2. Misteri Kado Pernikahan

1403 Kata
Di dalam perjalanan menuju kediaman Aileen itu, panggilan dari Danial masuk pada ponselnya. Dengan segera Aileen mangangkat dan mengatur volume serendah mungkin, supaya Oliver tidak dapat mendengarnya. “Hadiah pernikahannya, sudah kamu kasih?” Tidak ada sapaan basa-basi, Danial langsung bicara to the point. “Belum,” jawab Aileen singkat. “Kenapa belum?” Sangat tidak tepat waktunya jika Aileen mengatakan bahwa pernikahannya pun mungkin tidak akan diselenggarakan, tetapi Ia tahan. Mengingat Oliver yang saat ini berada disebelahnya. Entah apa yang akan Laki-laki itu lakukan, jika mendengar Aileen menggosipkan dirinya. Yang ada Oliver semakin besar kepala, dan menganggap Aileen terlalu ikut campur. “Ini masih dijalan.” Setidaknya untuk jawabannya yang ini Aileen tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang lagi di jalan kan. “Oke deh. Tolong sekalian pastiin Oliver membukanya sebelum nanti malam.” “Ya,” sengaja Aileen menjawab cepat-cepat supaya Kakaknya segera menutup panggilan, sebelum Oliver mengeluarkan suara dan membuat Kakaknya curiga. Tetapi sepertinya tidak akan, karena Oliver menyibukkan diri sengan ponselnya. “Kakak tutup dulu telponnya, masih ada kerjaan. Bye.” Sedetik kemudian, Danial benar-benar memutus panggilan mereka. Tapi tunggu… Tidakkah Kakaknya jadi sedikit aneh? Aileen menatap layar ponsel yang sudah menggelap dengan mengerutkan kening. Bagaimana tidak aneh, sementara di awal pembicaraan saja Kakaknya itu mengatakan ‘hadiah pernikahannya sudah kamu kasih?’ dimana kata-kata tersebut merajuk pada Oliver yang berperan sebagai penerima hadiahnya secara langsung. Padahal seingatnya, Kakaknya itu memerintahkan, untuk menyimpan hadiah tersebut dibelakang kursi pelaminan. Itu berarti kata-kata yang pas untuk mempertanyakannya adalah. ‘hadiah pernikahannya sudah kamu simpan di tempat yang Kakak intruksikan belum?’ catat! Belum kamu simpan. Bukan belum kamu kasih. Lagipula Danial tahu pasti, kalau Aileen akan menolak segala jenis perintah jika didalamnya harus bertemu dengan Oliver. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Mungkin Kakaknya itu memang tengah banyak kerjaan, hingga tidak dapat fokus. Oh ya, saat ini Danial tengah berada di Australia. Itulah sebab, kenapa dia hanya bisa memberikan hadiah melalui tangan orang lain. *** “Biar Pria ini yang akan membayarnya ya. Pak.” Aileen buru-buru keluar, begitu Taxi berhenti di depan mansion keluarganya. Perempuan itu harus segera berbicara dengan Ibunya, supaya tidak memercayai kata-kata yang akan diucap Oliver nanti. Aileen harus mencegah, agar segala rencana Oliver yang melibatkannya tidak ada yang berhasil. Sang Mami harus benar-benar melindunginya dari pernikahan itu. “Mami….” Aileen memanggil dengan pandangan yang mencari sosok Ibunya kesana kemari. “Mami…,” panggilnya sekali lagi. Namun tetap nihil, tidak ada tanda-tanda jika sang Ibu akan menimpali panggilannya. Dimana sebenarnya wanita itu? Tadi Aileen sudah memeriksa ke taman belakang, biasanya pada jam-jam makan siang seperti ini Ibunya akan ada disana. Tetapi nihil. Pencarian Aileen pun berlanjut ke kamar orangtuanya. Tetapi disana pun tidak ada. Lalu beralih dengan mengitari seisi mansion, bertanya pada para pekerja yang memberi reaksi serupa, kepala menggeleng dengan jawaban ‘tidak tahu. Non’ dengan kompak. “Coba deh ku telpon, siapa tahu Mami lagi megang handphone.” Aileen mengotak atik ponselnya sebentar, sebelum kemudian mendekatkannya pada telinga. “Iya, halo sayang?” untung saja, Ibunya langsung mengangkat panggilan. “Mami dimana? Aku udah nyari Mami kemana-mana, tapi—“ “Kalau gitu saya pamit dulu ya, Tante. Ada rapat yang harus saya hadiri dengan segera. Permisi.” “Iya, Nak. Hati-hati.” Oh astaga, ketakutan Aileen kini benar-benar telah terjadi. Suara yang barusan didengarnya itu jelas-jelas milik Oliver. Arggghhh! Bisa-bisanya Laki-laki itu yang menemukan keberadaan Ibunya terlebih dulu. “Dari tadi Mami di depan, sayang. Memang sengaja nunggu kedatangan kalian. Mami malah mikir kamu yang ingin menghindar. Jadi ya sudah, Mami biarkan kamu masuk gitu aja.” Aileen lebih tertarik pada ucapan sebelumnya. “Sengaja nunggu kedatangan kalian?” tanyanya memastikan. “Maksudnya, Mami sudah tahu kalau aku akan pulang sama orang lain, begitu?” “Iya. Kan sebelumnya Oliver sempat ngirimin Mami pesan, juga. Dia meminta Mami untuk nunggu di depan, katanya ada yang ingin kalian sampaikan. Berhubung kamu masuk lebih dulu, jadi Oliver hanya menyampaikan maksud kedatangannya sendirian. Ngomong-ngomong Mami benar-benar gak nyangka, kalau kamu sudah jatuh cinta sama Oliver.” “Mami bicara apa, astaga? Siapa juga yang cinta sama laki-laki modelan begitu?” Aileen benar-benar emosi mendengarnya. Berani-beraninya Oliver membohongi Maminya dengan mengatakan kebohongan yang menjijikan. Dan entah berapa banyak lagi kebohongan yang telah dikatakan demi memenuhi semua rencananya. Dasar Lelaki licik yang penuh tipu daya. Satu hal yang perlu Aileen akui, disini Oliver cukup cerdas karena bergerak selangkah lebih cepat dalam menarik kepercayaan Maminya. “Udah … gak usah malu-malu di depan Mami. Pantas saja, setelah putus dari pacarmu lima tahun lalu, Mami gak pernah melihatmu berpacaran lagi. Ternyata nungguin Oliver toh?” “Mamiiii stop. Kalau Mami lebih percaya kata-kata Oliver, aku tutup nih telponnya.” “Tutup saja ayo, lagian Mami sudah ada di belakangmu.” Dengan cemberut Aileen menjauhkan ponsel dari telinga, kemudian mematikan panggilan dengan setengah emosi. Ia mencebik kesal, menatap kemunculan sang Ibu yang menyunggingkan senyum menggodanya. “Cie, yang tiap ketemu pura-pura bertengkar hanya untuk menutupi perasaan masing-masing. Cie.” “Mami ih.” Aileen merajuk dengan menghentakkan kaki. “Cie, yang besok mau jadi Nyonya dari Tuan Oliver. Cie….” Perempuan itu tidak berhenti menggoda anak Perempuannya. “Pokoknya awas aja kalau Mami menyetujui permintaannya.” “Masa ada yang lamar kamu, Mami tolak?” “Buang saja aku dari keluarga kalian, buang!” Tolong beri tahu Aileen, bagaimana Iagi meyakinkan Maminya kalau Ia dan Oliver benar-benar dua orang musuh yang tidak dapat disatukan dalam ikatan pernikahan. Sebenarnya perjodohan sudah menjadi hal lumrah dalam keluarganya, karena anak-anak dari kolega-kolega bisnis Papinya sudah sering melakukan hal tersebut. Menikah karena di jodohkan dengan alasan memperluas jaringan bisnis. Tetapi tidak pernah sekalipun Aileen berpikir, bahwa hal tersebut akan dialami juga olehnya. Dari sekian banyak anak kenalan Papinya, kenapa harus Oliver yang harus terjebak dengannya. Padahal Lelaki yang lebih ganteng dan lebih menarik masih banyak. “Aileen.” Maminya berteriak dari bawah tangga. Aileen tidak tertarik untuk menimpali, lebih memilih melanjutkan langkah agar segera sampai ke kamarnya. “Kata Oliver makasih, karena kamu sudah mau menyelamatkannya dari rasa malu yang mungkin akan ditanggungnya seumur hidup.” Langkah Aileen terhenti seketika. “Oliver? Bilang makasih?” Perempuan itu menyeringai. “Gak. Aku gak percaya.” “Mami serius. Dia benar-benar berharap kamu bisa mendampinginya di pelaminan esok hari.” “Itu hanya akan terjadi dalam mimpinya.” Entah berapa kali Aileen harus menggunakan kata-kata seperti itu sebagai bentuk penolakannya. “Katanya kamu mencintainya? Jangan sampai kamu kehilangan cintamu lagi, Aileen.” Bodo amat! Aileen malas meladeni tuduhan Maminya lagi. Percuma saja Maminya bertanya, jika ucapan Aileen tidak ada yang dipercayainya sedikitpun. *** Di dalam kamarnya yang luas ini, Aileen termenung. Sedikit mengernyit memerhatikan kotak hadiah milik Danial. Ia jadi penasaran, sebenarnya apa isinya. Mengingat ukurannya yang begitu kecil. Tidak mungkin jam tangan, karena ini terlalu ringan. Tidak mungkin juga obat kuat, karena didalamnya tidak terdengar suara sedikitpun—tapi tunggu. Apa yang dipikirkannya barusan? Obat kuat? Astaga, Aileen. Bisa-bisanya otakmu sampai ke sana. Kalau para perempuan kan biasanya akan saling memberi hadiah berupa perhiasan, pakaian, tas, sepatu, heels, atau tergantung pada apa yang menjadi barang favorit si penerima. Jadi Aileen pikir, para Pria pun tak akan jauh berbeda. Tetapi dalam kotak yang panjangnya hanya 15centi ini, seperti tidak ada tanda-tanda adanya sebuah benda. “Apa isinya selembar cek ya? Tapi kan kalau sejumlah uang, Kak Danial bisa men-transfernya langsung,” perempuan itu bergumam dengan tangan yang tanpa sadar sudah membuka ikatan pita yang melilit kado. Bodo amat jika Danial marah. Lagi pula pernikahan Oliver sepertinya akan diundur sampai beberapa tahun yang akan datang. Jadi tidak salah kan jika Aileen sedikit mengintip isinya. “Lah, hadiahnya Cuma berisi beberapa lembar foto doang. Dimana letak berharganya coba?” suara Aileen semakin mengecil seiring dengan isi foto yang berhasil dilihat sepenuhnya. Foto-foto tersebut memperlihatkan hal-hal yang berbeda. Ada yang memperlihatkan Aileen ketika menemukan Caroline tengah berselingkuh dengan kekasihnya beberapa tahun silam. Ada juga foto Aileen yang hampir dibuunuh oleh Caroline dengan dilemparkan dari atas jembatan dan yang terakhir, menampilkan Caroline yang tidur seranjang dengan Pak Gabriel, yang merupakan Ayah kandung dari Oliver. “Astaga. Bisa-bisanya Caroline menggoda Pria beristri juga.” Aileen benar-benar tidak habis pikir. Dengan tangan bergetar, Perempuan itu membalik foto yang terakhir. Disana terdapat sebuah tulisan tangan yang sudah sangat Aileen kenali. Menikahlah dengan Aileen. Balaskan dendam kalian berdua dengan pernikahan itu. Tidak perlu memikirkan kepergian Caroline. Tenang saja, saat ini dia aman ditanganku. (Danial Fletcher Williams) ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN