Pagi itu di hotel Tokyo, cahaya matahari menyelinap lembut melalui jendela kamar, menimpa wajah Clara yang masih setengah mengantuk tapi terlihat sangat cantik. Rambutnya sedikit berantakan karena tidur, pipinya kemerahan, dan matanya yang berbinar seakan mengundang senyhum siapa pun yang melihatnya. Jevian menatap istrinya itu dari dekat, matanya penuh kekaguman. Ia tidak pernah bisa berhenti memuji kecantikan Clara, terutama saat pagi hari seperti ini, ketika semua terlihat murni dan alami. Clara mengenakan pakaian hangat yang Jevian siapkan malam sebelumnya: sweater wol krem lembut yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan scarf bulu halus berwarna abu muda, dan celana panjang wol yang membuatnya nyaman menghadapi udara pagi Tokyo yang masih segar. Jevian menatapnya, tersenyum, dan membel

