Book 2 BAB 8 – Sebuket Bunga

1471 Kata

Syifa meninggalkan ruangan Reinald dengan langkah gontai. Gadis itu tidak mampu menahan deraian air matanya yang membuat mata itu bengkak. Ia dengan cepat berjalan ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya agar rekan-rekannya tidak melihat matanya yang sembab. Berkali-kali Syifa menyeka wajahnya dan memerhatikan wajah itu dari balik pantulan cermin. Ia merutuki nasibnya, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Anita—kakaknya. Mencintai seseorang yang sudah mencintai orang lain. Syifa terus terisak, hingga salah seorang rekannya masuk ke dalam ruangan tersebut. “Syifa, kamu kenapa? Bukankah kamu baru saja keluar dari ruangan pak Rei? Tapi mengapa menangis begini?” “He—eh, aku tidak apa-apa ....” Syifa kembali menyeka wajahnya dan memba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN