Bab 37

1218 Kata
Wajah Retno memerah, merasa Rani telah mempermalukannya di depan semua orang. Tangan di sisi tubuhnya mengepal. Tapi terlalu dini untuk membuat masalah sekarang. Niatnya saat ini adalah untuk memancing Bayu, membuatnya cemburu dan panas. Bukan untuk pulang dengan hanya menyisakan nama. Kabar Bayu sebagai jawara kampung sudah sering kali terdengar. Retno bukannya tidak tahu akan hal itu. Akan tetapi bukankah sudah sangat jelas. Salah satu kelemahan Bayu terletak pada Rusmi. "Niat baik harus disegerakan. Meskipun masih dua bulan, kami sudah pasti berjodoh. Lagipula, semua orang juga sudah tahu akan hal ini. Jadi ... kamu, Bay, masih punya cukup banyak waktu untuk mempersiapkan hati. Jangan sampai saat aku ijab kabul, kamu malah ngamuk di depan semua orang. Dan mempermalukan diri sendiri," ejek Retno kemudian. "Kau ...!" Rani sudah mulai terpancing. Tapi berbeda dengan Bayu, ia masih bisa menahan emosi meski sesungguhnya ia lumayan geram juga. "Rani ... sudah!" pinta Bayu. Ia menahan lengan Rani, agar gadis itu lebih bisa menahan amarahnya. Rusmi yang sudah semakin merasa malu dan kesal, melepaskan genggaman tangan Retno. Jika bukan karena Bapaknya, mana mau dia repot-repot jalan berdua dengan Retno hanya untuk memanas-manasi pria yang sejujurnya masih sangat ia cintai. "Sudah, aku mau pulang!" ucap Rusmi pada Retno. Ia lalu beralih pada Bayu dan Rani. "Mas Bayu, Rani, aku pamit ya. Maaf sudah membuat gaduh," pamit Rusmi seraya berbalik tanpa menunggu jawaban. "Rus ... Rusmi tunggu dulu. Aahhhh! Awas kau ya!" Retno menunjuk ke arah Rani dan Bayu dengan tatapan tajam. Ia lantas bergegas menyusul Rusmi yang sudah tampak amat kesal. "Huuhh, baru jadi calon mantu Kepala Desa saja sudah sombong. Ini lagi, sudah dibela bukannya bantuin malah sok sok tegar lemah lembut begitu. Katanya mantan narapidana, katanya begal, tapi melawan orang macam begitu saja ndak bisa! Mas Bayu ini malu-maluin nama penjara tahu ndak?" gerutu Rani pada Bayu. Bayu menggelengkan kepalanya, lalu mengelus puncak kepala Rani dengan lembut. "Apa bedanya Mas sama dia nanti. Dia itu hanya ingin membuatku panas. Jika aku terpancing, itu artinya aku kalah," jelas Bayu. "Dan ternyata, malah kamu yang terpancing. Anak perempuan itu harus bisa jaga emosi," tambah Bayu lagi. "Huhh, bukannya terima kasih. Malah dinasehati! Tetap saja, Mas Bayu payah. Ndak bisa melawan!" sanggah Rani dengan sebal. Namun kemudian, terdengar kekehan tawa kecil dari Bayu yang memancing lirikan Rani. "Kenapa Mas Bayu malah tertawa?" Rani bertanya dengan nada ketus. "Ndak apa-apa. Sudah ayok kita jalan. Nanti keburu siang," ajak Bayu. Bayu tertawa bukan tanpa sebab. Selalu ada hikmah dalam sebuah peristiwa. Hatinya memang amat perih dan sakit. Diinjak-injak perihal cinta oleh orang yang akan menikahi mantan pacarnya adalah luka yang sungguh luar biasa. Namun meski begitu, ia bisa melihat betapa Rani begitu membelanya barusan. Rani yang begitu menginginkan kepergiannya, hari ini menunjukan betapa ia peduli pada perasaan Bayu secara tak langsung. Dan untuk saat ini, kebahagiaan itu sudah jauh lebih dari cukup. Bayu harus tahu diri untuk tetap bersyukur dan tidak berharap lebih terlebih dahulu. "Sudah belum?" tanya Bayu pada Rani. "Sudaahhhhhh!" jawab Rani dengan malas. Dan demikian, roda motor mulai berputar membawa Bayu dan Rani untuk pergi menjauh melewati pekarangan rumah. *** Letak pasar dari Desa tempat Bayu bernaung bisa dibilang cukup jauh. Bahkan untuk sampai di jalan raya, tempat untuk memberhentikan angkot pun tidak bisa di tempuh hanya dengan berjalan kaki. Hanya ada beberapa ojeg yang mangkal pada pagi hingga sore hari. Sedangkan untuk malam, jangan harap bisa menemukan kendaraan lain yang melintas. Tak ada obrolan yang berarti di antara Bayu dan Rani selama dalam perjalanan. Ke duanya memilih untuk saling diam, pasrah pada terpaan angin yang mengenai wajah mereka. Bayu memarkirkan motornya di antara ratusan atau mungkin ribuan kendaraan lain. Sudah lama sekali Bayu tidak pernah menginjakkan kaki di sini. Rasanya ada begitu banyak hal yang sudah jauh berbeda. Selain lebih bagus dan luas. Pengunjung juga lebih ramai. Populasi manusia sudah semakin banyak di sini. "Mas, Rani mau keliling dulu ya. Nanti kalau sudah selesai, kita ketemu lagi di sini," pinta Rani dengan semangat. "Iya. Tapi jangan kelamaan. Mas cuma mau beli pakan ikan. Jadi hanya sebentar," pinta Bayu pada Rani. "Sippp." Rani dan Bayu berpisah, berlainan arah. Saat baru beberapa langkah menjauh dari motor, ia dihentikan oleh teriakan seseorang yang memanggil namanya. "Bay ... Bayu tunggu Bay!" Seorang pria dengan perawakan besar datang menghampiri Bayu. Rambut gondrong, janggut tebal, kumis lebar tatapan mata yang tajam serta gaya pakaian ala-ala preman pasar yang garang berdiri di hadapan Bayu. Bayu termenung menebak-nebak, siapa yang saat ini berdiri di hadapannya. "Heh, malah bengong. Lupa kau denganku hah? Sombong sekali, mentang-mentang sudah jadi orang kota rupanya!" Pria itu mendorong bahu Bayu dengan kasar. Tapi bukan dalam konteks mengajak ribut. Bahkan dari gelagatnya pria ini tampak sudah sangat mengenal Bayu dengan akrab. "Assalamualaikum, Bang," ucap Bayu memberi salam. Pria itu menggaruk kepalanya dengan bingung. "Wa ... wallaikumsalam. Eh, Bay. Rupanya sudah tobat kau. Sampai padaku saja mengucap salam," ujar preman itu. "Bang, aku sungguh tidak ingat. Abang ini siapa?" tanya Bayu kemudian. "Hiishh, aku ... aku ini Guruh," tunjuknya pada diri sendiri. "Bagaimana mungkin kau bisa lupa. Kita dulu lari dari kejaran polisi bersama-sama. Kita makan sepiring bersepuluh saja pernah," jelas laki-laki bernama Guruh itu. "Guruh ... Guruh, rupanya kamu Bang. Ya ampun!" Keduanya saling berpelukan seperti sepasang kawan yang sudah sangat lama tak pernah saling bertemu. Ya ... sebenarnya itu memang benar. Mereka berdua dulunya kawan satu kelompok yang sempat terpisah karena keinginan Bayu untuk merantau ke Ibu kota. "Makin gagah pula kau rupanya, Bay. Kapan kau bebas dari penjara! Aku dengar dari kawan yang lain. Kau ditangkap di rumah?" tanya Guruh. "Ya begitulah. Sudah sudah, jangan bahas soal aku. Di mana kawan kita yang lain sekarang?" "Kita bicara di pos sana. Semua orang sedang memperhatikan kita sekarang." Guruh mengajak Bayu untuk duduk di salah satu pos pasar. Di sana, Bayu juga sempat bertemu dengan para pemuda pemegang pasar yang kini sudah tak muda lagi tapi pernah ia kenal sebelumnya. Tapi kemudian mereka meninggalkan Bayu dan Guruh. Memberikan ruang agar ke dua kawan itu bisa bersenda gurau setelah bertahun-tahun tidak bertemu. "Aku sudah hampir tidak kenal pada mereka," seru Bayu. "Tentu saja. Kita semua sudah makin berumur. Kau lihat, rambutku ini sudah mulai memutih." Guruh melepaskan ikatan rambutnya yang gondrong. Kurang lebih 10tahun perbedaan umurnya dengan Bayu. Tapi secara fisik Bayu dan pria ini sangat jauh berbeda. "Bang Guruh masih tetap gagah seperti dulu. Sekarang ayo ceritakan, di mana kawan kita yang lain." Raut wajah Guruh berubah serius, ia mendekat pada Bayu seraya mulai bercerita soal nasib para pemegang pasar sebelum Bayu menghilang. "Ingat pada Jaka dan si Kemed, mereka masih beroperasi di kebun karet. Jalan sepi alternatif menuju Ibu Kota, yang biasa dilalui truck besar," tegas Guruh. Bayu memasang mode serius untuk mendengarkan. "Si Baron, sekarang punya usaha berkebun sendiri. Dia kembali ke kampung halamannya." "Si Roni, anak itu aku tidak tahu di mana kabarnya. Terakhir ku dengar, dia merantau ke luar pulau Jawa, tapi entah ke mana!" Guruh terdiam, ia tidak melanjutkan cerita yang lain. Padahal saat ini, Bayu sedang menunggu dua nama lagi yang belum Guruh sebutkan. "Bang Guruh kenapa tiba-tiba diam. Lalu ... bagaimana dengan Bang Jael dan Choky?" tanya Bayu kemudian. Guruh melihat ke sekelilingnya, sebelum ia menjawab, "Jael dan Choky, mengikuti jejakmu. Mereka ikut bergabung dengan komplotan anak-anak Cobra. Menjadi anak buah Damar. Dan menjadi pengedar di Kota ini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN