Julion kembali ke area kekuasaannya dengan suasana hati yang sangat buruk. Untungnya, Joe memiliki tugas di gedung Asosiasi Kaum Immortal. Jadi, Julion tidak memiliki perdebatan lagi dengan Joe setelah perdebatan mereka sebelum Julion kembali ke daerah kekuasaannya ini. Julion mengabaikan para pelayan dan pengawal yang memberikan hormat padanya. Tentu saja para pelayan bisa merasakan aura tidak biasa dari Julion. Tanda jika saat ini Julion tengah dalam suasana hati yang buruk.
Julion memang jarang marah, tetapi ketika marah, ia sama sekali tidak boleh didekati oleh siapa pun. Julion membutuhkan waktu seorang diri, dan memperbaiki suasana hatinya. Para pelayan dan pengawal sudah mengetahui sifat Julion tersebut. Jadi, mereka tidak merasa terkejut. Mereka juga tahu apa yang harus mereka lakukan saat berada di situasi yang seperti itu. Mereka hanya perlu membuat Julion tidak merasa terganggu. Mereka tidak boleh mendekat, sebelum Julion memanggil atau meminta bantuan dari mereka.
Saat ini Julion sendiri masuk ke dalam kamarnya. Benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya yang entah mengapa terasa sangat lelah. Padahal, Julion tidak melakukan kegiatan yang melelahkan. Namun, Julion sadar jika hal ini berkaitan dengan masalah yang terjadi dengan rapat tadi. Julion mengetatkan rahangnya saat mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Max padanya. Max sengaja membuat Julion merasa kesal dengan menunjukkan kedekatannya dengan Dalila, dan tidak mendengarkan saran Julion untuk tidak melibatkan Dalila dalam misi.
“Padahal ini misi yang sangat berbahaya. Jika dia benar-benar peduli pada Dalila dan bukan hanya sekedar terikat karena hubungan yang ditakdirkan, rasanya mustahil jika Max mengizinkan Dalila terlibat dalam misi ini,” ucap Julion sembari berbaring di atas ranjangnya.
Dengan posisi terlentangnya, tentu saja Julion saat ini bisa menatap langit-langit kamarnya yang tinggi dan mewah. Rasanya sangat cocok dengan status Julion yang tak lain adalah calon pemimpin bagi kaum vampire. Julion mendengkus saat mengingat statusnya sebagai seorang calon penguasa nantinya. Meskipun dirinya menjadi calon penguasa saat ini, Julion tidak bisa leluasa untuk terlibat dengan apa yang terjadi saat ini. Malah Joe yang mendapatkan kesempatan untuk bekerjasama dalam menjalankan misi pembersihan kaum pembelot yang saat ini tengah meraja lela.
Julion memejamkan matanya lalu berkata, “Percuma saja aku menjadi seorang calon pemimpin, jika aku sama sekali tidak bisa terlibat dalam kegiatan penting seperti ini.”
Arfel dan para tetua yang lain sudah memberikan keputusan yang sama bahwa mereka tidak memberikan izin pada Julion untuk terlibat dalam perjalanan pelaksanaan pembersihan tersebut. Padahal sudah jelas jika Julion memiliki pengalaman yang begitu banyak dalam perburuan semacam ini. Mengingat jika dirinya sudah melakukan perburuan selama puluhan tahun di luar daerah perlindungan dan memimpin pasaukan yang memang bertugas sebagai pembersih kaum pembelot. Namun, dengan semua pengalaman itu, Arfel dengan tegas tidak melibatkan Julion dalam pasukan tersebut.
Arfel dan para tetua yang lain malah menunjuk Max sebagai kapten atau pemimpin pasukan khusus yang akan bertugas untuk melakukan pembersihan kaum pembelot. Seakan-akan Arfel dan para tetua lebih pecaya pada Max, daripada kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh Julion. Tentu saja Julion tidak bisa berbohong dengan mengatakan jika dirinya tidak merasa marah atas perlakuan yang ia alami ini. Julion merasa kesal karena tindakan para tetua seakan-akan mendukung tindakan Max.
“Dia semakin keras kepala dengan situasi ini,” ucap Julion merasa sangat jengkel saat mengingat semua hal yang berkaitan dengan Max.
Sebenarnya, sebelumnya Julion tidak memiliki rasa kesal pada Max. Hanya Max yang memiliki masalah terhadap Julion karena salah paham, menganggap jika Julion lah yang menjadi penyebab dari kematian kedua orang tuanya. Padahal, pada kenyataannya, itu sama sekali tidak terjadi seperti apa yang dipikirkan oleh Max. Namun, Max terus saja menyalahkan Julion atas apa yang terjadi tersebut. Seakan-akan dirinya tidak bisa hidup jika tidak memiliki seseorang yang bisa ia salahkan atas kematian kedua orang tua.
Jadi, Julion bersikap biasa dan membiarkan Max membencinya. Karena Julion pun terhibur ketika dirinya membuat Max semakin membencinya. Rasanya sangat menyenangkan bermain-main dengan mempermainkan emosi Max yang memang sangat mudah dibuat marah. Ya, Max memang sangat mudah terpancing jika Julion yang mempermainkannya. Mungkin karena pada darnya Max sudah memiliki kebencian yang mendalam pada Julion, jadi sangat mudah bagi Julion untuk mempermainkan emosi Max lebih jauh.
“Rasanya aku sungguh muak dengan apa yang terjadi,” ucap Julion merasa sangat kesal dengan semua yang terjadi.
Terlebih masalah dirinya yang harus mengendalikan perasaannya agar tidak terlalu terlihat dan disadari oleh orang lain. Karena jelas itu akan menjadi masalah besar jika diketahui oleh orang lain, apalagi jika diketahui oleh para tetua. Bisa jadi, semua akses bagi Julion untuk menemui Dalila atau berinteraksi dengannya akan benar-benar terputus. Jelas, Julion tidak ingin sampai hal itu terjadi. Membayangkannya saja sudah terasa sangat mengerikan. Jadi, Julion akan bertindak lebih berhati-hati ke deppannya.
“Jika aku menjadi Max, aku tidak akan pernah melibatkanmu dalam situasi dan misi yang berbahaya ini, Dalila,” ucap Julion tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Dalila.
Rasanya Dalila memang sudah mendapatkan seluruh perhatiannya, hingga Julion tidak bisa memikirkan hal lai saat ini. “Aku jelas harus terlibat dalam perjalanan misi pembersihan ini,” ucap Julion dengan tegas mengatakan jika dirinya memang benar-benar harus terlibat dalam perjalanan tersebut.
Karena Julion merasa, Max yang akan menjadi kapten atau pemimpin tim pasti akan fokus pada tugasnya. Ia akan terlalu sibuk memimpin tim dan membagi tugas, hingga tidak bisa memberikan perhatian pada istrinya yang jelas sangat pemula dalam hal tersebut. Julion mengenal betul bagaimana sifat Max saat menjalankan tugas dalam sebuah tim. Ia akan fokus hingga tidak bisa memberikan perhatiannya pada orang lain. Jadi, Julion rasa Dalila memang akan sangat tidak cocok terlibat dengan perjalanan tersebut. Apalagi Dalila sangat pemula dalam hal ini.
Julion sangat mencemaskan kondisi Dalila. Karena itulah, Julion harus menjadi salah satu anggota pasukan yang akan menjalankan misi. Tentu saja untuk menjaga Dalila. Ia tidak peduli dengan Max atau yang lain yang memang tidak membutuhkan bantuan berupa pengalaman dan seua pengetahuannya mengenai kaum pembelot yang jelas akan memberikan bantuan besar terhadap misi tersebut. Namun, Julion harus terlibat untuk memberikan perlindungan bagi Dalila yang memang belum memiliki pengalaman apa pun.
“Tapi aku yakin jika Max tidak akan membiarkanku terlibat dengan mudah. Apalagi ia memiliki kekuasaan penuh dalam membentuk tim. Aku jelas akan sulit untuk bergabung jika hanya menggunakan cara yang sudah pasti,” ucap Julion mulai menganalisis cara yang bisa membuatnya terlibat dalam misi, dan menjadi salah satu anggota tim yang akan melakukan perjalanan panjang yang berbahaya.
Sebelumnya Julion memang sudah sangat percaya diri ketika berbicara dengan adiknya. Berkata jika dirinya akan terlibat dalam perjalanan tersebut dengan segala cara dengan memanfaatkan kesempatan yang muncul. Namun, Julion sebenarnya belum menemukan cara yang tepat. Walaupun dirinya sudah mendapatkan gambaran, hal seperti apa yang harus ia lakukan sebagai langkah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. “Kurasa, aku perlu melakukan apa yang memang sudah kupikirkan,” ucap Julion lalu mengubah posisinya menjadi duduk menghadap area balkon kamarnya.
Tidak membutuhkan waktu lama kini Julion sudah memutuskan rencana seperti apa yang akan ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. “Dengan cara itu, aku yakin para tetua akan mengizinkan diriku terlibat dalam perjalanan ini. Aku pun bisa tenang untuk melindungi Dalila sepenuhnya,” ucap Julion.
Julion akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. “Akan kutunjukkan bahwa aku bisa menciptakan jalanku sendiri, Max. Bersiaplah untuk merasa lebih kesal daripada ini,” ucap Julion sembari menyeringai karena membayangkan bahwa apa yang akan ia lakukan bisa membuat Max semakin kesal dan membencinya.
“Sepertinya ini akan sangat menyenangkan,” gumam Julion lalu memejamkan matanya. Memilih untuk benar-benar beristirahat untuk memulai rencananya yang sesungguhnya esok hari.
Sementara Joe yang masih berada di gedung Asosiasi Kaum Immortal sebagai pemimpin dari para peneliti yang tengah meneliti sampel wabah, tampak memeriksa laporan yang diberikan oleh bawahannya dan mengangguk puas dengan laporan yang sudah ia baca. “Kita benar-benar tinggal melakukan penyempurnaan dan melakukan uji coba selama melakukan penyempurnaan nantinya,” ucap Joe.
Joe pun menatap para bawahannya yang tidak hanya berasal dari kaum vampire, tetapi juga ada yang berasal dari kaum yang lain. Mengingat jika hal ini adalah hal yang membahayan seluruh kaum, baik kaum immortal maupun kaum manusia. Para ahli kimia dari berbagai kaum kini sudah berkumpul menjadi satu dan membantu Joe untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai wabah dan cara penanganannya. Semua bawahan yang mendengar arahan Joe, segera mengangguk dan berseru kompak, “Baik, Tuan!”
“Kerja bagus. Lanjutkan apa yang tengah kalian kerjakan saat ini,” ucap Joe lalu meninggalkan labolatorium.
Joe meninggalkan labolatorium khusus yang dibangun oleh pihak Asosiasi Kaum Imortal, bukan untuk pulang tetapi untuk menemui salah satu tetua untuk mendiskusikan masalah yang membuat dirinya merasa sangat gelisah. Tentu saja masalah tersebut tidak lain adalah masalah yang berkaitan dengan Julion dan perasaannya terhadap Dalila. Tentunya Joe bukannya akan membocorkan mengenai masalah tersebut, tetapi lebih kepada dirinya yang meminta jika apa pun yang terjadi nantinya, Julion memang lebih baik tinggal di daerah perlindungan dan memimpin selagi tim khusus tengah menjalankan misi pembersihan.
Namun ternyata, tetua yang bisa ditemui oleh Joe hanya Arfel. Sebab dua tetua yang lain kini sudah tidak lagi terlihat karena tengah menjalankan tugas mereka. Arfel mempersilakan Joe masuk ke dalam ruangannya karena sadar ada hal yang ingin dibicarakan secara serius dan pribadi oleh Joe. Begitu mereka duduk berhadapan, Arfel pun bertanya, “Apa hal yang ingin kau bicarakan, Joe? Sepertinya, ini bukan hal yang berkaitan dengan penelitian obat wabah.”
Joe yang mendengar pertanyaan tersebut tersenyum tipis. Merasa jika pengamatan Arfel sangat luar biasa hingga menyadari hal yang biasanya tidak disadari oleh orang-orang yang berada di sekitar Joe. Karena itulah Joe berkata dengan jujur, “Aku ingin membicarakan mengenai kak Julion.”
Arfel yang mendengarnya pun mengernyitkan keningnya. “Kakakmu? Memangnya ada masalah apa dengan kakakmu itu, Joe?” tanya Arfel meminta Joe untuk melanjutkan apa yang ia bicarakan.
“Tidak ada hal yang terjadi pada kakak. Hanya saja, aku harap para tetua tetap tidak mengizinkan kakak untuk terlibat dalam perjalanan. Karena kurasa kakak lebih baik tinggal untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang calon pemimpin kaum,” jawab Joe dengan ekspresi tenang.
Tidak ada riak emosi yang janggal di wajah Joe, hingga Arfel menyimpulkan jika apa yang terjadi tersebut tak lain hanya muncul dari rasa khawatir dari seseorang yang memang sangat mencintai kaumnya. “Tidak perlu cemas. Aku tidak akan mengubah keputusan yang sudah kuambil. Julion memang akan tinggal di daerah perlindungan. Ia harus mulai berlatih untuk memimpin,” ucap Arfel menenangkan Joe dan memintanya untuk merasa cemas.
Meskipun sudah mendengar hal tersebut, tetapi Joe masih belum bisa merasa tenang. Ia tahu jika Julion sudah merencanakan sesuatu yang jelas bisa membuat para tetua mengubah keputusan yang sudah mereka ambil ini. Joe tahu seberapa berkeras dan bertekadnya Julion jika sudah menginginkan sesuatu. Keresahan yang dirasakan oleh Joe tentu saja terbaca oleh Arfel dan sang tetua pun berkata, “Tenanglah. Semuanya akan tetap seperti apa yang sudah kita rencanakan pada awalnya. Jadi, tidak perlu memikirkan hal ini. Kau hanya perlu fokus pada apa yang tengah kau kerjakan.”
Joe pun berusaha untuk melakukan apa yang sudah dikatakan oleh Arfel. Joe akan berusaha percaya pada para tetua yang tidak akan mudah dirayu oleh Julion yang saat ini tengah menyusun rencana. Saat ini Joe jelas harus fokus dengan penelitian wabah yang tengah ia pimpin. Joe pun berkata, “Baik, terima kasih karena sudah meluangkan waktumu.”
Arfel yang mendengarnya tentu saja mengangguk dengan senyuman tipisnya. “Tidak perlu sungkan, Joe. Kau sendiri adalah salah satu calon pemimpin di masa depan, jadi jangan bertingkah seolah-olah kau adalah bawahanku dan menerapkan jarak di antara kita,” ucap Arfel.
Nanun Joe yang mendengar hal itu terdiam. Raut wajahnya terlihat tidak nyaman sebelum berkata, “Tidak. Calon pemimpin kaum vampire hanya satu, yaitu kak Julion. Aku hanyalah seorang peneliti dan tidak bisa dibandingkan dengannya.”