Bab 20

1074 Kata
"Masmu ini dilempari batu, bukan digebugi orang sekampung. Kamu berharap ada luka sebesar apa? Lagipula yang kena batu-batu itu punggung. Bukan wajah!" Bayu mengarang sekenanya saja. Jelas dia berbohong. Bahkan jikapun dia benar-benar babak belur di keroyok oleh masa, luka yang dimilikinya tidak akan berbekas juga lebih cepat pulih. Tapi agaknya, Fajar masih menaruh curiga. Maklum, anak remaja, biasa memiliki rasa ingin tahu yang cenderung lebih tinggi. "Masa sih, Mas. Coba Fajar lihat," ucap Fajar sembari bermaksud menanggalkan pakaian Kakaknya. Tapi dengan secepat kilat Bayu menepis tangan adiknya itu. "Hisshh, ngapain sih kamu!" protes Bayu. "Aawww, sakit, Mas. Galak amat, Fajar cuma mau lihat punggung Mas Bayu aja!" jawab Fajar. "Ndak boleh bukan muhrim," celetuk Bayu yang sontak saja membuat Fajar ingin menoyor kepalanya. Tapi tentu saja tidak boleh. Bayu itu Kakaknya, dia sebagai adik tentu harus punya etika juga sopan santun yang tidak bisa disamakan pada kawan biasa. "Hiihhh, mana ada sih, Mas!" protes Fajar dengan kesal. "Ada, ini aku yang buat aturannya," kata Bayu sambil tertawa kecil dengan geli. "Huuhhh, pelit. Fajar mau lihat punggung saja ndak boleh. Bagaimana kalau Fajar mau lihat isian yang lain," cetus Fajar yang sontak saja membuat Bayu melotot. "Maksud Fajar dompet. Isi dompet!" tegas Fajar. "Ya sudah, Mas Bayu lebih baik shalat isya dulu. Biar lebih tenang, Fajar bakal bilang ke Ibu, kalau Mas Bayu sudah siuman dan mau makan," tambah Fajar lagi. "Tapi, Mas sedang ndak ingin makan," bantah Bayu kemudian. "Mas Bayu harus makan. Pingsan dari siang sampai malam seperti orang mati itu, pasti menyerap banyak energi. Fajar bilang ke Ibu dulu." Bocah itu pergi dari kamar Bayu. Sepeninggalnya Fajar dari kamar itu, Bayu tidak buru-buru bangun. Rasanya, ia bagaikan masih berada di alam mimpi. Dalam pikirnya, siapa lagi yang nantinya akan jadi korban. Atau jangan-jangan saat ini keluarganya sedang menjadi incaran. Tuk, tuk, tuk. Bayu menoleh pada kaca jendela yang tertutup oleh tirai. Suara kaca yang diketuk beberapa kali itu, menarik perhatiannya. Sekelebat bayangan melintas dengan cepat dan nyaris tak terlihat. Namun, sepasang mata Bayu yang awas tentu saja bisa dengan mudah menyadari adanya keberadaan seseorang di luar sana. Bergegas pria itu datang ke arah sumber suara, menyibak tirai gorden yang menghalangi, kemudian membuka jendela dengan kedua tangannya. Kepalanya menoleh keluar jendela. Ia lantas melihat ke sekeliling. Hanya ada beberapa pohon pisang dan rumah tetangga yang beberapa meter jaraknya dari tempat ia berada. Sangat gelap. Tidak ada yang bisa ia temukan, akan tetapi saat ia menunduk, ditemukannya gumpalan kertas dengan bercak-bercak merah, seperti darah di bawah jendela. Tanpa sungkan, Bayu memungut benda itu kemudian membukanya. Bukan kepalang terkejutnya Bayu, mendapati tulisan tangan, huruf kapital dengan warna merah darah persis seperti bercak-bercak yang ada di sekitarnya. Bahkan bau anyir dari benda itupun, dapat tercium dengan jelas. "PERTARUNGAN BELUM SELESAI. KEMBALI, ATAU MATI!" Kira-kira, begitulah bunyi dari surat kaleng yang di terima oleh Bayu. Pria menatap benda itu dengan tubuh yang bergetar. Selang beberapa waktu setelah ia yakin tak salah membaca, diremasnya kertas itu dengan penuh rasa geram. "Aarkkkhhhh. Tikus-tikus busuk itu telah menjebloskan ku ke dalam penjara. Aku sudah tutup mulut untuk semua hal. Tapi mereka bahkan masih membuntutiku ke sini. Apa yang mereka inginkan?" Bayu kembali menutup jendela dan tirai. Ia lantas duduk lagi di atas tempat tidur. Otaknya mulai berputar, untuk menyambungkan segala macam kemungkinan yang telah terjadi. Sekarang pria itu sudah mulai paham. Segala hal yang telah terjadi, semua tragedi itu berasal dari sumber yang sama. Tapi kenapa? Apa mereka begitu takut kalau Bayu akan menjadi sebuah ancaman? Rupanya mereka cukup jadi seorang pengecut. Menggunakan orang lain untuk menghancurkan Bayu. Menghilangkan jejak, dengan membuat orang lain terlibat. Meski kali ini, agaknya kematian Toni adalah sesuatu yang tak terduga dan di luar bencana. Bayu mengangkat satu tangannya, lalu menutupi sebelah matanya dengan tangan itu, sementara mata yang lainnya terbuka lebar bahkan menatap tajam dan lurus ke depan. Bibirnya bergerak, seraya berucap lirih. "Racun ular cobra memang mematikan!" *** "Heh ... sudah ku duga. Anak itu kurang sakit jiwa untuk bisa menyeret Bayu dalam masalah!" ucap Damar. Berita akan kematian Toni sampai di telinganya dengan begitu cepat. Pria itu tengah berdiri tegak di lapangan yang luas. Seorang gadis cantik di sebelahnya menyodorkan anak panah pada Damar untuk ke sekian kalinya. Damar memasangkan anak panah itu pada busur panah, lalu menarik string atau tali pada busur dengan 3 jari. Tatapannya lurus ke arah bidikan. Bidikan yang di maksud kali ini adalah sesuatu yang istimewa. Anak buahnya tengah berdiri dengan kaki yang gemetar serta sebuah apel di kepalanya. Sampai pada akhirnya anak panah dilepaskan, maka benda itu melesat dan ... sleb. Tepat mengenai apel yang memang menjadi sasaran dari Damar. "Prok, prok, prok. Hebat sekali, nyaris saja meleset. Kau beruntung, jika tidak, anak buahmu akan berkurang lagi." Hendri bertepuk tangan memberikan selamat. Di usia Damar yang jelas sudah bukan anak muda lagi, sepasang matanya masih tetap awas dalem membidik panah. "Kau tahu istilah mati satu tumbuh seribu?" tanya Damar, sambil kembali menerima anak panah yang diberikan lagi oleh gadis disampingnya. Ia kembali melakukan semua ritual yang digunakannya dalam panahan, kemudian sreet ... Anak panah itu melesat dengan hebat, tapi kali ini benda itu berhasil menggores pipi salah satu anak buahnya. "Yang mati satu, lalu tumbuh seribu," jawab Damar dengan santai. "Iya. Tapi anak buah yang satu ini berbeda. Dia tidak bisa mati, apalagi digantikan oleh seribu anak buah lainnya," balas Hendri. "Ya ... bahkan kau pun gagal. Rencana receh yang kau buat untuk anak itu sama sekali tidak berguna. Bocah yang kau manfaatkan itu sudah mati. Bukan dibunuh, melainkan bunuh diri. Dia mati bukan karena berperang. Selamat, ide mu semakin brilian saja, heh," ejek Damar. "Menyerang mental seseorang adalah ide terbaik. Bocah itu sakit, memicu amukannya adalah sesuatu yang mudah. Tapi siapa yang tahu, kalau dia lebih memilih mati?" ujar Hendri seraya menyeruput jus jeruk. Sambil tumpang kaki, ia menggerakkan tangan. Meminta agar anak buah yang menjadi sasaran panahan Damar, untuk segera pergi. Mereka berada di lapangan alam terbuka, di temani udara sejuk yang seharusnya juga menyejukkan perasaan mereka. Tapi tidak untuk Damar. "Biarkan dia hidup tenang. Jangan usik anak itu lagi. Aku percaya, dia tidak akan membocorkan rahasia kita. Terlebih lagi kelompok Racun Kobra ini. Anak itu pasti lebih pintar untuk tidak mengambil resiko," pinta Hendri pada Damar. Ya ... Hendri memang masih belum mengeluarkan sisi serius dari pemikirannya. Sementara Damar sudah semakin habis-habisan. "Aku tidak pernah percaya pada orang lain. Bahkan pada diriku sendiri!" kata Damar seraya menatap tajam pada kawan di hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN