Misi 2

1948 Kata
Sebenarnya rapat tersebut akan ditutup saat itu juga, Mengingat jika Arfel sang pemimpin rapat sudah memberikan keputusannya. Namun, tiba-tiba Julion mengangkat tangannya. Memberikan isyarat jika dirinya memiliki sesuatu yang ingin ia sampaikan terkait dengan masalah terlibatnya Dalila dalam perjalanan tersebut. Sebagai seorang guru yang juga melatih dan melihat kemampuan yang dimiliki oleh Dalila, tentu saja Julion memiliki porsi dan kewenangan untuk berbicara mengenai hal tersebut. Arfel pun mempersilakan Julion untuk mengatakan apa yang ia ingin katakan. Julion pun berkata, “Aku rasa melibatkan Dalila dalam perjalanan dengan misi sulit ini sangat berbahaya.” Tentu saja para tetua mendengarkan perkataan tersebut dengan tenang. Sementara Max yang mendengarnya sudah mulai mengernyitkan keningnya. Terlihat tidak senang karena Julion tengah berusaha untuk mendebat apa yang ia inginkan. Max memicingkan matanya, sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan rasa tidak senangnya pada Julion yang duduk di seberangnya. Tentu saja hal tersebut membuat semua orang menyadari rasa tidak suka Max pada Julion. Tyska memberikan isyarat pada Max untuk tidak mengatakan apa pun terlebih dahulu. Tyska tentu saja sangat mengenal sifat Max. Jika tadi dirinya tidak menghentikan Max, sudah dipastikan jika Max akan melemparkan kata-kata pedas yang akan memancing perselisihan. Tyskan yang termasuk tetua di sana, tentu saja harus menjadi penengah dan berpikir dengan jernih. Para tetua jelas harus menjadi contoh bagi mereka semua. Karena itulah Tyska melemparkan pertanyaan pada Julion, “Atas dasar apa kau menyimpulkan hal itu, Julion? Bisakah kau menjelaskannya? Agar kami semua bisa mempertimbangkan kembali keputusan yang sudah kami ambil.” Julion yang mendengar hal tersebut tentu saja mengangguk. “Aku sebagai seorang guru yang juga memberikan pelatihan pada Dalila selama ini, tentu saja memiliki kapasitas untuk memberikan penilaian apakah Dalila sanggup mengikuti perjalanan ini dengan baik atau tidak. Menurutku, Dalila belum memiliki kapasitas untuk melakukan hal ini. Dalila, belum sempurna dalam mengendalikan kekuatannya,” ucap Julion. Penjelasan yang diberikan oleh Julion tentu saja terasa sangat masuk akal. Semua orang mendengarnya tentu saja bisa menilai jika sepertnya apa yang dicemaskan oleh Julion memang sangat mengkhawatirkan. Namun, Max yang mendengar hal itu pun tidak bisa menahan diri lagi untuk memberikan argument yang sudah ia tahan sejak awal. “Bukankah aku sudah mengatakannya? Dalila, istriku memang belum bisa mengendalikan kekuatannya dengan sempurna. Tapi, kesempatan untuk terlibat dalam perjalanan pelaksanaan misi seperti ini tidak akan datang dua kali. Aku rasa, sudah menjadi keputusan yang bijaksana mengajak Dalila dalam misi ini. Tentu saja untuk menambah pengalaman dan mengasah kemampuannya. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik bagi kita semua?” tanya Max. Semua orang yang mendengar hal tersebut tentu saja mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Max. Mereka rasa, apa yang dikatakan oleh Max juga terasa masuk akal. Saat ini, Dalila bisa terbilang sebagai target dari para kaum pembelot yang berharap untuk segera mendapatkan kekuatan besar. Jika mereka berhasil mendapatkan Dalila dan memanfaatkannya, sudah dipastikan jika mereka akan berhasil menguasai dunia manusia berikut memperbudak manusia sesuai dengan apa yang mereka mimpikan. Namun, jika Dalila berhasil segera menguasai kekuatannya dan membantu kaum immortal, jelas Dalila adalah kunci dari kemenangan mereka semua. Namun, sepertinya Julion masih tidak sepemikiran dengan Max. Ia pun segera berkata, “Lalu bagaimana jika sekarang aku bertanya, bagaimana jika nantinya Dalila tidak bisa menyeimbangkan kemampuannya dengan anggota lain? Bukankah dia hanya akan menjadi penghambat dari pergerakan tim dan malam membuat pekerjaan kalian menjadi tertunda?” Dalila yang menjadi objek perdebatan tentu saja masih berada di sana. Dan mau tak mau merasa sangat kesal dengan apa yang tengah terjadi tersebut. Rasanya ia benar-benar lelah. Sebenarnya ia ingin berkata, jika dirinya sama sekali tidak akan menjadi beban dalam perjalanan itu jika dirinya dilibatkan. Ia malah cenderung ingin terlibat, karena perjalanan tersebut jelas bisa meningkatkan kemampuannya. Namun, Dalila berusaha untuk tidka mengatakan apa pun. Ia tidak ingin terlibat dalam adu argument tersebut. Max yang mendapat pertanyaan tersebut pun menatap Julion dengan tajam. “Kau mengatakan jika kau berbicara sebagai guru Dalila, tetapi sepertinya kau tidak memiliki harapan atau ekspektasi pada muridmu sendiri. Kau sendiri seharusnya sadar jika Dalila memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mempelajari sesuatu. Jika dibandingkan dengan yang lain, tentu saja Dalila memiliki pengalaman yang paling sedikit dan akan kesulitan untuk mengikuti perjalanan ini. Namun, aku yakin jika istriku bisa mengikuti perjalanan ini tanpa menjadi beban.” Max dengan sengaja menekankan kata-kata istriku dalam perkataannya. Membuat Julion yang mendengarnya mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Walaupun di permukaan, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Ia masih terlihat berekspresi normal, selayaknya Julion yang dikenal oleh orang-orang. Melihat jika Julion akan mengatakan sesuatu lagi, Arfel pun memberikan isyarat yang membuat Julion menelan apa yang akan ia katakan begitu saja. “Kalau begini jadinya. Bagaimana jika kita melakukan pemungutan suara?” tanya Arfel mengusulkan cara yang akan menjadi jalan tengah dalam perdebatan tersebut. Apa yang diusulkan oleh Arfel tentu saja disambut dengan baik oleh Tyska dan Alison yang jelas mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama. Mereka juga berpikir bahwa pemungutan suara untuk memutuskan apakah Dalila bisa dilibatkan dalam perjalanan ini atau tidak, adalah keputusan yang paling tepat. Mengingat jika mereka juga akan menanyakan pendapat para calon anggota tim khusus yang tentu saja akan melakukan perjalanan tersebut secara khusus. Apa yang diusulkan oleh Arfel pun disetujui oleh orang-orang yang mengikut rapat tersebut. Karena semua orang sudah setuju, pada akhirnya Arfel pun berkata, “Kalau begitu, silakan angkat tangan kalian jika kalian tidak setuju jika Dalila terlibat dalam misi ini dan ikut dalam perjalanan bersama tim khusus.” Setelah mendengar perkataan Arfel tersebut, Julion pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Seakan-akan ingin menegaskan jika dirinya memang orang yang paling tidak setuju dengan usulan bahwa Dalila terlibat dalam perjalan yang sangat berbahaya tersebut. Tentu saja dengan alasan yang sebelumnya sudah dikatakan oleh Julion. Satu per satu orang yang terpengaruh dengan perkataan Julion pun mengangkat tangan mereka. perwakilan kaum vampire pun hampir mengangkat tangan mereka semuanya, kecuali Arfel dan Joe yang memang setuju akan keterlibatan Dalila dalam misi tersebut. “Sudah?” tanya Arfel sembari mengamati semua peserta rapat. Setelah memberikan waktu beberapa saat kemudian, pada akhirnya Arfel meminta Tyska untuk menghitung orang yang sudah melakukan voting. Tidak membutuhkan waktu lama, Tyska pun selesai dengan perhitungan suara tersebut. Lalu Tyskan pun dipersilakan untuk mengumumkan hasilnya. “Hasilnya adalah, Dalila bisa terlibat dalam perjalanan ini. Perbedaan suara tipis, dua suara lebih unggul untuk keterlibatan Dalila dalam misi ini,” ucap Tyska. Tentu saja hasil pemungutan suara tersebut sangat memuaskan bagi Max. Pria itu bahkan secara terang-terangan menyeringai pada Julion yang menatapnya dengan agak jengkel. Atau lebih tepatnya sangat jengkel. Rasanya itu sangat wajar dirasakan oleh Julion. Selain dirinya tidak bisa terlibat dengan perjalanan ini, Julion bahkan gagal untuk menahan Dalila agar tetap berada di area perlindungan. Hari ini, Julion sudah kalah berkali-kali. Jelas hal itu pasti terasa sangat menjengkelkan. Apalagi bagi seseorang yang selalu menadapatkan apa yang ia inginkan. “Dengan ini, maka sudah diputuskan jika Dalila akan tetap terlibat dalam misi ini. Tentu saja dengan syarat bahwa identitas Dalila akan diumumkan secara resmi sebelum keberangkatan tim khusus,” ucap Arfel mengambil kesimpulan dari rapat tersebut. Max jelas mengangguk puas karena apa yang ia inginkan bisa ia dapatkan. Max pun menjawab dengan berkata, “Selain sebagai seorang kapten, aku juga berbicara sebagai seorang suami. Aku akan memastikan jika istriku, Dalila, sama sekali tidak akan menjadi beban. Ia akan memberikan kontribusi sebagai salah satu anggota tim. Kalian semua bisa menantikannya.” Setelah itu, rapat pun selesai dan mereka bisa kembali ke tempat mereka masing-masing. Saat melihat Julion akan menghalangi jalannya dan ingin berinteraksi dengan Dalila, Max pun segera mengambil langkah untuk membuat Dalila terhindar dari interaksi yang rasanya sangat tidak perlu dengan Julion. Jelas, apa yang dilakukan oleh Max tersebut bica terbaca dengan mudah oleh Julion. Dan rasanya Julion semakin jengkel saja saat ini. Rasanya ia benar-benar kalah telak dari Max hari ini. Saat Julion ingin mengejar Dalila dan Max, tangan Julion sudah ditahan oleh Joe. Hal tersebut membuat Julion menahan dirinya untuk tidak mendengkus dan ia pun menatap adiknya itu dengan tatapan agak jengkelnya. “Kakak, kita harus mendiskusikan siapa orang yang akan kita rekomendasikan untuk menjadi anggota tim khusus,” ucap Joe. Mendengar perkataan Joe tersebut, rasanya kejengkelan Joe mencapai titik tertinggi saat ini juga. Hal tersebut terjadi karena ia merasa seperti tengah diejek oleh Joe. Padahal Julion sendiri sadar jika adiknya tidak mungkin melakukan hal itu. Namun, karena ia memang tengah sensitif. Secara alami Julion pun pada akhirnya merasakan hal seperti itu. Mengingat jika dirinya tidak bisa terlibat dalam tim khusus tersebut karena perintah Arfel, dan Joe sendiri ditunjuk sebagai wakil, tentu saja hal tersebut membuat Julion kesal. “Kenapa kau mendiskusikannya denganku? Bukankah jelas-jelas kau yang ditunjuk sebagai wakil dari kapten tim? Kenapa sekarang kau mengajakku diskusi? Apa sekarang kau tengah megejekku karen aku tidak bisa terlibat dalam tim