“Sepertinya, kau benar-benar ingin menantangku bertarung, Julion. Apa kau pikir, kuasaku sebagai seorang pemimpin bisa kau remehkan seperti ini?” tanya Max dengan nada rendah. Membuat semua orang yang berada di sana, seketika merasakan tekanan hebat pada tubuh mereka.
Seharusnya saat mendengar suara rendah penuh peringatan tersebut, Julion berhenti untuk terus memprovokasi Max yang jelas saat ini tengah benar-benar marah padanya. Sayangnya Julion tidak berniat untuk berhenti sama sekali. Seakan-akan dirinya melihat kemarahan Max tersebut sama sekali bukan apa-apa. Atau malah Julion berpikir jika Max sama sekali tidak marah saat ini. Joe jelas ingin meminta kakaknya untuk berhenti. Namun, terlambat.
Karena Julion berkata, “Tidak ada yang menantang dirimu untuk bertarung di sini. Tapi, jika kau memang ingin bertarung dan mengadu kemampuan, aku sama sekali tidak merasa keberatan untuk melakukannya.”
Max yang mendengar hal tersebut jelas mengartikannya sebagai sebuah tantangan. Saat ini, Julion jelas tengah mempermainkan dirinya dan menunjukkan jika dirinya saat ini benar-benar tengah meremehkan Max. Tentu saja Max semakin tidak menyukai Julion. Rasa kesalnya semakin berkali lipat saja, dan Max sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan semua rasa kesalnya tersebut. Max menatap Julion dan berdecih. “Ah, begitu? Jadi kau benar-benar ingin bertarung denganku?” tanya Max.
Suasana semakin menegang dan canggung saja. Para tetua sendiri tampak merasa ketegangan yang sama dengan para anggota pasukan khusus yang lainnya. Karena jelas, kini hubungan Max dan Julion terlihat semakin memburuk daripada sebelumnya. Tentu saja ini adalah langkah yang sangat buruk. Bahkan mereka belum memulai perjalanan ini, tetapi Julion dan Max sudah berselisih sekeras ini. Sebab jelas hal ini akan membuat perjalanan mereka akan terasa tidak nyaman.
Apalagi, perjalanan ini adalah perjalanan yang benar-benar membutuhkan kerjasama yang tinggi. Mereka harus saling percaya dan membantu satu sama lain. Namun, jelas bahwa Max dan Julion sling tidak menyukai. Bahkan terlihat saling membenci. Jelas, jika hal ini para anggota ragu, jika perjalanan mereka bisa berjalan dengan lancar. Para tetua juga takut, jika keputusan mereka mengizinkan Julion terlibat dalam perjalanan tersebut adalah hal yang salah.
Sebenarnya, para tetua mengizinkan Julion terlibat, karena Julion memang memegang kunci dari kelemahan para pembelot. Julion berhasil meyakinkan para tetua, jika dirinya akan berkontribusi sangat baik, terhadap misi yang akan dilakukan oleh pasukan khusus. Jelas, pengalaman dirinya sebagai pemimpin tim pembersih sebelum kembali ke daerah perlindungan, sama sekali tidak perlu diragukan lagi. Ia, memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berharga, serta jelas sangat bermanfaat dalam perjalanan ini.
Para tetua sadar jika mereka harus segera mengambil tindakan untuk melerai aksi saling serang di hadapan mereka ini. Namun, hal itu terlambat, karena Dalila sudah lebih dulu mengambil tugas tersebut. Dalila mengulurkan tangannya dengan lembut untuk menggenggam tangan Max. Hal tersebut membuat Max yang sebelumnya mengepalkan kedua tangannya dengan penuh kemarahan, mulai melemah. Tanda sentuhan lembut yang diberikan oleh Dalila berhasil untuk meredakan kemarahan yang saat ini tengah ia rasakan.
Max pun menoleh dan menatap Dalila yang jelas tengah menatapnya dengan lembut. Dari tatapannya saja, Max tahu jika saat ini Dalila tengah berusaha untuk menenangkan dirinya. Hal itu sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membuat Max sadar, jika dirinya tidak boleh membuang energi dengan melayani Julion, yang memang selalu saja berusaha untuk memantik emosinya. Namun, sepertinya Dalila tidak berpikir jika hal itu sudah cukup. Jadi, Dalila pun berkata dengan lembut, “Max, tenanglah. Marah seperti ini tidak baik untukmu, dan benar-benar membuang waktu kita semua.”
Jelas semua orang bisa mendengar perkataan Dalila tersebut. Ternyata bukannya merasa lega karena Dalila berusaha untuk menenangkan suaminya, semua orang malah merasa sangat gugup. Sebab kini jelas-jelas Dalila tengah mencoba untuk menjadi penengah di sana. Padahal, para tetua sendiri kini tengah sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan. Namun, Dalila dengan berani bertindak di tengah situasi tegang tersebut, dan berkata pada suaminya jika apa yang ia lakukan saat ini tengah membuang waktu berharga mereka semua.
Meskipun hal tersebut memang benar adanya, tetapi rasanya apa yang dikatakan oleh Dalila tersebut adalah hal yang terlalu berani. Sebab bisa saja, apa yang ia katakan tersebut malah akan membuat situasi semakin memburuk. Jelas semua orang saat ini tengah merasa cemas. Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Bukannya marah, Max malah menggenggam tangan Dalila dan mencium punggung tangan istrinya itu dengan lembut. Lalu berkata, “Maafkan aku, Dalila. Aku selalu mudah lepas kendali saat berhadapan dengan orang gila.”
Jelas jika Max menyebut Julion sebagai orang gila di sana. Namun, Julion sama sekali tidak marah akan hal tersebut. Karena ia memang sudah terbiasa untuk mendengar hal tersebut. Namun, ada hal lain yang membuat kemarahan Julion terpantik dengan mudahnya. Hal tersebut tak lain adalah kedekatan antara Max dan Dalila. Jelas Julion sadar jika Max dengan sengaja membuat dirinya bisa melihat dengan jelas interaksi dirinya dan Dalila.
Serangan telak, yang lebih menjengkelkan dan menyakitkan daripada serangan fisik. Sebab jelas Julion tidak bisa membalasnya atau melakukan apa pun. Max sadar jika serangan ini akan lebih menyakitkan bagi Julion, daripada perkataan tajam yang biasanya ia ajukan pada Julion. Hal ini jelas akan berefek pada Julion yang jelas-jelas sudah menyimpan perasaan yang mendalam terhadap Dalila. Max kembali mencium punggung tangan Dalila dengan lembut. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali dengan suara kecupan yang terdengar begitu jelas.
Membuat Dalila yang mendapatkan kecupan tersebut, mau tidak mau merasa sangat malu dengan perlakuan suaminya itu. Meskipun merasa malu, Dalila merasa jika ada sisi hatinya yang jelas merasa senang dengan perlakuan yang diberikan oleh suaminya itu. Tentu saja orang-orang yang melihat interaksi Dalila dan Max bisa menilai jika keduanya memang suami istri yang sangat mencintai satu sama lain. Jelas jika hubungan keduanya sangat erat, seakan-akan siapa pun memang tidak bisa menyusup ke dalam hubungan keduanya.
Tyska yang menyadari jika kini Max sudah kembali tenang berkat Dalila yang menenangkan dirinya, segera berkata, “Max, lebih baik sekarang mulai pengarahannya.”
Max yang mendengar hal itu pun mengangguk. Namun, Max sama sekali tidak melepaskan tangan Dalila. Ia tetap menggenggamnya dengan sangat erat, dan mempertahankan Dalila untuk tetap berdiri di sisinya. Max melirik Julion dan berkata, “Aku akan membiarkanmu kali ini. Berterima kasihlah pada istriku, karena ia yang sudah menyelamatkan nyawamu.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Max sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Julion untuk mengatakan apa pun lagi. Sebab Max segera memulai pengarahan untuk perjalanan yang akan mereka laksanakan. “Aku yakin, kalian semua sudah tahu, jika perjalanan yang akan kita tempuh, adalah perjalanan panjang yang jelas sangat berbahaya.”
Semua orang yang mendengar hal itu seketika memasang ekspresi serius mereka. Sebab mereka sadar, apa yang dikatakan Max memang benar adanya. Mereka memang akan melaksanakan sebuah perjalanan yang sangat berbahaya. Di mana mereka akan menjalankan sebuah misi penting untuk membersihkan para pembelot yang jelas tidak tahu tempat. Namun, jelas jika hal itu adalah hal yang sangat berbahaya. Apalagi dengan kemampuan para kaum pembelot yang sama sekali tidak bisa mereka remehkan.
“Kita masih belum bisa memprediksi seberapa kuat lawan kita, dan apa saja yang mereka miliki saat ini. Karena itulah, kita jelas-jela berada dalam posisi yang berbahaya. Tapi, aku yakin jika kalian semua sama sekali tidak merasa takut, bukan?” tanya Max seketika membuat rasa gelisah dan ketakutan yang merayapi hati para anggota pasukan khusus, seketika menghilang saat itu juga.
Perkataan Max mengobarkan semangat yang sempat memadam karena kegelisahan yang dirasakan oleh beberapa anggota yang jelas masih muda dan belum memiliki pengalaman dalam hal tersebut. “Ini adalah saatnya kita membereskan para pembelot yang tidak tahu tempat itu. Sudah saatnya kita memberikan pelajaran pada mereka yang tidak menyadari posisi mereka sendiri. Apakah kalian siap?” tanya Max.
Tentu saja para anggota yang sudah merasakan semangat mereka kembali berkobar, menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah seruan yang penuh ambisi. “Siap!”
Max yang mendengar seruan tersebut jelas mengangguk dengan penuh kepuasan. Setidaknya, saat ini pasukan yang ia pimpin benar-benar terlihat memiliki kekompakan yang cukup mengagumkan dan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun, Max masih perlu menegaskan satu hal yang jelas perlu ditekankan di sana. Max benar-benar harus membuat para anggotanya mematuhi hal ini, agar dirinya bisa memegang kendali sepenuhnya sebagai seorang pemimpin pasukan tersebut.
“Aku suka semangat kalian semua ini. Namun, ada hal yang perlu kalian ingat. Hal yang benar-benar harus kalian tanamkan di dalam benak kalian semua,” ucap Max membuat semua orang yang sebelumnya masih berseru penuh semangat, seketika menutup bibir mereka rapat-rapat.
Max menatap semua anggotanya dengan tatapan penuh wibawa seorang pemimpin. Tentu saja Julion juga mendapatkan tatapan darinya. Namun, khusus bagi Julion, Max memberikan tatapan tajam penuh peringatan. Sebelum Max berkata, “Tanamkan pada benak kalian hingga mengakar, jika aku adalam pemimpin kalian. Perkataanku adalah hukum yang harus kalian patuhi sepenuhnya saat kita masih berada dalam perjalanan menjalankan misi ini.”
Semua orang jelas berseru sebagai jawaban jika mereka memang benar-benar akan menanamkan hal tersebut di dalam benak mereka. Sementara Julion dan Joe sadar, jika apa yang Max katakan tersebut adalah tidak lebih dari sebuah peringatan pada Julion. Peringatan jika Julion sama sekali tidak boleh melupakan posisinya. Di sana, Julion yang memegang kuasa dan Julion tidak boleh sampai melupakan hal itu serta menantangnya. Jika Julion terus saja melakukan hal seperti itu, maka Max jelas tidak akan memberikan toleransi apa pun lagi pada Julion.
“Kami akan mengingatnya dengan baik-baik, Kapten!” seru semua orang menyematkan panggilan kapten pada Max, yang jelas adalah seorang pemimpin bagi pasukan di sana. Jelas panggilan tuan juga akan mereka kenakan sebagai panggilan hormat, ketika berada di situasi lain.
Max kembali mengangguk, merasa puas dengan jawaban yang sudah diberikan oleh para anggotanya. Max sendiri menunduk untuk menatap istrinya dan bertanya, “Apakah kau juga akan menuruti perintahku dan tidak membatahku selama perjalanan ini?”
Dalila yang mendengar pertanyaan tersebut tentu saja mendongak dan tersenyum tipis. “Tentu saja. Karena aku tentu saja harus mengikuti perintah yang diberikan oleh kapten padaku,” ucap Dalila dengan senyuman manisnya.
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Dalila, Max tentu saja tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Ia pun secara refleks memberikan sebuah kecupan pada kening Dalila. Kecupan penuh kasih yang membuat pipi Dalila memerah dengan lembut. Tentu saja semua orang bisa melihat perlakuan yang diberikan oleh Max tersebut. Mereka secara alami merasakan rasa iri yang menggelitik di dalam hati mereka. Sebab perjalanan ini mungkin tidak akan terasa terlalu berat bagi Dalila dan Max.
Sebab mereka menjalaninya sebagai seorang pasangan yang saling mengasihi. Jika mereka terlalu lelah dan merasa sedih, ada pasangan yang akan memberikan penghiburan. Menjalani hal yang sulit bersama orang terkasih, jelas adalah hal yang cukup baik. Karena mereka jelas tidak akan terlalu merasa kesulitan dalam menjalaninya. Max pun berbisik, “Istriku memang pintar.”
“Kau baru menyadarinya?” tanya Dalila sembari terkekeh pelan.
Max pun ikut terkekeh pelan. Ia mengangguk dan menjawab, “Ya. Aku baru menyadari banyak hal. Namun, satu hal yang bisa kusimpulkan. Bahwa kau adalah istri yang sangat sempurna bagiku. Karena itulah, aku sama sekali tidak akan bisa melepaskanmu.”
Lalu kali ini Max tidak lagi mengecup punggung tangan atau kening Dalila. Melainkan mengecup bibir Dalila dengan lembut. Pada awalnya, Max memang dengan sengaja melakukan kontak fisik dengan Dalila, untuk membuat Julion merasa marah. Namun, pada akhirnya Max malah menikmati hal tersebut. Ia menikmati setiap sentuhan dan interaksi manisnya bersama dengan Dalila. Sebab pada dasarnya semua itu ia lakukan karena sebuah ketulusan yang mendalam.
Namun, efek yang dihasilkan oleh hal tersebut masih tetap sama. Julion sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Dalila dan Max. Ada panas membakar yang terasa di dalam dadanya. Jelas, ia merasakan dorongan untuk memisahkan Dalila dan Max. Lalu menarik Dalila ke dalam pelukannya saat itu juga. Namun, Julion sadar jika ia tidak bisa melakukan hal tersebut. Karena ia benar-benar harus menahan diri. Karena ini bukan waktunya. Ini belum waktunya Julion merebut Dalila dan mendapatkannya di dalam pelukannya.