Bik Umah terperangah matanya terbelalak tak percaya.
"Innalillahi ..." Bik Umah tersentak, menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Istigfar, Erin ... ya Alloh. Nyebut kamu tuh." Bik Umah terlihat panik, tangannya menepuk pahaku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Jangan, Erin. Dosa besar itu, Rin." wajah Bik Umah kini terlihat ketakutan. Berkali dia menyebut nama Tuhan, menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
"Rin ..." Bik Umah menegakkan badan, menatapku dengan wajah serius. "Bukan ..." Napas panjang terhembus dari mulutnya, Bik Umah terlihat ragu bersuara. "Bukan Bibik tidak mengerti perasaanmu. Hanya saja ...."
Kalimatnya kembali terhenti, berkali-kali dia menarik napas panjang dan menghembuskanya secara perlahan.
"Percaya sama, Bibik. Di balik semua kejadian memilukan ini, pasti ada hikmahnya." ujarnya pelan dengan tatapan lekat. "Pati ... dia mungkin, memang bukan jodoh yang baik untuk kamu." sambungnya.
"Tapi kami sudah bersama-sama hampir sepuluh tahun. Aku ... Aku--" napasku tersendat, mengingatnya membuat dadaa sakit, seperti ada pedang yang menghunus jantungku secara bersamaan.
"Erin ... Sudah lama menjalin hubungan bukan berarti kalian berjodoh. Bibik yakin, Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang lebih baik dari dia."
Aku berdecih seiring dengan air mata yang kembali berjatuhan.
"Aku yakin Adipati yang terbaik. Tapi mengapa Tuhan membalikkan hatinya? Mengapa dia bisa tergoda oleh, Delia." ratapku nanar.
"Apa salahku, Bik?" cecarku sambil mengguncang bahunya.
"Aku selalu menuruti segala keinginannya. Aku lakukan apapun yang dia mau, tapi kenapa?"
Aku menangis tersedu-sedu, seraya memukul d**a dengan keras. Rasa sakit di hatiku tidak main-main.
"Delia berengseeek! Kenapa dia meniduri calon suamiku, Bik!" teriakku murka penuh kemarahan. Bayangan wajah culas itu selalu menghantui pikiran, membuatku sangat-sangat muak!
Bik Umah memelukku, dia seolah membiarkan aku menangis meluapkan segala sesak yang masih tertahan di dalam daada. Suaraku sampai serak, seluruh tubuh terasa lemas karena terlalu lama menangis.
Cengeng?
Yah ... Aku memang selemah itu. Siapa pun, aku yakin akan menangis dan sakit jika di khianati oleh dua orang terdekat sekaligus. Aku sangat mempercayai keduanya, tak pernah terlintas sedikitpun mereka akan tega menghunus ku dari belakang.
"Erin ... Tidak ada yang salah pada dirimu." Ujar Bik Umah seraya mengusap pucuk kepalaku. "Yang salah hanya Pati. Ini bukan tentang Delia. Jika awalnya sudah gatal, dia pasti akan tergoda dengan orang lain." sambung Bik Umah.
Aku masih sesegukan, sulit mencerna kata-katanya.
***Ofd.
Mobil berhenti tepat di halaman luas milik, Bik Umah. Aku yang sudah tidak bertenaga, bahkan tak bisa menggerakkan badan sedikitpun. Pak supir yang sudah terlihat tua itu menatap iba kearahku, Bik Umah berlari entah kemana.
"Tolong ya, Om." suara Bik Umah terdengar.
"Siapa yang sakit, Bik. Jasmine?" sahut suara barinton setelahnya.
"Tolong bantu gotong ke dalam rumah. Maaf ya, Om ngerepotin ..." pinta Bik Umah.
"Hati-hati Om ...."
Tak lama tubuhku terangkat, masih bisa aku dengar suara panik Bik Umah.
Mencoba mengerjapkan mata, terlihat bayangan laki-laki berkumis tipis memenuhi penglihatan. Aroma mint dari tubuhnya sedikit menenangkan pernapasanku.
"Langsung ke kamar saja, Om."
Tubuhku dengan hati-hati di taruh di tempat yang empuk. Mata perlahan terbuka mengedarkan pandangan terlihat laki-laki yang baru saja menggendongku menatap datar, lalu mengalihkan pandangan kearah lain.
"Terimakasih ya, Om. Maaf ngerepotin." Ujar Bik Umah, suaranya masih terdengar panik.
"Saya permisi ya, Bik." sahut laki-laki itu di balas dengan anggukan kepala oleh Bik Umah.
"Pusing?" Bik Umah duduk di sisi ranjang. Aku tak menjawab, mengangguk pelan.
"Bibik buatin bubur ya?" Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Bik Umah keluar kamar, setelah memberi aku minum.
Napas panjang terhembus, mata menyorot ke langit-langit kamar. Kepala kembali berdenyut, benar-benar membuatku sangat lelah. Beringsut pelan, duduk menyandar di kepala ranjang sorot mataku beralih keatas nakas yang memperlihatkan tas kecil berwarna hitam kesayangku. Perlahan tangan terulur mengambilnya, membuka resleting dan menengok isi di dalamnya.
Ponsel ... Barang yang biasa selalu aku genggam itu kini tergeletak di dalam sana.
Aisshh ... rasanya sudah lama sekali aku tidak menggunakannya. Benda pipih itu aku biarkan mati kehabisan baterai beberapa hari lalu, lagipula aku terlalu takut menggunakannya. Terakhir aku melihat banyak sekali panggilan dengan ribuan chat yang memenuhi aplikasi berwarna hijau. Mereka pasti bertanya-tanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Aaahh ... Ya ampun. Aku bahkan melupakan tentang pekerjaan. Aku mendapat cuti menikah dua hari dari perusahaan, dan mengambil cuti pribadi selama tiga hari. Esok senin seharusnya aku sudah masuk kantor, namun sepertinya aku harus menambah izin cuti kembali demi ke warasan jiwa dan ragaku.
"Loh kamu siapa?"
Kepala menoleh, terlihat anak perempuan berkuncir kuda berdiri mematung di ambang pintu.
"Eh... Ada Aqila?" Suara Bik Umah ikut terdengar, tak lama dia muncul dari balik pintu.
"Bibik itu siapa?" Bocah manis itu menunjukku.
"Sini masuk ..." Ajak Bik Umah seraya masuk ke dalam kamar. "Ini namanya, Kakak Erina." Jelas Bik Umah sambil meletakan nampan yang di bawanya di atas meja.
Bocah manis itu ikut masuk ke dalam, sorot matanya tak lepas menatapku.
"Rin ... Buburnya sudah matang nih. Makan ya nanti kita ke kebun samping, kamu pasti seneng lihat buah stroberi merah-merah. Mata kamu harus melihat yang seger-seger biar pikiran relax." Ujar Bik Umah dengan senyum lebar. Aku mengangguk, menyambut mangkuk yang di sodorkan olehnya.
"Neng Qila mau bubur ayam?" Bik Umah menoleh kearah bocah yang di panggil Qila.
"Mau, Bik." Anak itu mengangguk cepat.
"Ayok ikut, Bibik ke dapur. Kita buat sama-sama." ajak Bik Umah sambil menuntun tangan mungil itu. Aqila mengokori dari belakang badan Bibik, kepalanya menoleh kearahku sebelum keluar dari pintu.
***ofd
Angin berhembus pelan, hawa dingin pegunungan menerpa kulit. Aku merapatkan jaket, saat hawa dingin kembali menyapa. Dari belakang rumah, aku bisa melihat bayangan gunung, di bawahnya tumbuh rimbun daun teh yang menghijau benar-benar memanjakan penglihatan. Para pemetik pucuk teh terlihat bersemangat menjalankan aktivitas mereka.
"Tuhkan benar sudah siap di petik." Suara Bik Umah terdengar senang, senyumnya lebar memetik satu demi satu buah hasil tanamannya.
Aku berkeliling kebun kecil milik Bik Umah, bukan hanya di hiasi oleh buah merah manis itu saja banyak aneka tanaman sayur mayur yang terlihat segar.
"Makan saja, Rin. Enak loh." Seru Bibik sambil menggigit stroberi hingga setengah bagian. Aku mengangguk, mengikuti ucapannya.
"Huhh ... Asem." Aku bergidik saat rasa kecut menyapa lidah.
"Mau, Bik!"
"Eh ada si cantik. Sini bantu, Bibik." Bik Umah melambaikan tangan.
Bibir mungil itu melengkung sempurna, kaki kecilnya berlari memasuki kebun. Dengan cekatan dia mengambil dengan riang stroberi yang bermunculan di balik daun.
"Ayah sini..." Kepalaku ikut menoleh mengikuti gerak tangan bocah manis itu.
Terlihat Laki-laki tinggi besar berkumis tipis yang tadi menolongku berdiri di pintu masuk kebun. Untuk sesaat netra kami bertemu, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangan kearah anak perempuan itu.
"Ayah ... Lihat deh. Wajah Anteu itu mirip sekali dengan foto, Mamah." Ujar anak manis itu seraya menunjuk kearahku.