BAB 14

1075 Kata
Pasangan suami istri yang baru saja menikah ini mempersiapkan segalanya untuk bulan madu mereka. Eric semakin menjadi lebih baik, sementara itu Sherry mulai menemukan kebahagiaan rumah tangga yang selalu dia impikan. Maui merupakan salah satu pulau di Hawaii. Itu merupakan pulau terbesar kedua di sana. Tujuan destinasi yang sangat cocok untuk sebuah bulan madu yang manis. Pulau tersebut terbalut oleh alam hijau nan indah, pemandangan luar biasa, dan yang penting, banyak spot untuk bersantai. Eric sudah merasa letih dengan bertahun-tahun bekerja tanpa henti. Kini dia sudah mendapatkan istri yang dia inginkan, terlebih wanita itu ternyata membalas cintanya dengan tulus. Tak ada lagi beban yang ingin dia tanggung. Dia hanya ingin bersantai dengan Sherry di Maui. Setelah menempuh perjalanan udara yang panjang, mereka tiba di hotel yang telah dipesan sebelumnya. Hotel paling mewah dengan fasilitas terlengkap, sebuah kolam renang juga terhampar di halamannya. “Ah~” Sherry menghela napas panjang begitu sampai di ruang hotelnya. Dia menoleh ke sang suami yang lehernya sudah penuh karangan bunga. Senyuman pun terpancar. “Kau seperti warga lokal.” Eric menggeret kopernya di pinggir ranjang berukuran king size. Dia cukup puas dengan kamar hotel yang dia pesan, luas, bersih, harum, serba putih, dan menghadap langsung ke tepi pantai. Ya, ada sebuah pintu kaca menuju balkon, dimana tersedia dua kursi untuk menikmati keindahan lautan biru itu. Siang hari cukup terik di luar, berjemur pasti sangat menyenangkan.             Sherry mendekati koper itu. “Biar aku taruh baju kita ke laci dahulu.” “Ah, jangan, aku yang akan mengurusnya” ucap Eric menariknya jauh-jauh dari koper. Dia membuat diri mereka terjatuh ke atas ranjang empuk. “Kau hanya perlu bersantai, aku ingin membahagiakanmu.” Dia berguling hingga membuat sang istri berada di bawah tubuhnya. Sembari membelai pipi lembut wanita itu, dia berbisik, “hanya ada aku, kau dan ranjang—malam ini.” “Mungkin kita harus mandi terlebih dahulu,” saran Sherry menyibakkan poni rambut Eric yang memenuhi keningnya. Wanita ini hanya memakai gaun kasual dengan panjang selutut. Hal itu membuat tangan sangat mudah sangat mudah menemukan paha halusnya. “Kalau kau ingin mandi, biar aku yang memandikanmu,” kata Eric mengecup pinggir bibir Sherry. Ia mengarahkan jemari tangannya ke arah area terhangat di antara paha sang istri. Gerakan nakal yang sudah terlatih sejak remaja benar-benar ampuh membuat tempat tersebut menjadi lembab. Napas Sherry menjadi lebih berat. “Oh, Eric~” “Kau sangaaat mudah basah, Sayang,” bisik Eric yang mulai tegang. Suaranya terdengar seperti desahan yang ditahan. Ia begitu ingin menikmati wanita itu, tapi menahan diri—dia menginginkan permainan yang lebih lama. Dia bangkit, kemudian melepaskan celana dalam Sherry dengan sekali tarikan. “Aku ingin merasakanmu juga.” “Ini masih siang~” “Memangnya kenapa kalau masih siang?” Eric meregangkan kaki Sherry. Dia menyeringai lebar menikmati pemandangan surga yang baru-baru ini dia nikmati. “Masa kalau suamimu maunya sekarang, kau beralasan sekarang masih siang?” Sherry tersenyum. “Tuan mau menang sendiri ini sangat nakal ya?” “Kalau istrinya sepertimu, aku pasti jadi liar lagi. Ini salahmu, kenapa kau cantik sekali? Aku jadi tergoda terus.” Eric meremas lembut paha kiri Sherry. “Kau menggoda sekali—kau membuatku ingin memakanmu.” Aura kedekatan di antara mereka semakin kental. Tak ada malu-malu ataupun penolakan. Mereka sama-sama saling ingin mencintai dan memuaskan. Eric lantas memberikan kecupan demi kecupan lembut ke kulit paham Sherry. Tangannya kembali menggoda dengan meraba titik kehangatan yang basah. “Aku mencintaimu, Sherry.” “Aku juga sangat mencintaimu, Eric.” “Oh, istriku tersayang, aku baru menyentuhmu, tapi kau sudah sebasah ini?” goda Eric diiringi tawa pelan.“Harusnya aku nekad mendekatimu sejak SMA, Sherry, kita bisa gila-gilaan setiap saat.” Sherry tak sengaja tertawa. “Mana boleh.” “Aku ingin memberitahumu rahasia, sejujurnya selalu masuk ke kamar mandi dan jerk off dengan membayangkan sedang memainkanmu di atas toilet. Pikiranku selalu kotor setelah tak sengaja melihatmu berjalan di sekitarku, walaupun pakaianmu sopan, tapi p****t seksimu tetap tercetak jelas.” “Astaga, Eric, kau benar-benar mengerikan.” Eric memasukkan satu jari ke dalam tubuh Sherry. Napasnya menjadi berat. “Padahal aku sudah berkali-kali memasukimu, satu jariku masih terasa sesak.” Kedua mata Sherry mulai terpejam merasakan kenikmatan itu. Seraya meremas rambut Eric, dia berkata, “aku yakin akan mengundang mata kemarahan gadis-gadis lain jika dekat denganmu waktu SMA.” “Jujur saja, Sherry, aku tak pernah serius dengan siapapun, bahkan tak bisa disebut berpacaran, aku dan gadis-gadis di SMA kita itu hanya teman seks. Itu sangat lumrah di sana, bukan? Kau saja yang terlalu polos.” “Benar.”  “Aku sungguh bersyukur Paterson b******k itu tak melakukan apapun padamu, jadi aku benar-benar memilikimu seutuhnya sekarang.” “Aku memang milikmu.” Eric bangkit sejenak, lalu melepaskan kemeja yang dia kenakan. Pandangannya tepat lurus ke surga kesayangannya yang begitu mulus, harum, dan basah sekali sampai membuat sprei lembab. “Kalau begitu, aku ingin merasakan milikku.” Sherry menaruh bantal di atas kepalanya sembari terus melebarkan kaki. Dia mulai bisa menggoda sang suami. “Eric, kau mau aku—itu melakukan—itu?” Pandanannya mengarah ke isi celana Eric yang telah mengembang. “Itu—oh tidak, Sayang, malam ini, aku yang akan melayanimu, aku akan membuatmu keluar—sampai malas bangun esok hari.” Eric menjilati bibir bawahnya dengan sensual. Dia terlihat begitu mempesona dalam keadaan telanjang d**a. Tampan dan seksi. Hanya dengan tubuh itu saja, tubuh Sherry makin panas. “Ah~” Sherry tersenyum manis. “Lagipula kau belum bisa melakukannya’kan, aku takut kau menggigitku,” goda Eric menaikkan gaun Sherry hingga ke atas perut. Tak lama kemudian, dia kembali mengecup paha wanita itu, kali ini lebih liar dan ganas. “Aku akan pelan-pelan, menggunakan lidah.” “Oh, astaga, aku malah membayangkannya sekarang.” “Kau ingin?” “Tidak untuk sekarang, yang kuinginkan hanyalah merasakanmu.” Eric membenamkan wajahnya di titik tengah. Sapuan lidahnya lihai menyenangkan wanita manapun. Sherry sudah menggeliat tak karuhan hanya dalam beberapa detik setelah disentuh bagian itu. napasnya memburu, tubuhnya menegang. Dia tak ingin semua berakhir cepat, tapi Eric tak membiarkannya menahan diri. “Oooh Eriic~ ah~” desahnya tak karuhan. Dan semua kenikmatan itu pun keluar seiring dengan bertambah cepatnya detak jantungnya. Bulir-bulir keringat membasahi kulitnya. Eric bangun dengan napas terengah-engah. Nafsunya sudah ada di ambang batas, tak ingin berlama-lama lagi. Dia melihat istrinya masih lemas dengan gaun yang berantakan. “Sudah puas’kan? Sekarang lepaskan pakainmu dulu, Sayang, layani aku sebentar.” Sherry bangun sembari melakukan perintah itu. Dia membuang seluruh sisa baju yang melekat di raganya. Keningnya tampak begitu basah oleh keringat. Permainan lidah singkat dari Eric barusan sudah seperti satu permainan seksual baginya. Eric pun ikut menurunkan resleting celananya. “Balikkan badanmu, aku sedang ingin memasukkannya lebih dalam, dan dari belakang itu—lebih menyenangkan.” “Aku juga suka itu.” Sherry mengambil sebuah bantal, lalu menaruhnya di atas pinggangnya. Kini tubuhnya sudah telanjang bulat, membuat mata Eric betah memandangnya, hingga mengantarkan birahi yang membara dalam diri. Bagian belakang Sherry dalam keadaan telanjang. Ini adalah fantasi eric sejak masih berada di sekolah menengah atas. Hanya Sherry, hanya wanita inilah yang mampu membuatnya tegang dalam sekejab, seperti saat ini. Akan tetapi bedanya sekarang, ini bukanlah fantasi, melainkan kenyataan. Wanita yang ia inginkan sudah mempersembahkan tubuh pribadi hanya untuk dirinya. Malam ini, semua hanya tentang dia, istrinya, dan ranjang. _____   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN