bc

Dinikahi Musuh Bebuyutan

book_age18+
1.0K
IKUTI
4.3K
BACA
HE
kickass heroine
heir/heiress
tragedy
bxg
brilliant
affair
substitute
like
intro-logo
Uraian

Sehari sebelum menikah, calon Istri Oliver mendadak hilang dan memutus hubungan mereka lewat sebuah pesan.

.

Kepergiannya berhasil menggagalkan serangkaian acara yang sudah 95% dipersiapkan.Oliver langsung menyimpulkan, bahwa kepergian sang calon Istri disebabkan oleh ancaman yang telah dilakukan Aileen.

.

Karena hanya dialah satu-satunya Perempuan yang menentang hubungan Oliver dan Caroline sedari awal. Entah itu mengatakan Caroline terlalu tua lah, bibir Caroline seperti bebek lah, dan masih banyak hinaan yang lainnya.

.

“Aku benar-benar gak melakukan apapun, Oliver. Sumpah!”

Tetapi Oliver bukanlah Lelaki bodoh yang mudah dikelabui oleh kata-kata seperti itu. Sebagai hukumannya, Ia memaksa Aileen untuk menggantikan posisi Caroline di pelaminan, esok hari.Ya. Dengan kata lain Oliver meminta Aileen untuk menjadi Istrinya.

.

Tentu saja kedua orangtua mereka langsung setuju, mengingat hubungan baik yang sudah terjalin sedari lama. Hubungan baik itu juga yang membuat perangai Oliver dan Aileen bak tikus dan kucing setiap kali bertemu.

.

Rumah tangga keduanya tidaklah berjalan baik. Tiada hari yang dilalui tanpa bertengkar hingga semakin membenci satu sama lain. Memang inilah tujuan Oliver sedari awal, membalaskan dendam dengan menyakiti Aileen selama yang Ia bisa.

.

Lantas, bagaimana jika suatu hari Caroline datang dan membeberkan alasan yang sebenarnya?

.

Akankah Oliver merasa bersalah?

.

Atau justru mengakhir pernikahan lalu kembali bersama sang kekasih hati?

.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Perginya Calon Istri
Suasana di dalam Ballroom mewah sebuah hotel itu cukup menegangkan dengan seorang Pria yang tengah melemparkan bunga-bunga hias tak tentu arah. “Bisa-bisanya kau meninggalkanku Caroline. Argggghhhh….” Teriaknya frustrasi. Lalu dibantingnya kursi-kursi besi yang sudah disusun sedemikian rupa melingkari meja. Merasa belum puas, Oliver melanjutkan mengeluarkan amarah dengan menendang kursi-kursi sisanya. Sampai ujung matanya tidak sengaja menemukan sosok perempuan yang senantiasa mencari perkara dengannya. “Semua ini perbuatanmu bukan?” Dicengkramnya dagu Gadis itu kuat-kuat. Aileen yang sempat mendengar permasalahan Lelaki ini, langsung menggeleng seketika. “Enggak. Bukan. Aku gak tahu apa-apa Oliver. Sumpah!” suaranya bergetar, sarat akan ketakutan. “Kau pikir aku akan percaya dengan semua sikap sok lugumu ini?” Oliver menyeringai tipis. Lelaki itu melanjutkan. “Sedangkan, hanya kau satu-satunya manusia yang tidak pernah menyukai kehadiran Caroline sebagai kekasihku. Hanya kau yang berani mengatakannya sebagai perempuan bermulut seperti dua cabe merah yang berdempetan. Hanya kau juga satu-satunya orang yang terang-terangan mencelanya di hadapan keluarga besarku. Sekarang lihat, kini dia pergi sehari sebelum pernikahan kami diadakan. Itu semua pasti karena ulahmu juga kan?” Dalam sekali hentakan, Oliver kembali melepaskan cengkraman hingga Gadis berambut sepunggung itu terpental beberapa meter kebelakang. Belum sempat Aileen menyeimbangkan posisi badan, Oliver malah sudah kembali mendekatinya. “Memang ini kan yang kau inginkan sedari awal? Hubungan kami berakhir.” “Enggak, Oliver. Sungguh,” suara Aileen semakin mengecil. “Bohong!” “Untuk apa aku berbohong padamu? Sementara aku selalu bersikap apa adanya dihadapanmu. Aku memang tidak pernah menyukainya, tapi sungguh, setelah kau mengenalkannya padaku lima bulan yang lalu, aku tak pernah melihatnya kembali.” “Kau … sebenarnya, mencintaiku bukan?” suara Oliver begitu dalam, berbeda dengan tatapannya yang dingin. Perlahan bibirnya menyeringai, menyunggingkan senyum tipis yang menyeramkan. “Kau tidak pernah menyukai Caroline, karena cemburu padanya bukan?” “Aku tidak segila itu untuk jatuh cinta pada manusia Arogan sepertimu.” Aileen mendorong d**a Oliver menggunakan kedua tangannya. Tetapi tidak berhasil. Lelaki itu begitu kuat dengan pertahanannya. Alih-alih Oliver yang mundur, justru malah Aileen yang semakin terpojok ke sudut ruangan. Adegan seperti ini sebenarnya sudah sering terlihat sedari kecil. Hanya saja kali ini cukup serius. Keluarga Aileen dan Oliver sudah berhubungan baik sejak lama. Ditambah dengan perusahaan milik keluarga masing-masing yang saling bekerja sama. Mau tidak mau, jalinan tersebut membuat Aileen dan Oliver sering dipertemukan dalam acara-acara resmi dan non resmi. Bak tikus dan kucing, keduanya tidak pernah akur. Pihak keluarga tidak ada yang melerai, karena mereka merasa terhibur dengan permusuhan yang terjadi antara Aileen dan Oliver. Danial, Kakak Aileen sendiri malah suka memancing keduanya untuk tidak pernah berbaikan. “Sekarang katakan, kalau tidak tertarik padaku, lalu untuk apa kau menjelekkan kekasihku dihadapan keluarga besar?” Kepala Oliver sudah menunduk, hingga bibirnya hanya berjarak lima senti dengan bibir Aileen. Napas Aileen yang memburu, terasa hangat menerpa kulit wajahnya. “Memang dia jelek kok, masa umur baru 25 tahun sudah terlihat seperti umur 40 tahunan. Atau memang seleramu yang menyukai perempuan seperti Tante-tante?” “Sebelum mengurus penampilan orang lain, urus dulu penampilanmu sendiri. Bukankah kau juga sama ya, berusia 25tahun. Tapi mana buktinya? sedikitpun aku gak melihat tanda-tanda gadis dewasa di dirimu tuh. Gak ada yang menonjol sedikit pun. Pantes saja gak ada satu Lelakipun yang tertarik denganmu.” Menonjol seperti apa yang lelaki itu bicarakan? Aileen seketika menyilangkan tangan di depan daadanya. Tawa Oliver pecah seketika, melihat sikap refleks dari perempuan berbadan ramping yang berdiri dihadapannya ini. Kemudian Oliver menegakkan tubuh, dengan memasukkan tangan pada masing-masing saku celana. ‘Tidak salah lagi. Laki-laki itu benar-benar sudah gila sepertinya.’ Aileen meringis. Lagipula siapa yang tidak akan menggila, setelah ditinggalkan calon istri tepat sehari sebelum pernikahan diadakan. Lamat-laun tawa Oliver berubah semakin hambar. Lagi-lagi Ia menatap sinis pada Aileen, “Mau tidak mau, kau yang akan menggantikan posisi Caroline di acara pernikahan besok. Diammm! aku gak ingin menerima penolakan dengan alasan apapun.” Oliver melenggang, menjauh beberapa langkah dari Aileen dengan menepukkan tangan sebanyak dua kali. “Perhatian semuanya.” Hal itu dilakukan untuk memanggil para pegawai yang sedari tadi sibuk membereskan properti yang berserakan. “Tolong lanjutkan pekerjaan kalian dan hiaslah pelaminan semewah mungkin. Saya gak jadi membatalkan pernikahan ini. Dialah yang akan jadi Istri saya nantinya.” Lelaki itu menunjuk ke arah Aileen dengan tatapan penuh kepuasan yang begitu nyata. Setelah semua ini, apa yang bisa kau lakukan Gadis kecil? “Apa-apaan. Gak. Siapa juga yang mau menikah denganmu, sampai kapanpun aku gak akan sudi.” Aileen mendekat dan bersiap memukulkan tas selempang pada kepala Oliver. Namun tidak ada perlawanan seperti biasanya, Lelaki itu justru berlalu, tidak memedulikan berbagai protes yang keluar dari bibir Aileen. Hingga langkah kaki membawanya memasuki lift. Di belakangnya Aileen masih setia mengejar sampai berhasil berdiri disamping Oliver. “Yang kamu katakan tadi, semuanya becanda kan, Oliver?” tanya Aileen. Ditengah mengatur napasnya. Hening. Laki-laki itu menyibukan diri dengan memijit tombol-tombol pada lift. “Oliver, jawab!” Masih tidak ada sahutan. Fokus Lelaki itu kini sudah tertuju pada ponsel yang dimainkannya. “Gimana kalau Caroline hanya pura-pura pergi? Siapa tahu besok dia datang, dan mengejutkan semua orang? Oliver, ih. Jawab! Aku kan nanya.” Aileen mencengkram jas yang dikenakan Oliver, sampai Lelaki itu berhasil menghadapnya. “Aku tidak peduli.” Kemudian Oliver menunduk kembali dengan wajah yang semakin mendekat pada telinga Aileen. “Sekarang semua keputusan ada ditanganmu. Kalau kau berhasil membawa Caroline ke hadapanku, makan pernikahan kita tidak akan terjadi. Tetapi jika sebaliknya, maka mau tidak mau kau yang akan jadi Istriku.” Jantung Aileen seakan berhenti berdetak, selama mendengar kata demi kata yang meluncur dari bibir Oliver. Apa yang harus Ia lakukan? Sementara Oliver tidak pernah main-main dengan setiap ancamannya. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. “Jadi kalau kau gak berhasil bawa Caroline pun, sebenarnya tidak masalah sih. Aku gak akan mengalami kerugian apapun. Dekorasi pernikahan itu masih tetap bisa kugunakan nantinya, dan aku masih dapat memiliki seorang Istri meski bukan seseorang yang kucintai.” Oliver tersentum sensual. “Pikirkan saja coba, pasti rencanaku ini dapat diterima sangat baik oleh keluargamu bukan? Mengingat betapa banyaknya keuntungan yang akan diraup oleh kedua keluarga setelah pernikahan kita dilaksanakan.” “Semua itu hanya akan terjadi dalam mimpimu!” Beruntung pintu lift langsung terbuka, hingga setelah berteriak seperti itu Aileen bisa langsung keluar dari sana. “Hey, kau akan memerlukan pria sepertiku untuk memperindah lekuk tubuhmu!” “Gak peduli. Gak mau dengar!” Aileen semakin mempercepat langkah dengan menutup kedua telinganya. “Aku akan langsung membuktikannya pada malam pertama kita, Ai.” Sepertinya Lelaki itu memang sengaja berteriak hanya untuk membuat Aileen malu. Lihat saja tatapan dari beberapa orang yang berlalu-lalang. Mereka saling berbisik, dan menertawakan Aileen dengan sembunyi-sembunyi. “Dasar Lelaki gila.” Aileen berjalan dengan kaki yang dihentakan. “Sampai matipun aku tidak akan sudi menikah dengannya,” lanjutnya dengan tangan melambai untuk menghentikan sebuah taxi. Tadi Ia datang ke hotel ini atas perintah Danial, Kakaknya. Aileen diminta meletakkan hadiah khusus dari Danial untuk Oliver di kursi pelaminan. Jika tahu akan bertemu dengan Oliver, mungkin Aileen akan menolak permintaan Danial. “Ikut. Aku perlu meminta restu dari Mami sama Papi mu.” Aileen menatap horror Oliver yang sudah menerobos masuk pada taxi yang dipesannya. “Keluar dari Taxi ku gak.” “Langsung jalan aja, Pak.” “Baik, Tuan.” “Kubilang keluar, Oliver!” Meski tahu akan sia-sia, tetapi Aileen tetap mendorong bahu Lelaki itu entah untuk tujuan apa. “Yah, Taxi-nya udah jalan. Gimana dong, Ai?” Oliver pura-pura mendesah penuh penyesalan. Aileen mendesis, dengan geraman tertahan. Rasanya Ia ingin mencakar-cakar muka jelek yang sangat arogan itu. Namun yang terjadi, dirinya hanya bisa memegang ujung dress selututnya kuat-kuat. ‘Mimpi apa aku semalam, hingga hari ini begitu sial,’ Sejurus kemudian Aileen berpaling, menatap ke jendela di sebelahnya untuk menyembunyikan tangisan yang hampir pecah. Hatinya lagi-lagi bergumam dengan memandang kosong keluar jendela. ‘Aku benar-benar membencimu… Caroline.’ ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook