Bab 34

1046 Kata
Rusmi melepaskan cengkraman tangan Retno alias calon suaminya dengan paksa. Setelah melirik dengan sebal ia berlari untuk masuk ke dalam rumah. Retno ikut mengejarnya lagi hingga tangannya kini kembali meraih tubuh gadis itu begitu sampai di dalam rumah. "Kamu ini apa-apaan sih, Rus. Kamu harus ingat dengan jelas. Kamu itu milikku. Ndak seharusnya kamu malah jalan dengan mantan narapidana itu!" sentak Retno. "Salah! Kamu salah! Aku ini ... bukan milik siapa-siapa. Kamu baru jadi calon yang masih belum pasti jadi suamiku," jawab Rusmi dengan tegas. "Hooohhh, berani melawan sekarang kau rupanya. Kamu sudah ndak takut lagi kalau keluargaku berhenti menyuntikkan dana pembangunan untuk Desa ini lagi? atau ... kau juga sudah tidak takut lagi kalau Bapak mu ndak terpilih dalam periode kali ini? sudah siap jadi warga biasa kau rupanya, hah?" Pernyataan Retno membuat Rusmi kesal. Tapi meski begitu, gadis itu tidak mengamuk atau menunjukkan sebuah kekesalan yang anarkis. Rusmi justru dengan sengaja tertawa terbahak-bahak sekarang. "Haha haha, ya ampun. Kamu ini ya ... Retno ... Retno. Heran aku, uangmu banyak. Aku tahu itu. Tapi otakmu jelas kalah dengan pacarku," tunjuk Rusmi pada arah lain yang dimaksudkan untuk Bayu. Dan kali ini, Rusmi sudah terang-terangan untuk berkata pada dunia kalau Bayu adalah kekasihnya. Ia mulai muak dengan keadaan yang memaksanya untuk menyerah pada segala hal. "Hey, jangan pernah kamu bandingkan aku dengan narapidana itu!" Kemarahan Retno mulai tersulut lagi sekarang, mendengar Rusmi dengan jelas membela Bayu tanpa sama sekali ada rasa takut padanya. "Ciihh ...! Kalau bukan karena harta keluargamu, kamu pikir Bapak mau punya menantu sepertimu ini?" tegas Rusmi. "Rusmi! Masuk ke kamar. Sekarang!" Bapak Kades yang baru saja datang langsung memerintahkan Rusmi untuk masuk ke dalam kamar. Jika sudah menyangkut sang Bapak, gadis itu juga enggan melawan. Bukan karena takut. Ia hanya menghormati sang Bapak yang merupakan Ayah kandungnya sekaligus pimpinan Desa tempat tanahnya berpijak. Lagi pula, tak ada gunanya Rusmi melawan ia tetap saja akan kalah sebagai seorang perempuan di sana. "Terserah Bapak saja. Baik dan buruknya nasib Rusmi itu Bapak yang mengatur," ujar Rusmi seraya berbalik dan masuk kamar. Menyisakan dua orang pria yang tak habis pikir. Sebegitunya Rusmi ini membela Bayu. "Nak Retno ndak usah khawatir. Watak Rusmi itu memang paling keras. Itu karena dia perempuan yang berpendidikan. Yang penting, dia itu tetap paling takut dengan Bapak. Kalian pasti akan tetap menikah," tegas Bapak Kepala Desa itu, sembari menepuk bahu Retno. "Sebaiknya begitu, Pak. Karena kalau pernikahan kami sampai gagal. Jangan harap keluarga saya akan membantu Bapak lagi." *** Bayu pulang dengan perasaan tak menentu. Entah apa ini namanya. Kesal, kecewa atau marah. Yang jelas otaknya buntu sekarang. Pria itu langsung masuk ke kamar, dan mendapati Satria yang sedang rebahan di atas tempat tidur miliknya sambil memainkan ponsel. "Assalamualaikum." Bayu mengucap salam, lalu duduk begitu saja. Ia tertunduk setelah mengusap kepalanya dengan gusar. "Wallaikumsalam. Heh ... kenapa kamu!" Satria mematikan ponsel. Lalu bangun dan ikut duduk bersama dengan Bayu. Namun, Bayu enggan menjawab. Teringat pada kenyataan bahwa betapa rendahnya harga diri pria itu di masyarakat, membuatnya bergeming. Dia begitu merasa, pantaslah jika seorang Bapak Kepala Desa melarang keras putrinya untuk berhubungan dengannya. Jangankan sebagai sepasang kekasih. Sebagai kawanpun, rasanya pasti akan mustahil. "Ciihh, kau ini. Bukannya menjawab malah diam saja. Coba sekarang ceritakan, bagaimana tadi perjalananmu mengantarkan, eehhmm ... siapa ya itu tadi, Rus ..." "Rusmi!" potong Bayu kemudian. Dengan amat kesal. "Iya itu maksudku. Halllaah, kau jangan emosi dulu donk. Jadi bagaimana?" Satria justru terdengar amat antusias dan penasaran. "Buruk! Sangat buruk!" Bayu terdengar amat yakin dengan perkataannya. "Wahhh, mengecewakan. Aku dan Fajar sudah memberimu kesempatan. Tapi ... malah kau lepas begitu saja. Dasar aneh." Satria kembali merebah untuk memainkan ponsel lagi. Bayu merasa terpancing. Memangnya siapa yang ingin membuat kecewa, siapa juga yang memaksanya untuk memberikan kesempatan. "Memang apa yang kamu tunggu hah? Apa yang membuatmu kecewa. Aku ini hanya mengantarkan Rusmi pulang. Dia anak Kepala Desa, aku sebagai warga yang baik hanya bertindak atas nama Negara!" tegas Bayu. Sontak saja hal ini justru membuat Satria tertawa. Asumsi ngawur dari mana itu. Jelas-jelas kalau Bayu itu sangat mengkhawatirkan Rusmi, karenanya dia mau mengantarkannya tadi. "Atas nama Negara gundulmu. Negara mana yang sedang kau bicarakan itu. Ya ampun Fajar dan Rani punya Kakak yang begitu aneh. Fajar yang umurnya masih sangat muda itupun, bisa menebak dengan jelas. Kau memperlihatkan sebuah perasaan di dalamnya." "Berhentilah Satria. Aku tidak ingin membahas itu. Masalahku dengan Damar saja sudah membuatku pusing. Sekarang malah ditambah dengan masalah percintaan yang tidak berujung!" "Kau yakin? Mau menyerah. Sebelum janur kuning melengkung dia masih bisa jadi milik siapa saja," tanya Satria. "Jangan samakan ini dengan Jakarta. Kau dan duniamu itu jelas berbeda," tegas Bayu dengan dingin. Jika nada jawaban Bayu sudah seperti ini, artinya dia sudah tidak bisa diganggu lagi. Dan Satria tahu akan hal itu. Pembahasan soal Rusmi tidak perlu diteruskan, sebelum Bayu memiliki niatan untuk membuat tulang-tulang Satria patah. "Aku nggak akan membahas itu lagi. Tapi sebelum itu ...." Satria beranjak dari tempat tidur. Ia membuka tas miliknya yang ada di samping tempat tidur. Lalu mengeluarkan sesuatu. "Ini, jangan ditolak!" Satria menyerahkan sebuah kotak berisikan ponsel untuk Bayu. Bayu merengut dengan tak paham. "Untuk apa kamu memberikan ini? Aku tidak mau!" tolak Bayu mentah-mentah sembari menyodorkan benda itu kembali pada Satria. Tapi Satria mendorongnya kembali. "Hhiissh, kamu jangan susah diajak kerja sama. Pokoknya terima ini!" paksa Satria. Bayu masih tidak paham. Untuk apa Satria memberikan sebuah ponsel. "Aku memang miskin, Sat. Tapi bukan berarti ndak mampu. Kalau hanya ponsel aku masih bisa beli. Aku hanya belum ingin memilikinya!" "Aku tahu. Kau nggak ingin memilikinya, karena itu sampai lebaran-pun kamu nggak akan membelinya. Kamu pikir aku nggak tahu watak anehmu itu seperti apa?" Satria berdiri, lalu menatap ke arah Bayu yang saat ini ikut menengadah, mengangkat kepalanya membalas tatapan Satria. "Besok aku akan pulang. Mata-mata Damar ada di sini! Kamu harus berhati-hati. Karena aku gagal membawamu, aku pasti akan mendapat masalah. Mungkin, aku akan butuh bantuanmu." Bayu dilanda sebuah keraguan. Akankah dia percaya pada sahabatnya. Yang juga anak buah dari musuhnya. "Atau mungkin kau yang akan membutuhkanku. Karena orang-orang di sekitarmu sekarang sudah tidak aman lagi. Di situ, sudah ada nomer ponselku. Kamu tinggal menghubungiku bila perlu. Mulai sekarang, cobalah untuk waspada. Jaga Fajar, Rani, Ibu dan juga ... Rusmi-mu itu," tutur Satria dengan serius pada Bayu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN