4. Oliver dan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi.

1149 Kata
“Apa?!” Suara Danial naik satu oktaf. Ia mengurai pelukan dan mencari jawaban dari wajah sang Adik. “Maksudmu apa Aileen. Jangan bilang kalau Oliver—“ Aileen menghentikan perkataan Danial dengan meletakkan jari telunjuk di depan mulut Kakaknya itu. “Aku akan menjelaskannya nanti, ya?” bujuknya dengan tatapan meminta pengertian. Interaksi menegangkan antara Adik Kakak itu cukup menarik perhatian yang lain, termasuk Oliver yang sebelumnya tengah mengobrol dengan salah satu orang kepercayaan di kantornya. "Terima kasih sudah menyempatkan untuk datang," Setelah pegawainya pergi, barulah Oliver mendekat pada Aileen dan Dania, menatap kedua Kakak beradik itu secara bergantian. “Ada apa?” tanyanya kemudian. “Kau—“ Lagi-lagi ucapan Danial terhenti, oleh perlakuan sang Adik yang menggenggam pergelangan tangan dengan sedikit meremasnya. “Aku? apa?” tanya Oliver yang masih menuntut jawaban. “Kamu tega menjebakku dalam pernikahan ini. Itu yang mau Kakakku katakan. Iya kan, Kak Dan?” Remasan Aileen pada tangan Danial sudah berganti menjadi cubitan kecil. Hingga mau tidak mau Danial menganggukkan kepala. “Oh.” Hanya itu yang keluar sebagai jawaban dari bibir Oliver. Namun sedetik kemudian Ia mengernyit. “Terus maksud ucapan terima kasihmu tadi, apaan Dan?” “Gak jadi. Lupakan. Efek terlalu kelelahan kayaknya, hingga aku salah mengucapkan perkataan. Yang harusnya bilang ‘kurang ajar kau’ malah jadi ‘terima kasih.’ Entahlah, gak sadar aku juga.” Danial mengangkat kedua bahunya yang diakhiri helaan napas panjang. “Mungkin memang ini yang kau inginkan sebenarnya,” Oliver menimpali. Tetapi Danial tidak mengindahkan, dan lebih memilih mengutarakan hal lain. “Sudah ya, aku pulang dulu. Mau mandi, gerah.” Lalu tatapan Danial beralih pada Aileen. “Dan untukmu ingat, pembicaraan kita belum selesai,” lanjutnya dengan nada mengancam. Tanpa menunggu jawaban dari Aileen, Laki-laki itu langsung turun dari pelaminan. Menyapa kedua orangtuanya sekilas untuk kemudian melanjutkan langkah tanpa menoleh kembali pada Aileen. ‘Mau bagaimana lagi Aileen, sepertinya Kak Dan benar-benar telah kecewa dengan keputusanmu ini.’ *** Ballroom itu sudah lengang, hanya terdapat para pekerja berseragam yang tengah membagi tugasnya. Dari membersihkan sampah-sampah dan makanan yang berserakan di lantai, mengambil piring-piring kotor dari atas meja, dan yang mulai membongkar sebagian dekorasi. Kini semua orang yang Aileen kenal sudah pergi. Kedua orangtuanya, kedua orangtua Oliver yang sudah menjadi mertuanya, bahkan Oliver sendiri pun sudah tidak ada di sebelahnya. Entah kemana Laki-laki itu, karena sebelum kepergiannya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkan Aleen yang duduk sendiri di kursi pelaminan lengkap dengan gaun pengantin berwarna merah menyala yang masih dikenakannya. Sebuah kartu terulur dihadapan Aileen, disusul sebuah suara yang mengatakan. “Kunci untuk kamar yang akan kau tempati.” Perempuan itu mendongak dengan kening berkerut. “Dan kau sendiri?” “Kembali ke apartemen, lah,” jawab Oliver dengan santainya. “Baguslah.” Dengan senang hati Aileen mengambil kartu yang masih terulur itu. “Apa kau berpikir kita akan tinggal bersama setelah pernikahan ini?” "Sama sekali tidak." Memang, Aileen sebelumnya sempat berpikir akan tinggal bersama Oliver, di apartemen yang sama dengan pengaturan kamar tidur yang terpisah. Tapi kalau Lelaki itu memberi keringanan seperti ini, maka akan Aileen terima dengan sangat senang hati. Lagipula, Ia tidak sanggup membayangkan hidup satu atap dengan Lelaki arogan yang sudah menyunggingkan senyum miring dihadapannya ini. “Kenapa kau senyam-senyum begitu?” tanyanya kemudian. “Kau yang kenapa. Kenapa kau berbohong. Ayo akui saja kalau kau benar-benar berpikir kita akan melakukan malam pertama seperti iming-imingku kemarin? Hahahah….” “Gak!” sanggah Aileen cepat yang seketika bangkit dari duduknya juga. “Sorry ya, Ai. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah tergiur untuk mencicipi tubuhmu yang rata ini.” “Aku bilang gak, ya enggak, Oliver!” “Aku benar-benar gak nyangka, kalau cinta terpendammu padaku akan sebesar ini. Hingga kau langsung tergiur begitu kutawarkan sebuah pernikahan.” “Kau ini tuli atau bagaimana? Ku bilang enggak ya enggak!” Aileen menghentakkan kaki saking kesalnya mendengar tuduhan dari Oliver. Ia lupa kalau kedua kakinya masih mengenakan heels, hingga hentakkan yang dilakukan membuat tubuhnya sedikit oleng dikarenakan alas heels yang menginjak gaun pengantin. Dengan refleks, Oliver menahan pinggang Aileen supaya Perempuan tersebut tidak terjatuh. Namun dikarenakan kurangnya keseimbangan tubuh, yang ada keduanya malah terjatuh ke atas kursi pelaminan dengan posisi tubuh kekar Oliver menutupi tubuh mungil Aileen. Yang lebih parahnya, bibir keduanya sempat saling bersentuhan meski hanya terjadi persekian detik. “Kau nyari kesempatan dalam kesempitan ya!” Aileen yang pertama bersuara seraya menyusut permukaan bibirnya dengan kasar. berntung lipstik yang masih menempel disana tahan air, hingga tidak ada yang belepotan kesana-kemari. “Alah, pake acara sok marah-marah segala. Paling dalam hatimu, berbunga-bunga kan. Secara, dapat merasakan ciuman sama Pria yang kau cinta,” Oliver berkata seraya memosisikan badan sampai berdiri tegap kembali dan diakhiri dengan mengusap-usap tuxedonya seakan menghilangkan bekas-bekas pegangan Aileen dari sana. “Harus berapa kali kubilang. Aku gak pernah mencintaimu, Oliver!” “Oh ya?” Lelaki itu mendekat dengan memasukkan salah satu tangannya pada saku celana. “Kalau tidak mencintaiku, kenapa kau mau menjadi istriku?” pertanyaan tersebut dibisikkan dengan kata-kata bernada sensual. Aileen menggeram, dengan kedua tangan yang sudah terkepal. Andai saja dirinya bisa, mungkin akan dengan senang hati Ia membeberkan yang sebenarnya. Namun … bayang-bayang akan Oliver yang bisa saja hancur, lagi-lagi menghantuinya. Tidak. Lebih baik Aileen dituduh mencintai Oliver seperti ini, daripada harus kehilangan sosok Arogan dari diri Oliver. “Kalau kamu diam saja seperti ini, berarti semua tuduhanku benar, kan?” “Sesuka hatimu lah. Aku capek, mau istirahat.” Aileen langsung meninggalkan Oliver yang masih berdiri di pelaminan. “Maafkan suamimu yang gak akan pernah bisa membalas cintamu ini ya, Istriku!” Jika teriakan Oliver tersebut di suarakan hanya untuk memancing emosi Aileen, maka selamat karena dirinya benar-benar telah berhasil. “Bener-bener udah gak waras otak jeleknya itu!” *** Setibanya di kamar hotel, Aileen langsung menghubungi Nomor Danial untuk menjelaskan semua alasan pernikahannya sekaligus meminta tolong supaya mau mengantarkan beberapa pakaian dan ponsel Aileen yang tertinggal di kamarnya sejak pagi tadi. Bagaiamana tidak, sementara pagi-pagi buta Ia sudah harus di rias dan mengenakan gaun pengantin. Itupun setelah selesai, beberapa Laki-laki yang mengenakan jas hitam dengan kompak, langsung membawanya ke hotel tempat acara pernikahannya diselenggarakan. Benar-benar terlihat seperti pemaksaan. Jadi jangan salahkan Aileen, jika Ia melupakan hal-hal yang perlu dibawanya. Sementara gaun pengantin merah menyala yang masih dikenakannya ini, sepertinya memang dirancang khusus untuk Caroline. Designnya terlalu dewasa untuk selera Aileen yang lebih menyukai hal-hal berbau simple. Lihatlah sebagian besar punggungnya yang terekspose jelas ini. Siapa lagi yang meminta seperti ini kalau buka perempuan muda berjiwa tua itu. Tapi tidak masalah. Meski ini bukan gaun pengantin impiannya. Meski pernikahan ini bukan keinginannya, dan meski pasangannya bukan pangeran idamannya. Setidaknya Aileen dapat melindungi keluarga lain dengan pernikahannya ini. “Hallo…,” suara Danial yang menyahut dari seberang panggilan berhasil mengembalikan kesadaran Aileen. “Kak Dan. Ini aku, Ai—“ “Ada apa, tidakkah kau sibuk menikmati malam pertama bersama suamimu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN