Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah empat jam semenjak Reinald membeli buket bunganya dan menunggu kekasih tercinta datang dan menerima buket itu dengan wajah sumringah. Namun, hingga saat ini, buket itu masih terletak manis di atas nakas. Reinald berkali-kali menatap buket itu. Kali ini, perasaannya bercampur aduk, antara khawatir dan juga curiga. Vivi mengatakan jika Andhini akan bertemu dengan calon investor dari Malaysia, apakah ia akan bertemu dengan Ammar? Atau ada mantan kekasih lainnya? Bukankah Andhini dekat dengan beberapa pengusana Malaysia? Tapi ... Ah, tidak mungkin Andhini melakukan hal itu. Aku tahu betul siapa Andhiniku. Tapi kemana dia? Reinald berkali-kali berpikir keras. Pria itu kembali keluar dari kamarnya dan berjalan menuju taman depan rumahn

