Langkah kaki Jeremy terdengar berat saat menuruni tangga sempit menuju ruang bawah tanah. Setiap anak tangga dilewatinya dengan tenang, tanpa tergesa, namun aura dingin menyertai setiap gerakannya. Lampu-lampu kecil di sepanjang dinding menyala redup, menyorot bayangan tubuhnya yang memanjang di lantai beton. Begitu pintu besi terbuka, suara teriakan langsung menyambutnya. “Lepaskan aku! Lepaskan sekarang juga!” Yeri meronta di kursi besi. Tangannya terikat kuat, tubuhnya berusaha bergerak ke depan meski hanya beberapa sentimeter. Rambutnya benar-benar berantakan, wajahnya merah, napasnya terengah-engah oleh amukan yang tidak juga reda. “Aku tidak seharusnya di sini!” teriak Yeri. “Ini tidak adil!” Jeremy berdiri diam di ambang pintu. Ia tidak langsung mendekat. Tatapannya mengamati w

