Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan, pikiran Eric melayang kemana-mana. Ada sebagian hatinya yang menyesal karena membohongi istri sendiri. Akan tetapi jauh di dasar hatinya pula, kebencian terhadap mertuanya itu tetap tinggi. Dia masih berharap bisa membuat pria itu menderita. Alih-alih memberikan maaf, yang ada dia ingin semakin menjerumuskannya ke lubang kesengsaraan. Apalagi setelah terus mendengar istrinya ingin bertemu. Malahan, dia berencana untuk melakukan pembunuhan. Hingga sampai di supermarket pun, dia masih tidak fokus. Dia berjalan layaknya robot mendorong troli, sementara Sherry memilih-milih bahan membuat kue di rak demi rak. “Eric?” Sherry memanggilnya sembari menaruh botol kaca selai stroberi favoritnya ke dalam troli bersama puluhan belanjaan lain. Tanpa terasa di

