Satu hari menjelang pernikahan. Pagi itu terasa berbeda bagi Clara. Matahari masuk perlahan dari balik tirai kamar hotel yang sudah dipenuhi berbagai persiapan. Gaun pengantin tergantung rapi di balik lemari kaca, masih terbungkus plastik transparan, tampak begitu anggun sekaligus menakutkan bagi Clara yang terus menatapnya dari kejauhan. Tangannya dingin. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Clara duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam erat sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya terasa pendek, dadanya naik turun dengan cepat. “Clara…” Suara lembut Briana terdengar dari pintu kamar yang terbuka perlahan. Clara menoleh cepat. Wajahnya pucat, matanya tampak berkaca-kaca. “Mama…” suaranya kecil, hampir bergetar. Briana langsung melangkah masuk dan menutup pintu

