Cahaya matahari menembus ke sela-sela kelambu, membangunkan Sherry dan suaminya. Tangan Eric tampak melingkari perut Sherry dengan posesifnya. Dia tak ingin bangun dari posisi tersebut. Keinginannya selama bertahun-tahun telah terkabul, dia tak ingin ini semua berakhir. Sherry miliknya seorang, dia bahkan tak ingin berbagi dengan Mr. Saunders. Pria itu hendak mengambilnya lagi, maka dia mulai memutar otak menghindari situasi di luar dugaan. “Selamat pagi, Eric,” sapa Sherry seraya berguling sehingga menghadap langsung wajah sang suami. “Pagi, Sayang.” Eric mengecup lembut keningnya. Embusan napas hangatnya menerpa kulit Sherry. Betapa dia sangat mencintai wanita ini. “Aku masih ingin bergulung di bawah selimut denganmu, jangan coba-coba bangun.” Sherry menggeram pelan. “Kau ini— bukank