itu?” tanya Julion sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Untungnya, di sana hanya ada Julion dan Joe saja. Hingga tidak ada siapa pun selain Joe yang bisa melihat reaksi Julion yang tidak seperti biasanya ini. Joe sendiri masih terlihat tenang menghadapi sang kakak yang jelas-jelas tengah meledak-ledak karena amarahnya itu. Setelah beberapa saat, barulah Joe berkata, “Kakak sendiri tahu jika aku tidak bermaksud seperti itu.” Julion yang mendengarnya pun seketika mengernyitkan keningnya. “Kau—” “Semula, aku berniat untuk mengusulkan dan merekomendasikan Kakak sebagai salah satu anggota tim. Aku juga akan membujuk Arfel dan para tetua yang lain untuk memberikan izin Kakak untuk terlibat, tetapi kini aku rasa aku perlu mengurungkan niatku,” ucap Joe yang mendengarnya jelas mengernyitkan keningnya merasa sangat tidak mengerti mengapa adiknya tiba-tiba berubah pikiran seperti ini. Apa mungkin karena sebelumnya Julion sudah meninggikan suaranya pada Joe. Apa yang dipikirkan oleh Julion tersebut terbaca dengan mudah oleh Joe. Karena itulah Joe pun berkata, “Aku tidak mengubah pikiranku karena masalah sepele seperti itu. Aku memiliki alasan yang lebih kuat untuk mengubah pikiranku, Kak.” “Lalu hal apa yang sebenarnya membuatmu berubah pikiran?” tanya Julion meminta sang adik untuk menjelaskan. Sebab ia benar-benar tidak mengerti, memangnya kesalahan apa lagi yang sudah ia lakukan hingga membuat adiknya itu kembali merasa marah atau perlu mengomentarinya. Joe terdiam. Seakan-akan tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Benar, Joe tidak percaya dengan tingkah  Julion barusan yang menegaskan jika dirinya memang tidak menyadari kesalahan yang sudah ia perbuat. Joe sama sekali tidak mengerti, apakah selama ini dirinya memang belum mengenal sosok kakaknya dengan baik? Mengapa dirinya merasa jika kakaknya berubah sangat banyak dalam waktu yang singkat ini. “Aku sadar, bahwa Kakak memang tidak bisa dilibatkan dalam misi ini. Kakak masih belum bisa mengendalikan perasaan yang seharusnya tidak pernah tumbuh di dalam hati Kakak,” ucap Joe dengan nada dingin. Julion jelas mengerti arah pembicaraan tersebut dan seketika mengetatkan rahangnya. Ia benar-benar muak dengan Joe yang bertingkah seperti ini. Julion semula berpikir jika ini adalah bentuk perhatian dan kasih sayang Joe sebagai satu-satunya keluarga yang ia miliki. Namun, ama kelamaan rasanya Julion sudah merasa sangat muak dan ingin Joe berhenti. Pada akhirnya Julion berkata, “Terserah apa yang kau katakan. Aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan. Termasuk untuk masuk ke dalam tim.” “Aku rasa itu mustahil. Karena bukan hanya aku saja, Max juga sama-sama tidak setuju. Itu artinya, Kakak memang tidak akan pernah mendapatkan apa yang Kakak inginkan ini,” ucap Joe yakin jika Julion sama sekali tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Mengingat jika Max sendiri yang memegang keputusan terakhir dalam tim tersebut sebagai seorang kapten. Jelas Max yang akan memutuskan siapa yang akan terlibat dan masuk ke dalam tim tersebut. Namun Julion yang medengar hal itu menyeringai. “Jangan terlalu yakin, Joe. Selalu ada sebuah celah di sebuah ketidak mungkinan. Dan aku akan memanfaatkan celah itu. Tunggu saja kabar selanjutnya dariku,” ucap Julion lalu berlalu pergi setelah menepuk bahu Joe begitu saja.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN