Jevian sudah terjaga sebelubm Clara. Ia menatap istrinya yang masibh terlelap, rambutnya sedikit berantakan di bantal, dan napasnya lembut tertahan dalam ritme yang damai. Senyum kecil terbentuk di wajah Jevian ketika ia menyentuh pipi Clara perlahan, meniupkan udara hangat ke kulitnya, lalu mencubitnya beberapa kali dengan lembut. “Bangun, sayang… sudah pagi, waktunya jalan-jalan,” bisik Jevian sambil tertawa kecil ketika Clara sedikit meringis dan berusaha menyingkirkan tangannya. Clara membuka mata setengah, mengerjap beberapa kali, dan menatap Jevian dengan ekspresi campur aduk antara mengantuk dan geli. “Jev… tinggalkan aku dulu… aku ingin tidur lagi,” ucapnya pelan, suaranya masih berat karena kantuk. Ia berusaha muenyingkirkan tangan Jevian, tapi Jevian tetap memegangnya dengan le

