Seseorang berdiri menyandarkan punggungnya ke kusen pintu ruangan dapur G Cafe & Resto. Ia fokus memerhatikan tiga orang karyawannya yang tengah bercengkrama hangat di ruangan itu. Cukup lama ia memerhatikan dan mendengarkan percakapan itu. “Ehem ... ehem ....” Reinald mendehem. Ke tiga wanita yang asyik berbincang, seketika menghentikan pembicaraan mereka. Mereka bertiga menatap ke arah sumber suara. “He—eh ... ada pak Reinald? Ma—maaf, Pak.” Ke dua rekan Syifa menunduk dan segera berlalu dari tempat itu. Mereka kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Reinald mendekat ke arah Syifa, “Syifa, kamu sehat?” “Memangnya kenapa, Pak?” jawab Syifa, ia jengah. “Kamu terlihat murung, apa ada masalah?” “Ti—tidak, Pak. Saya hanya merindukan ke dua orang tua dan kakak perempuan saya satu-sat

