali di tempat semula.
"Tarik napas ... wajahmu pucat sekali, Rin. Mau berhenti dulu, minum yang hangat-hangat?" tawar Bik Umah.
"Tidak ..." aku menggeleng pelan.
"Ya sudah istirahat lagi." Bik Umah mengusap lenganku.
Menyenderkan kepala di jok mobil, pandangan mataku mengarah keluar jendela yang menampilkan pepohonan rimbun dan menjulang. Mereka berdiri kokoh dan teratur, daun hijaunya membuat mereka semakin nyaman di pandang mata. Perlahan aku menurunkan kaca mobil, hawa sejuk aroma hujan langsung menyapa Indra penciuman.
Aku pejamkan mata, membiarkan tetes demi tetes sisa air hujan membasahi wajah. Untuk sesaat aku merasakan ketenangan, namun lagi-lagi bayangan wajah Mas Pati dan Delia muncul mengganggu pikiran.
Seketika d**a kembali nyeuri, air mata terjatuh tanpa permisi.
Aargghh!
Ayolah, Erina!
Kau harus bangkit! Kedua manusia jahanaam itu pasti saat ini sedang bersenang-senang.
Kenapa aku harus hancur?
Kenapa aku harus menderita, sementara jalaang dan laki-laki tidak tahu diri itu sudah berbahagia.
Ahh tidak!
Kenapa hanya aku yang hancur?
Seharusnya mereka lebih menderita karena sudah mengkhianatiku.
Haruskah aku membalas keduanya?
Bukankah sudah seharusnya mereka berdua hancur. Sangat tidak adil rasanya, jika hanya aku yang di rugikan.
"Bik?"
"Hem?" Bik Umah seketika menoleh.
"Disini ada orang saktikah?"
"Maksudnya?" Kening itu terlihat menaut kencang.
"Aku ingin membuat mereka ma-ti ..." ujarku datar dengan senyum menyeringai.