"Apa?" pekik Bayu. Dia benar-benar terkejut dengan kabar yang satu ini. "Sssuuuttt!" Guruh meletakkan telunjuk di atas bibirnya. Sontak saja Bayu menutup mulut dengan tangannya. "Apa kau ingin membuat kita dalam masalah?" ujar Guruh kemudian. Bayu menurunkan tangannya. Ia menggeleng kuat-kuat. Dengan rasa bingung yang entah tak tahu lagi harus bagaimana cara meredamnya. "Ta ... tapi, bagaimana bisa? Selama di Jakarta, aku ndak tahu kalau mereka jadi anak buah Damar. Mereka ndak pernah datang ke Jakarta kok!" "Siapa yang bilang mereka ke Jakarta. Mereka bergabung dengan komplotan di sini. Kau sendiri tahu kan, anak buah Damar ada di mana-mana. Sekarang hanya aku yang tersisa di sini. Untungnya orang-orang baru masih memiliki rasa hormat padaku, sebagai pemegang pasar lama. Tapi ... M

