Suami 2

1932 Kata
Ekspresi Max terlihat buruk, saat dirinya duduk di kursi penumpang sementara Dante berkonsentrasi dengan kemudinya. Tentu saja Dante merasa tidak nyaman jika sang tuan berada dalam suasana hati yang buruk seperti ini. Namun, Dante tidak bisa melakukan apa pun mengenai situasi yang tengah terjadi saat ini. Memang Max harus menghadiri rapat dengan para pemimpin AKI(Asosiasi Kaum Immortal) karena memang ada hal yang mendesak, yang harus mereka bicarakan. Dante sebenarnya merasa bingung. Biasanya, jika ada rapat yang dilaksanakan mendadak pun, Max tidak pernah merasa kesal sedikit pun. Max akan menghadiri rapat tersebut dan terlibat dalam perundingan dengan aktif. Mengingat dirinya adalah satu-satunya pemimpin yang paling muda di antara pemimpin kaum yang lainnya. Max memang terbilang lebih cepat menjadi pemimpin, karena selain terdorong karena kondisi kaum yang sebelumnya kehilangan pemimpin dengan mendadak, kemampuan Max juga tidak perlu diragukan lagi. Meskipun dirinya adalah yang termuda, kemampuan dan kekuatan yang ia miliki bahkan sebanding dengan para tetua. Bahkan, mungkin lebih besar dari mereka. Karena kini sudah lewat bertahun-tahun dengan evaluasi kemampuan Max untuk diakui sebagai pemimpin dalam AKI (Asosiasi Kaum Immortal). Tentu saja seiring berjalannya waktu, Max yang terus berlatih. Telah memiliki pengalaman dan kekuatan yang jauh lebih berkembang daripada sebelumnya. Max terlihat masih berada dalam suasana hati yang buruk. Max jengkel, karena waktunya dengan Dalila menjadi terinterupsi dan berkurang banyak. Max memang tahu, jika situasi saat ini tengah tidak stabil karena ulah para pembelot. Namun, Max rasa jika pertemuan mereka sebelumnya sudah membicarakan semua hal yang memang perlu mereka perhatikan dalam jarak waktu dekat ini. Padahal, Max baru saja memulai latihan dengan Dalila. Rasanya ia benar-benar kesal, dan ingin melakukan pertarungan sengit saat ini juga. Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Dante tiba di gedung yang memang menjadi pusat dari Asosiasi Kaum Immortal. Jangan merasa heran, dengan mereka yang terlihat beraktifitas seperti manusia normal. Menggunakan mobil, menggunakan komputer, hingga makan seperti manusia normal. Masalah makan, mereka semua memang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia normal. Namun, pada dasarnya mereka memang makhluk hidup yang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Hanya saja, beberapa dari mereka memiliki sumber makanan yang berbeda. Sementara untuk masalah teknologi, mereka sendiri bekerja sama dengan pihak manusia untuk menjaga kedamaian dan ketentraman. Jika mereka tidak mengimbangi dengan tekenologi yang sama baiknya, tentu saja akan ada masalah dalam kerja sama yang sudah susah payah dibangun tersebut. Selain itu, rasanya tidak mungkin jika mereka berlari dengan kecepatan tinggi atau menggunakan teleportasi sepanjang waktu. Sebisa mungkin, sihir mereka gunakan di waktu-waktu yang memang mengharuskan mereka menggunakan kemampuan mereka itu. Para makhluk immortal yang bekerja sebagai staf Asosiasi Kaum Immortal memberikan hormat pada Max yang memang sudah sangat dikenal oleh mereka semua. Memangnya ada kaum immortal yang tidak mengenal Max? Sudah dipastikan semua dari mereka mengenal Max dengan baik. Sebagai seorang pemimpin kaum manusia serigala, sekaligus menjadi pemimpin termuda Asosiasi Kaum Imortal. Berbeda dengan Max yang hanya mengangguk tipis sebagai jawaban dari sapaan itu, maka Dante yang mengikuti Max tersenyum lebar dan menjawab semua sapaan yang ia terima dengan senang hati. Max pun tiba di ruang rapat, dan segera duduk di kursi yang memang selalu ia tempati. Sementara Dante menunggu di luar, mengingat jika rapat tersebut terbatas. Rapat yang diselenggarakan tersebut adalah rapat yang memang diselenggarakan secara khusus untuk para pemimpin kaum immortal. “Jadi, apa yang sebenarnya ingin kalian bicarakan?” tanya Max tanpa basa-basi. Membuat  Arfel, Tyska, Alyson menahan diri untuk tidak menghela napas. Max terkadang memang bersikap kurang ajar di hadapan mereka. “Ini mengenai istrimu,” jawab Tyska dengan raut serius. Karena satu-satunya perempuan di sana, biasanya Tyska yang memang bertugas untuk membicarakan hal yang memang akan dibahas. Ia yang akan memulai dan mengakhirinya, karena terbilang Tyska yang benar-benar bisa berpikir dengan jernih. Ia pun yang satu-satunya bisa bersikap lembut di tengah perdebatan. Sifat bawaannya sebagai seorang Elf memang sangat dibutuhkan di sana. “Istriku? Memangnya ada hal apa lagi yang perlu kita bicarakan mengenai Dalila? Aku rasa, semuanya sudah jelas. Dalila memang anak campuran, dan aku harus melatihnya agar ia bisa mengendalikan kekuatannya sendiri,” ucap Max merangkum hasil dari rapat sebelumnya. “Benar. Karena Dalila pada dasarnya juga bagian dari kaum serigala, hal yang paling tepat adalah mempercayakannya padamu untuk pelatihannya. Tapi, kami rasa itu tidak akan maksimal, mengingat situasi yang tengah terjadi, kami rasa sudah semestinya kita memanfaatkan waktu dengan semaksimal mungkin untuk membuat Dalila segera menguasai kekuatannya,” ucap Tyska. “Singkatnya,” potong Max tidak ingin mendengar jawaban yang berputar-putar lagi. Pada akhirnya Alyson pun berkata, “Dalila memerlukan pelatih lain, selain dirimu. Tentu saja untuk memastikan jika kemampuan Dalila memang dilatih dengan sempurna. Tidak hanya kemampuan yang berasal dari darah kaum serigalanya saja, tetapi juga kemampuan bawaan dari darah vampire miliknya.” Max pun mulai merasakan firasat tidak mengenakan. Rasanya, aka nada hal buruk yang tidak Max sukai akan segera terjadi. Benar saja, Arfel pun berkata, “Karena itulah, Julion yang akan melatih Dalila.” “Apa?” tanya Max dengan nada rendah. Ketiga pemimpin kaum pun mulai merasakan tekanan yang begitu berat, yang dihasilkan oleh aura yang dimiliki oleh Max. Tentu saja siapa pun yang melihat Max, bisa menilai jika saat ini pria itu tengah marah besar. “Kalian memintaku untuk membiarkan istriku dilatih oleh bajinga*n itu?” tanya Max dengan nada rendah penuh penekanan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa hubungan Max dan Julion memang sangat buruk. Hal itu terjadi karena kesalahpahaman yang membuat kebencian di antara keduanya tumbuh dengan begitu dalam. Sepertinya, meskipun sudah puluhan tahun berlalu, kebencian keduanya masih belum memudar. Atau lebih tepatnya, kebencian yang dimiliki oleh Max belum berkurang sedikit pun. Untungnya, sebelumnya Julion yang memang tengah bersiap untuk menerima posisinya sebagai pemimpin kaum, menawarkan diri untuk memimpin pasukan di luar area perlindungan untuk membasmi para pembelot. Karena itulah, untu beberapa tahun ini, tidak ada perselisihan antara kaum serigala dan kaum vampire. Namun, karena kini Julion sudah kembali, entah apa yang akan terjadi selanjutnya berkaitan dengan hubungan kedua orang terkuat ini. Tyska yang melihat kemaahan Max pun berkata, “Kami bukannya tidak mempertimbangkan masalah hubungamu dengan Julion. Tapi, kami rasa Julion adalah orang yang tepat untuk memberikan pelatihan terhadap Dalila.” “Tidak. Dia sama sekali bukan orang yang tepat. Memangnya kalian pikir, aku akan mengizinkan bajinga*n itu berdekatan dengan istriku? Tidak akan mungkin. Aku bahkan tidak akan mengizinkannya menginjakan kaki di daerah kekuasaanku,” ucap Max dengan sorot mata penuh kebencian. “Kau tidak bisa menghalangi seperti ini, Max,” uxap Alyson terlihat serius dengan apa yang dikatakannya. “Kenapa tidak bisa? Aku jelas berhak menolak keputusan apa pun yang sudah kalian buat apalagi mengenai istriku. Karena aku adalah suaminya, dan aku berhak melakukan hal itu untuk memastikan keamanan serta kenyamanan istriku sendiri. Aku rasa, statusku sebagai seorang suami sudah lebih dari cukup untuk membuatku berhak untuk melakukan semua itu.” Max berulang kali menekankan bahwa dirinya adalah suami dari Dalila dan berhak untuk menolak usulan mereka. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau sendiri sudah tahu, jika kini Dalila juga menjadi target dari para pembelot? Apa kau akan membiarkan istrimu itu menjadi target dan bulan-bulanan mereka?” tanya Arfel mulai terlibat dalam pembicaraan tersebut. Max terdiam, sadar jika dirinya memang tidak bisa mengesampingkan hal yang paling penting untuk saat ini. Max mengerti, jika Dalila juga harus mendapatkan pelatihan dari salah seorang vampire, mengingat kekuatan yang ia miliki. Namun, Max tidak bisa menerima jika mereka semua menyarankan Julion sebagai pelatih bagi Dalila. Membayangkan jika dirinya membiarkan Dalila begitu saja di bawah pelatihan Julion, sudah membuat Max merasa jengkel bukan kepalang. “Kalau begitu, kau bisa melatihnya, Arfel. Jika tidak bisa, kau bisa memilihkan salah seorang vampire wanita yang paling berbakat. Aku rasa, kaum vampire pasti memiliki banyak orang yang berbakat,” ucap Max pada akhirnya mengusulkan ide yang memang terasa masuk akal. Sayangnya, ide tersebut segera ditolak oleh semua orang terutama oleh Arfel. “Usiaku sudah tidak lagi muda. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan akhir kehidupanku. Aku sudah tidak lagi cocok untuk melatih seorang murid. Karena mempertimbangkan masa depan, di mana Julion yang nantinya akan menggantikan posisiku sebagai seorang pemimpin kaum vampire, aku rasa dia yang paling tepat untuk melatih Dalila,” ucap Arfel. “Hal yang aku tanyakan adalah, kenapa harus dia?!” tanya Max benar-benar hampir kehabisan kesabaran. Max tidak habis pikir, mengapa semua orang memaksa untuk menjadikan Julion sebagai guru Dalila. Padhal, mereka semua sudah tahu jika hubungan Max dan Julion tidak baik. Bukan sakadar tidak baik, tetapi sangat buruk. Tidak aka nada hal baik jika mereka dipertemukan. Rasanya Max ingin menghancurkan ruangan ini saat ini juga. “Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya. Hanya Julion yang memenuhi kualifikasi sebagai pelatih yang baik untuk Dalila,” ucap Alyson. “Karena dia pewaris? Kalau benar, maka Joe, panggil Joe untuk melatih Dalila,” ucap Max menyebut adik dari Julion. Meskipun Joe dan Julion memang berhubungan darah, tetapi Max tidak memiliki kebencian pada Joe. Karena Max tidak memiliki masalah apa pun pada Joe. Jadi, menurut Max rasanya lebih baik membiarkan Dalila untuk dilatih oleh Joe daripada oleh Julion. Sayangnya, ide Max itu kembali ditolak. Membuat Max benar-benar frustasi. “Joe sudah memiliki tugas yang tidak bisa ia lepaskan. Karena itulah, jawaban terakhir adalah Julion,” ucap Arfel. Hal itu memang benar adanya, Joe memang memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan Julion. Memang benar, jika saja Joe sebelumnya belum memiliki tugas, mungkin mereka semua akan memilih untuk menunjuk Joe sebagai pelatih atau guru dari Dalila. Selain karena juga memiliki kemampuan, Joe juga tidak memiliki hubungan buruk dengan Max. Hingga tidak akan terjadi masalah dalam saat pelatihan Dalila nantinya. Sayangnya, mereka tidak bisa menarik Joe dari tugasnya untuk membantu pembasmian para pembelot yang semakin berulah dari waktu ke waktu. Karena Julion sudah kembali, dan ia belum memiliki tugas baru, maka Arfel dan yang lainnya sepakat untuk menunjuknya sebagai guru atau pelatih dari Dalila. Untuk saat ini, mereka harus mengenyampingkan pertengkaran Max dan Julion. Karena mereka harus fokus dengan penyempurnaan pengendalian kekuatan Dalila. Setidaknya mereka harus tetap memaksa Julion untuk menjadi guru Dalila. Mereka kini dikejar oleh waktu. Kaum pembelot bisa menyerang kapan saja, dan entah apa yang mereka tengah rencanakan saat ini. Tentu saja, apa pun yang mereka rencanakan sama sekali tidak akan berdampak baik. Mereka pasti merencanakan sesuatu yang jelas-jelas akan membuat dunia berada dalam kekacauan yang mengerikan. Max mengacak rambutnya frustasi. Membiarkan kaum lain masuk ke dalam daerah kekuasaannya saja sudah terasa sangat sulit. Apalagi ini Max dipaksa untuk membiarkan musuhnya sendiri. Lalu Max pun berkata, “Memangnya Julion mau melakukannya? Asal kalian tau, bukan hanya aku yang membencinya. Ia juga memiliki kebencian yang sama besarnya pada diriku. Kami membenci satu sama lain.” “Sayangnya, Julion sendiri sudah setuju untuk menjadi pelatih dari Dalila. Ia berkata jika mereka sudah bertemu, dan melihat jika ada kemampuan besar yang perlu diasah. Karena itulah, mari bersepakat, Julion akan menjadi pelatih baru Dalila,” ucap Tyska sembari tersenyum. Sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Max untuk menolak apa yang sudah mereka putuskan. “Tidak bisa kupercaya, pendapatku sebagai seorang pemimpin sekaligus suami dari Dalila sama sekali tidak didengar di sini. Aku rasa, kehadiranku di sini benar-benar percuma,” ucap Max sarkasme. Tyska yang mendengar hal tersebut tersenyum lembut dan berkata, “Tidak percuma. Sekarang tugasmu adalah memastikan jika Dalila mendapatkan jadwal yang seimbang untuk mendapatkan pelatihan darimu, dan pelatihan dari Julion. Pastikan pula, Dalila mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Ingat, selain memastikan jika Dalila menguasai kekuatannya secepat mungkin, prioritas utama lainnya adalah, segera membuat Dalila mengandung.” Max yang mendengar hal itu benar-benar dibuat tidak percaya. “Wah, apa sekarang kalian juga akan mengatur berapa kali aku harus tidur dengan istriku? Sial!” seru Max penuh kemarahan.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN