Sherry bangun dari ranjangnya. Tubuhnya masih tergulung oleh selimut tebal putih. Cahaya mentari sudah mengintip dari serambi kamar yang sengaja masih ditutup rapat. Pagi ini tubuhnya masih terasa lemas, dia masih ingat perbuatan tanpa henti dari Eric. Meskipun demikian, dia sangat menikmati percintaan semalam. “Eric?” panggilnya sembari menyingkap selimut. “ “Sayang, kau sudah bangun?” Eric menoleh sekilas. Ia menghentikan kegiatannya di depan laci, kemudian berbalik, memandangi betapa indahnya wanita yang semalaman dia acak itu. “Tidur lagi saja.” “Ini jam berapa?” “Delapan pagi.” “Aduh, siang sekali.” “Ini pagi, tidur saja kalau masih mengantuk. Aku takkan marah, Sayang. Tidur saja sepuasmu, kau ratuku selama honeymoon ini, dan ratu sebaiknya tidur saja.” “Memangnya barusan kau s

