Eric membuka pintu kamarnya, melempar jasnya ke atas kursi, kemudian menghempaskan punggung di atas ranjang. Sudah berjam-jam dia harus melakukan pertemuan dengan relasi bisnis, tapi baginya semua ini membosankan. Dia mendadak ingin kembali berbinis, tapi dengan tidak adanya dirinya di kantor, pasti urusan persetujuan sesuatu akan terhambat. Pabriknya baru saja berkembang, dia tak bisa meninggalkannya. Sesekali dia harus memeriksa kinerja para manager dalam mengurus pabrik tersebut. Sherry duduk di pinggiran ranjang, lalu menindih tubuh pria itu seraya meraba dadanya yang masih terbungkus kemeja putih. “Kau tumben sekali melewatkan makan malam, Sayang, terlalu sibuk ya?” “Iya.” Eric memandangi wajah istrinya ini. “Sibuk sekali, padahal aku ingin bersama istriki terus.” “Kau sudah makan

