Ketukan pintu tak henti-hentinya terdengar. Sherry berusaha mendapatkan perhatian Sammy yang menangis di bawah selimut. Suara sesenggukan gadis cilik itu masih terdengar sekalipun dia tengkurap di atas tumpukan bantal. Eric mendekat, dia dengan sengaja mendorong Sherry agar menyingkir dari pintu, lalu mengambil alih dengan mengetuk seraya berkata lembut, “Sammy? Sayang, maafkan Daddy, barusan Daddy bukan bermaksud membentak, Daddy tidak marah padamu, Daddy minta maaf, sungguh minta maaf, kau mau keluar, Sayang? Mari kita ke taman bunga, Daddy belikan apapun yang kau inginkan?” Dia memutar kenop pintu, tak bisa apapun karena Sammy dengan cerdiknya mengunci dari dalam. “Sayang, tolong jangan dikunci begini, ini Daddy, biarkan Daddy masuk, Daddy buatkan apapun yang kau ingin untuk makan sian

