Clara melangkah perlahan keluar dari kamar hotel. Tangannya sedikit bergetar saat jemarinya menggenggam buket bunga putih di hadapannya. Langkah sepatunya terdengar pelan di lorong yang sudah dihiasi bunga dan kain tipis berwarna gading. Di ujung lorong, pintu menuju halaman belakang hotel sudah terbuka. Angin pagi menyentuh wajah Clara dengan lembut. Dia berhenti sejenak. Menarik napas panjang. “Tenang, Clara… tarik napas… hembuskan,” gumamnya pelan pada diri sendiri. Pintu semakin terbuka ketika pengiring membukanya lebih lebar. Musik pelan mulai terdengar. Dan di sana. Jevian. Berdiri tegak di atas altar. Setelan jas hitam yang dikenakannya jatuh sempurna di tubuhnya. Wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya berubah begitu melihat Clara. Jevian menelan ludah. “Dia…” bis

