"Assalamualaikum, Bu ... Bu Darminah!"
Wanita paruh baya yang saat itu tengah membenahi rumah berjalan tergopoh-gopoh dari ruang tengah menuju ruang depan. Seseorang di luar, mengetuk pintu dan memanggil namanya.
Begitu membuka pintu tampak seorang laki-laki dengan kaos oblong biru dan celana pendek hitam berdiri di depan pintu.
"Wallaikumsalam, eh Bono. Ada apa pagi-pagi datang ke rumah. Ayo duduk dulu, Ibu buatkan minum ya?" tawar Darminah kemudian.
"Ndak usah, Bu. Ndak usah repot-repot, Bono ke sini cuma sebentar. Ada yang harus Bono laporkan pada Ibu," ucap Bono dengan wajah yang agak serius.
Darminah mempersilahkan Bono untuk duduk di kursi bambu yang ada di depan rumah. Dari gelagatnya, memang ada yang tidak beres. Bono adalah salah satu buruh serabutan yang di gaji Darminah untuk mengurus tambak ikan. Seharusnya, jam segini adalah waktunya Bono untuk memberikan pakan ikan seperti biasanya. Akan tetapi, pria itu malah ada di sini. Jadi ... sudah pasti ada yang tidak beres sekarang.
"Ada apa Bono?" tanya Darminah kemudian.
"Begini, Bu. Sebelumnya Ibu jangan kaget ya. Tenang dulu, jadi tadi saya bermaksud untuk memberi pakan ikan seperti biasa. Tapi 5 dari 8 kolam ikan Ibu Darminah saat ini, ikannya pada mati, Bu," jelas Bono dengan sungkan.
"Apa? Kamu ndak salah ini Bono?" tanya Darminah dengan kaget.
Bono menggelengkan kepalanya.
"Benar Bu Darminah. Saya juga bingung, Bu. 5 kolam itu adalah kolam yang isinya ikan siap panen semua. Sementara 3 kolam sisanya berisi bibit ikan tanggung yang belum bisa dijaring. Ibu maafkan Bono ya! Bono juga tidak tahu kenapa bisa begini. Bono juga kaget, karena itu langsung ke sini menemui Ibu."
Bono juga memiliki perasaan yang agak takut. Masalahnya, Bono sendiri juga tidak tahu apa-apa. Selain itu Ibu Darminah juga orang yang baik. Dia selalu menggaji Bono dengan manusiawi dan layak. Karena itu, Bono tak sampai hati untuk menyampaikan masalah ini.
"Ndak, Ibu sama sekali ndak menyalahkan kamu. Sekarang, kamu beri makan ikan yang masih selamat ya. Nanti Bayu akan menyusul kamu ke sana. Biar dia yang lihat langsung ke sana," balas Darminah seraya memijat kepalanya yang jadi pening.
Mendadak Bono jadi takut. Bagaimana kalau Bayu menyalahkannya? Apalagi Bayu dulunya terkenal mudah marah dan seringkali memukuli orang kan?
"Anu, Bu. Tolong bilang sama, Mas Bayu. Bono ndak melakukan apa-apa," pinta Bono kemudian.
"Iya, Bono ndak perlu khawatir. Nanti Ibu ceritakan dulu semuanya sama, Bayu ya." Darminah berusaha untuk tersenyum. Padahal beliau benar-benar terkejut. Lima kolam ikan dengan ikan siap panen mati semua. Bagaimana ia akan biasa-biasa saja menghadapi ini.
Bono lantas bangkit dari duduknya, berpamitan pada Ibu Darminah, lalu kembali lagi untuk melaksanakan pekerjaannya yang lain.
Sementara itu, Ibu Darminah masuk kembali ke dalam rumah, kemudian berjalan menuju dapur yang berada di bagian belakang.
Di dapur, ada Bayu yang saat ini masih menggenakan kain sarung dan kaos putih tulang yang longgar. Di tangannya ada sebilah pisau dengan sayuran yang saat ini tengah ia bersihkan. Bayu berniat untuk membuat sarapan pagi ini.
Nasi goreng dari nasi sisa kemarin adalah masakan paling simple yang bisa ia lakukan. Ya, daripada nasinya di buang percuma, lebih baik dimanfaatkan bukan?
Darminah menghampiri Bayu dengan tergesa-gesa, membuat pria itu keheranan dengan keanehan sikap Ibunya.
"Ibu kenapa? Habis melihat apa di luar. Kok wajah Ibu kayaknya panik?" tanya Bayu kemudian. Darminah menarik kursi lalu duduk di samping anaknya dan mulai bercerita.
"Tadi ada Bono ke sini," kata Darminah.
"Bono yang jaga tambak ikan-kan, Bu?" balas Bayu, meyakinkan.
"Iya, Bono yang itu. Dia bilang, ikan-ikan kita banyak yang mati Bayu," kata Darminah lagi.
"Itu biasa, Bu. Memelihara ikan itu nggak akan selalu mulus. Pasti bakal ada yang mati," kata Bayu dengan santai. Pria ini tidak tahu kalau ikan yang mati itu lebih dari sekedar banyak.
"Maksud Ibu banyak ikan yang mati itu, bukan cuma sekedar banyak. Tapi bener-bener banyak. Menurut kamu wajar? Ada lima kolam ikan yang isinya mendadak ngambang semua?" tanya Ibu Darminah dengan gemas.
Bayu meletakan pisau itu dari tangannya di atas meja. Kemudian memasang ekspresi yang sama kagetnya, dengan wajah Darminah saat mendengar berita itu dari Bono.
"5 kolam dan mati semua, Bu? Ibu yakin Bono bilang seperti itu?" Rasanya Bayu hampir tidak percaya. Kemarin sore, untuk melepas rasa penat. Bayu sempat datang ke tambak ikan. Dan semuanya terlihat normal. Kenapa dalam kurun waktu beberapa jam mendadak semua ikan-ikannya mati.
"Ndak kok Bayu. Itu si Bono sampai takut Ibu marahi gara-gara ikan mati. Coba kamu lihat ke sana ya. Apa yang terjadi!" perintah Darminah.
Bayu mengangguk lalu beranjak dari tempat duduk. Ia melepaskan kain sarung yang dikenakannya, menyisakan celana pendek cargo berwarna abu-abu dengan kantung kosong di sisi kiri dan kanan.
"Kalau begitu Bayu ndak jadi masak ya, Bu. Bayu mau langsung lihat saja ke sana!" ujar Bayu kemudian.
"Iya, ini biar Ibu saja yang teruskan. Pulang dari sana, kamu tinggal langsung makan nanti."
Bayu lantas bergegas pergi menuju tempat perkara dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya melewati rumah-rumah warga dan beberapa petak sawah. Tapi kasihan jika harus Darminah yang repot-repot pergi ke sana, karena ada jalan tanjakan curam yang harus di lewati dan akan membuat lelah dengan mudah.
Dan benar saja, begitu Bayu sampai, pemandangan puluhan ribu ikan yang mengambang langsung menyambut kedatangan Bayu. Memang sulit dipercaya kalau ini bukanlah hasil dari tangan-tangan jahil manusia.
Dari kejauhan, Bayu melihat Bono yang tengah memberi makan ikan pada kolam-kolam yang selamat.
"Astagfirullah, orang macam apa yang tega membuat usaha seorang janda hancur begini?" Bayu mengelus d**a. Teringat akan satu kejahilan yang pernah ia lakukan juga. Kejahilan yang mungkin hampir serupa dengan apa yang dialaminya saat ini.
Dulu sekali, Bayu juga pernah berbuat curang pada perkebunan milik seseorang yang tidak ingin di jual. Suatu ketika Bayu mendapatkan tugas guna membujuk seseorang, untuk menjual tanah perkebunan miliknya yang cukup luas. Seorang pengusaha sukses menggunakan jasa Bayu, agar si pemilik perkebunan mau menjual tanahnya.
Akan tetapi, karena si pemilik tanah itu bersikeras tak ingin menjual tanah, maka Bayu menggunakan sedikit jalur kejahilan dengan menebarkan hama serta racun untuk membuat gagal panen. Alhasil si pemilik tanah mau tak mau harus menjual tanah, untuk menutupi segala kerugian juga gaji para buruh yang akhirnya tak bisa di bayar.
Rasanya berdosa sekali saat Bayu mengingat masa lalunya. Kejahatan macam apalagi yang belum pernah ia cicipi sekarang? Apa semua ini adalah bentuk balas dendam takdir karena ia begitu meresahkan di masa lalu.
Tapi tidak ... mana mungkin ada alam yang membuat pembalasan dengan sedemikian akurat. Lima kolam ikan siap panen semua mati dan gagal untuk di jaring. Sementara tiga lainnya tidak terjadi apa-apa seolah ini adalah peringatan. Peringatan bahwa setiap harapan yang sudah berada di titik puncak bisa dengan mudah dijatuhkan.
Bayu teringat perihal surat kaleng yang ia temukan. Semua mulai masuk akal baginya sekarang. Kehadiran mereka tidak sesederhana muncul dan pergi. Hanya saja, satu yang amat Bayu sesalkan. Kenapa keluarganya harus ikut menanggung pembalasan atas kejahatan yang ia perbuat.