Bab 35

1095 Kata
Bayu memandangi ponsel dari Satria. Sahabatnya itu telah pulang hari ini. Sebelum pria itu meninggalkan Bayu, ia juga sempat berpesan, "Ingat ya, ku katakan, Bay. Hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu! Kamu nggak sendiri di sini. Saat kita sudah memilih untuk menjadi anak buah Damar, maka sampai mati dia akan tetap mengikuti kita. Jaga keluargamu, perasaanku nggak enak!" Bukannya meninggalkan kesan yang baik sebelum pergi Satria Justru membuat Bayu harus berpikir keras. Tanpa Satria ingatkanpun, Bayu sudah tahu. Hidupnya di sini sudah sangat tidak aman. Dan itu juga berlaku buat keluarga dan orang terdekatnya. Tapi sulit bagi Bayu untuk mempercayai siapapun saat ini, setelah berkali-kali ia dihianati. "Maaf, Sat. Tapi aku hanya percaya pada diriku sendiri. Tidak ada yang menjamin kalau kamu ndak meletakkan sesuatu di hp ini," gumamnya pada diri sendiri. Ia kembali memasukkan benda itu ke dalam kotak, tanpa menyalakannya terlebih dahulu, lalu menyimpannya di dalam laci. Tepat di saat itu pula, Rani datang menghampiri. Ia masuk ke dalam kamar Kakaknya begitu saja tanpa mengetuk pintu. Akan tetapi, kali ini pintu kamar pria itu jelas sedang terbuka. Sehingga tidak ada insiden ketidak-sengajaan lagi yang mengejutkan ke duanya. "Waw, hp baru tuh, Mas. Haram apa halal tuh?" celetuk Rani sekenanya. Bayu menoleh pada Rani setelah meletakan ponselnya di dalam laci. Gadis itu bersandar pada dinding. Dengan tangan yang bersidekap, melipat kedua tangan di depan dadanya. "Perkara halal atau haram. Bukan kita yang menentukan, Ran. Mas Bayu sedang ndak ingin beradu mulut dengan kamu. Pergilah!" usir Bayu dengan halus pada Rani. Rani mendelik dengan sebal. "Temanmu itu, Mas. Sudah sangat jelas mata keranjang. Dia terang-terangan menggoda Rani beberapa kali," tegas Rani kemudian. Bayu tidak heran. Adiknya cantik dan Satria memang orang yang seperti itu. Tapi Bayu yakin, yang dia lakukan itu, memang hanya sekedar untuk menggoda Rani saja. Bukan untuk benar-benar dijadikan pemuas nafsu semata. Tapi ... kenapa Bayu jadi percaya pada Satria. Bukankah sebelumnya, dia menyimpan kecurigaan? Apalagi Bayu sangat tahu kalau Satria itu adalah salah satu kawannya yang memiliki prestasi cukup bagus di kalangan wanita. "Terus kamu tergoda?" tanya Bayu dengan santai. "Hah, maksudnya aku?" tunjuk Rani pada diri sendiri. "Haha haha, ya ndak mungkin lah. Untuk apa, Mas. Mas Satria itu memang ganteng. Tapi dia sudah punya istri," tambah Rani lagi sambil mengerdikkan bahu. Bayu menahan tawanya. Ia mulai paham sekarang. Rani mungkin hanya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Bayu. Mungkin terkadang ada sebuah keinginan di dalam dirinya untuk bisa saling bicara atau bertukar pikiran layaknya seorang Kakak dan Adik yang normal seperti dulu. Tapi Bayu sadar, jarak yang telah memisahkan mereka selama ini juga akibat dari perbuatannya sendiri. "Jadi ... secara ndak langsung. Kamu sedang mengakui kalau Satria itu laki-laki yang ganteng versi dirimu sendiri?" ujar Bayu lagi. "Ihhh ndak gitu!" gerutu Rani dengan kesal. Melihat adiknya yang sudah mulai terpancing emosi, membuat Bayu melepas tawa. Ia sudah tidak mampu lagi untuk menahannya. "Ha ha ha, ya sudah. Ndak perlu marah lagi. Sebenarnya kamu hanya sedang butuh teman untuk ngobrol,'kan?" Bayu bertanya dengan dengan mengangkat sebelah alisnya ke atas. "Jangan geer. Rani cuma mau tanya. Kapan tepatnya, Mas Bayu pergi dari sini. Bukannya kemarin Mas Bayu sudah berjanji untuk meninggalkan rumah ini, hah? Jadi kapan tepatnya Mas Bayu benar-benar akan pergi?" Pertanyaan Rani seolah membuka mata Bayu selebar-lebarnya. Rupanya Rani masih begitu bersemangat untuk meminta Bayu angkat kaki dari rumah itu. Tapi ini sama sekali belum saatnya. Apalagi, Bayu sudah terlanjur menetap, dan membuat musuh-musuhnya tahu bahwa dia masih hidup dan kembali lagi di rumah. Tidak ada yang bisa menjamin, jika Bayu pergi dari rumah maka kehidupan keluarganya akan kembali tenang. Bisa saja mereka mencelakai keluarga Bayu, justu di saat Bayu sedang lengah dan pergi. "Kamu begitu menginginkan kepergianku, Ran?" tanya Bayu memastikan. "Sangat! Rani sangat menantikan hal itu!" jawabnya dengan yakin. Bayu menarik nafas dengan tak jelas. Rasanya agak menyakitkan. Mendengar ada seseorang yang begitu menunggu kepergian kita. "Tunggulah sebentar lagi. Tapi saat Mas pergi, tolong jangan sampai kamu keluarkan air mata nantinya," jawab Bayu. "Ku tagih janji itu, Mas!" Rani berujar lalu pergi dari kamar Bayu. Ia kembali ke kamarnya lalu mengunci pintu. Rani bersandar di balik pintu, merenguh dadanya yang terasa nyeri sekarang. Kenapa? Bukankah itu yang dia inginkan? Kepergian Bayu adalah hal yang ia nantikan sejak lama. Lantas kenapa sekarang apa yang ia ucapkan, seolah berbanding terbalik dengan isi hatinya. *** Darminah tampak agak murung hari ini. Di dalam kamar, wanita itu sedang memandangi isi lemarinya pakaiannya yang saat ini sudah berada di atas tempat tidur. Sembari merapikannya kembali, wanita itu memeriksa satu persatu setiap kantung atau saku yang ada pada semua pakaiannya. "Aneh ... rasanya aku ndak pernah memindahkan uang itu. Ndak biasanya aku kehilangan uang di lemari," ujarnya pada diri sendiri. Bayu yang saat itu memang ingin menemui Darminah mengetuk pintu kamar wanita itu terlebih dahulu. Tok ... tok ... tok. "Bu, Ibu. Bu, Bayu boleh masuk," izin Bayu. Darminah menjawab dari dalam kamarnya, mengizinkan Bayu untuk masuk, "Masuk, Ndok." Bayu membuka pintu dan langsung memicingkan mata, mendapati kamar Ibunya yang agak berantakan. Pakaian dan barang-barang Darminah ada di tempat tidur dan lantai. "Loh, Bu. Ini kenapa semuanya di keluarkan dari lemari?" tanya Bayu dengan heran. Saking herannya, Bayu sampai lupa pada niat awalnya untuk menemui Darminah. "Ehm, ini loh, Bayu. Uang Ibu ndak ada. Ndak tahu hilang atau terselip di mana?" kata Darminah. "Hilang? hilang di mana, Bu?" Bayu mendekat ke arah Ibunya dengan mata berkeliling ke segala arah. "Kalau Ibu tahu hilangnya di mana. Pasti sekarang sudah ketemu." Darminah mengembuskan nafas dengan pasrah. Ia sudah merasa ikhlas. Tapi tetap saja agak sesak. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Tapi masih cukup untuk biaya dapur keluarga selama seminggu. Darminah menyadari uangnya hilang, karena sebelumnya dia juga memang berniat untuk membeli bahan masakan ke warung dengan menggunakan uang itu. "Ibu yakin ndak salah simpan? mungkin ada di mana gitu. Berapa uang yang hilang? apa semuanya? atau masih ada sisa? atau Ibu pernah kehilangan uang juga sebelumnya?" Bayu jadi penasaran hingga mencecar Ibunya dengan berbagai pertanyaan. Darminah menggelengkan kepalanya pelan. "Ndak pernah. Ini pertama kalinya, uang Ibu hilang. Yang hilang ini hanya uang belanja untuk seminggu ke depan yang sudah Ibu pisahkan. Untung sisanya masih ada. Mungkin Ibu lupa di mana meletakannya." Bayu masih kurang puas dengan jawaban Darminah. Tapi karena tidak ingin membuat Ibunya khawatir, Bayu lantas berhenti bertanya. Ia membantu Darminah untuk merapikan kembali barang-barang yang sudah membuat kamar Ibunya berantakan. Disisi lain, ada Fajar yang juga tak sengaja mendengar percakapan tersebut berdiri di balik dinding. Ia menggigit bibirnya, lalu buru-buru pergi meninggalkan tempatnya berpijak setelah mendengar tak ada lagi bahasan soal uang yang hilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN