Clara melangkah lebih jauh ke tengah Shibuya, tangannya masih erat digenggam Jevian, tapi matanya sudbah melotot tak henti-henti ke segala arah. Setiap sudut jalan menawarkan sesuatu yang baru: aroma yakitori yang baru dibakar, harum manis dorayaki, wangi manis takoyaki yang mengepul dari panggangan, dan bahkan aroma kopi yang menggoda dari kafe-kafe modern di sepanjang jalan. Ia hampir tidak bisa menahan diri, setiap kali melihat sesuatu yang menarik, ia menoleh ke Jevian dengan mata berbinar-binar. “Jevian… lihat itu! Ada stand okonomiyaki! Dan yang itu, kue mochi berwarna-warni! Aku mau coba semuanya! Semua, semua, semua!” Clara hampir meloncat kegirangan, suaranya meninggi di tengah hiruk-pikuk orang yang lewat. Jevian tertawa kecil, menepuk pundak istrinya. “Santai, Clara. Kita jala

