Guru Baru 2

1948 Kata
“Jangan biarkan dia melakukan kontak fisik apa pun denganmu.” “Jika dia menatapmu lebih dari tiga detik, tusuk saja matanya dengan jarimu.” “Kalau dia berani memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau sukai, berteriaklah.” “Jika dia  berjarak kurang dari satu meter darimu, tendang saja selanngkangannya. Atau hajar sesukamu. Aku yang akan bertanggung jawab atas hal tersebut.”     “Jika dia—” “Astaga, hentikan!” seru Dalila benar-benar merasa frusatsi dengan tingkah suaminya yang terus saja mengabsen apa saja yang tidak boleh Dalila lakukan bersama degan Julion. Seakan-akan Dalila akan menghabiskan waktu dua puluh empat jam berduaan dengan pria itu. Padahal, Dalila yakin, jika pun memang berlatih berduaan pun, pasti akan ada setidaknya satu atau dua orang yang mengawasi. Rasanya sudah lebih dari satu jam, Max menahan dirinya dan menyebutkan semua hal itu tanpa merasa lelah. Padahal, telinga Dalila serasa akan berdarah saat itu juga karena semua perkataan Max. Saat Dalila akan menghentikan perkataan suaminya itu, Max sudah lebih dulu kembali melanjutkan perkataannya. Sama sekali tidak menyediakan celah bagi Dalila untuk menginterupsi perkataannya yang membuat Dalila sakit kepala. Dalila sebenarnya paham dengan kecemasan Max yang berkaitan dengan buruknya hubungan antara dirinya dengan Julion. Namun, Max terlalu berlebihan. Sangat-sangat berlebihan, seakan-akan Julion bisa menyerang atau melakukan hal buruk lainnya terhadap Dalila. Jika pun benar hubungan Max dan Julion seburuk itu, rasanya Dalila sama sekali tidak terlibat dalam masalah itu. Julion juga tidak mungkin sebodoh itu, hingga melukai dirinya karena masalah yang ia miliki dengan Max. “Kenapa kau malah marah?” tanya Max tidak mengerti. Tentu saja Max merasa marah pula, karena berpikir jika Dalila tidak senang mendapatkan berbagai larangan yang membatasi interaksi dirinya dan Julion saat mendapatkan pelatihan nantinya. Memikirkan bahwa Dalila kemungkinan besar sudah menantikan pertemuannya dengan Julion, membuat Max merasa sangat jengkel. Merasa jika dirinya dikalahkan oleh musuh bubuyutannya itu. Dalila pun menghela napas. Ia hampir kehabisan akal untuk menghadapi suaminya ini. “Bagaimana aku tidak marah, jika kau memperlakukanku seperti anak kecil? Kau melarangku untuk melakukan ini dan itu. Seakan-akan aku tidak bisa membedakan mana hal yang benar dan mana hal yang benar,” ucap Dalila benar-benar jengkel. Max pun terdiam. Seakan-akan dirinya tidak menyangka jika hal itulah yang akan dipikirkan oleh Dalila. Padahal, jelas bukan itu niat Max mengatakan semua itu. Max kini terlihat seperti seekor anak anjing yang mengaing karena sadar sudah melakukan kesalahan, dan tengah menunggu untuk mendapatkan hukuman dari tuannya. Tentu saja hal itu terlihat sangat menggemaskan. Apalagi selama ini Max selalu tampil dengan ekspresi serius atau ekspresi menyebalkan yang mengajak Dalila untuk bertengkar setiap saat. Dalila pun mengurut pelipisnya yang terasa tegang. Ia menatap Max, mempertimbangkan harus seperti apa dirinya menghadapi suaminya yang terkadang melakukan hal-hal yang tidak bisa ia terima ini. Dalila jelas tidak menyukai sikap berlebihan Max. Namun, Dalila juga tidak menemukan solusi harus seperti apa dirinya membuat Max mengerti dengan apa yang ia inginkan. Dalila pun berpikir, jika mungkin saja Max akan memahami apa yang ia inginnkan, jika dirinya menjelaskannya dengan baik-baik. Karena itulah, Dalila pun berkata, “Aku bisa memahami hal yang membuatmu cemas. Kau mungkin terbawa dengan masalah yang berkaitan dengan hubunganmu dan Julion. Tapi, tolong jangan bertindak seperti ini. Aku benar-benar bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk. Jadi, jangan mendikte diriku seperti anak kecil.” Namun, sepertinya apa yang ia jelaskan belum sepenuhnya membuat Max puas. Suaminya itu masih terlihat mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Seolah-olah apa yang dikatakan oleh Dalila memang belum membuatnya puas. Dalila yang melihat hal itu pun bertolak pinggang. “Sekarang lebih baik kau katakan, sebenarnya apa yang membuatmu cemas berlebihan seperti ini? Memangnya kau pikir, Julion sebodoh itu hingga berniat melukaiku di tengah daerah kekuasaan suamiku sendiri? Aku rasa bukan Julion yang bodoh, tetapi kau. Bagaimana mungkin kau berpikir hal seperti itu?” tanya Dalila tak habis pikir. Max tidak menjawab dengan tegas pertanyaan yang sudah diajukan oleh istrinya itu. Max malah terlihat bergumam tidak jelas, seperti anak kecil yang tidak berani mengatakan keinginannya kepada sang ibu. Dalila tentu saja tidak bisa mengerti dan mendengar apa yang digumamkan oleh Max, karena dirinya tidak memiliki pendengaran setajam pria itu. Namun, setelah beberapa saat, Dalila pun sadar apa yang membuat Max seperti ini. Dalila teringat momen ketika Max kesal, karena Dalila mengagumi pria lain. Kemungkinan besar, hal inilah yang saat ini tengah terjadi. Menurut informasi yang Dalila baca di buku, para kaum immortal yang sudah berpasangan, memang akan sangat protektiv dan obsesiv pada pasangan mereka. Akan ada ketakutan yang besar mengenai kemungkinan kekasih mereka berpaling atau direbut oleh orang lain. Max memang tidak mengatakan dan menunjukan tanda-tanda itu secara tegas, mungkin mengingat dengan harga dirinya. Namun, Dalila bisa dengan mudah menyimpulkannya. Karena dengan kesimpulan itu, Dalila pun berkata, “Jangan merasa cemas. Aku tidak mungkin berselingkuh, atau berpaling pada pria lain.” Ucapan Dalila tersebut jelas membuat Max terkejut. “A, Apa yang kau katakan?” tanya Max merasa gugup. Mungkin, itu kali pertama bagi Max merasa gugup seperti itu. Dan entah mengapa hal itu terasa sangat menggemaskan di mata Dalila. “Memangnya, kau pikir aku mengatakan apa?” tanya Dalila agak jengkel merasa jika Max terlalu bodoh mengenai hal seperti ini. Pantas saja selama ini Max tidak memiliki kekasih. Dalila mengasihani dirinya sendiri karena memiliki suami yang lambat dalam hubungan seperti Max. Namun, Dalila sendiri merasa beruntung karena memiliki suami yang juga sama-sama pemula dalam hubungan. Dalila merasa jika dirinya mendapatkan sesuatu yang berharga. Namun, tak lama Dalila pun berkata, “Kita mungkin menikah memang tanpa dasar cinta, tetapi aku adalah orang yang beradab. Selama hidupku, aku hidup dengan didikan ayahku. Ia mendidik diriku untuk menjadi manusia yang berbudi dan memiliki kesetiaan. Karena itulah, aku tidak mungkin berselingkuh dari suamiku sendiri. Lagi pula, aku rasa Julion tidak semenawan itu untuk membuatku berpaling darimu.” Mendengar hal itu, Max sendiri merasa sangat lega. Jujur saja, ia merasa sangat senang karena Dalila jelas-jelas memuji tampilannya yang lebih unggul dari Julion. Bukan hanya tampilan, tetapi segala hal yang berkaitan dengannya memang lebih unggul daripada Julion. Melihat raut wajah Max yang sudah lebih baik daripada sebelumnya, membuat Dalila tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. “Sekarang sudah jelas, bukan? Kau tidak perlu cemas, akan kemungkinan diriku yang berpaling diriku. Kau juga tidak perlu merasa cemburu, karena aku sama sekali tidak tertarik pada Julion,” ucap Dalila sembari menyeringai. Membuat Max membulatkan matanya. “Memangnya siapa yang mengatakan jika aku cemburu pada Bajinga*n itu?!” tanya Max tidak terima dengan pernyataan Dalila yang jelas-jelas sangat menjengkelkan di telinganya.       ***       “Jadi, kita mulai latihannya?” tanya Julion sembari tersenyum lembut pada Dalila. Tentu saja Dalila kini sudah siap dengan pakaian berlatihnya, rambutnya juga diikat menjadi satu agar gerakannya nanti sama sekali tidak terhambat atau terhalang. Sebenarnya, Max tadi tidak mengizinkan dirinya untuk mengikat rambutnya tinggi-tinggi seperti ini. Karena leher putihnya kan terpampang dengan mulusnya. Namun, Dalila tidak bisa mengikuti perintah Max untuk melepaskan ikatan rambutnya. Karena latihan yang akan dilakukan Dalila adalah latihan fisik, sudah dipastikan akan terasa sangat merepotkan jika melakukan latihan tersebut dengan rambut yang tergerai. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Dalila jengkel, karena repot oleh rambunya sendiri. Dalila hanya ingin fokus pada latihannya, karena itulah ia harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Termasuk dalam masalah berpakaian. Ia harus menggunakan pakaian dan berpenampilan senyaman mungkin. Walaupun pada akhirnya Dalila harus mengenakan kaon turtle neck dan celana panjang yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, Dalila berusaha untuk menerimanya. Untungnya, pakaian itu menempel erat pada tubuhnya. Jadi, tetap membuat Dalila bisa bergerak dengan bebas. Setidaknya, Dalila harus berusaha untuk membuat dirinya nyaman dengan pakaian ini. Dalila merindukan sport bra dan celana legging yang yang ia kenakan selama melakukan evaluasi bulanan bersama rekan-rekannya sesama pengawal elit. Namun, jika Dalila mengenakan pakaian semacam itu, sudah dipastikan jika Max bahkan tidak akan mengizinkan dirinya untuk melangkah ke luar dari kamar. “Ya, mohon bimbingannya,” ucap Dalila formal. Julion yang menyadari hal itu pun menggeleng. “Tidak perlu berbicara formal seperti itu padaku. Berbicaralah sesantai mungkin.  Apalagi ke depannya kita akan semakin sering bertemu sebagai murid dan guru,” ucap Julion memang ingin berbicara santai dengan Dalila. Namun, sayangnya Dalila tidak terlalu menanggapi permintaan Julion tersebut. Ia malah bertanya, “Jadi, untuk kali ini apa yang akan aku pelajari?” Julion tentu saja menyadari jika Dalila menarik garis batas agar Julion tidak terlalu akrab dengannya. Lalu, Julion pun memilih untuk memulai acara belajar tersebut. Kali ini, Julion akan mengajari Dalila dasar penggunaan sihir. Sebenarnya, kaum serigala juga memiliki kemampuan untuk menggunakan sihir seperti ini. Namun, kaum vampire lebih fokus dalam penggunaan sihir dan pengembangannnya. Karena itulah, Julion mengambil tugas untuk mengajari Dalila dalam penggunaan sihir. Sementara Max nantinya akan mengajari Dalila mengenai penggunaan kekuatan fisik, serta pengembangannya yang dikombinasikan dengan penggunaan sihir. “Karena sebelumnya aku dengar kau sudah membaca buku mengenai kaum vampire, aku rasa kita bisa mulai dalam pembahasan sihir, dan memulai untuk mencari dasar dari elemen sihirmu,” ucap Julion. Dalila pun mulai larut dalam penjelasan dan pelajaran yang diberikan oleh Julion. Saking fokusnya, Dalila bahkan tidak menyadari keberadaan Max yang bersembunyi di semak-semak dan mengintip latihan Dalila. Tentu saja jika Dalila menyadarinya, ia akan marah dan mengusir Max. Namun, untungnya, Dalila tidak menyadari hal itu dan fokus dengan pertunjukan Julion yang menunjukan sihirnya. Julio ternyata menguasai elemen api. Elemen yang kabarnya paling kuat. Pantas saja Julion dinobatkan sebagai pemimpin kaum vampire selanjutnya. “Nah, sekarang untuk mencari atribut sihirmu, kita bisa melakukannya dengan perlahan. Coba pejamkan matamu, dan hilangkan apa pun yang kau pikirkan, dan fokus mengenai apa yang ada di dalam dirimu. Sesuatu yang mungkin saja tidak pernah kau sadari selama ini,” ucap Julion memberikan pengarahan. Karena mereka berlatih menggunakan sihir, tentu saja mereka berlatih di area terbuka. Di area berlatih di mana biasanya Dalila dan Max berlatih. Dalila pun mengikuti arahan Julion untuk mencari atribut sihirnya. Namun, ternyata secara mengejutkan, Dalila tidak hanya memiliki satu atribut sihir, melainkan dua sekaligus, itupun dengan sifat yang berlawanan. Hal itu tak lain adalah air dan api. Begitu Dalila bisa menemukan atributnya, Dalila membuka matanya dan salah satu matanya berubah warna menjadi merah, identitas bagi kaum vampire. Lalu aura merah dan biru terlihat mengelilingi Dalila, aura yang menunjukan atribut sihir yang dimiliki oleh Dalila. “Wah, aku belum pernah melihat seseorang yang berhasil menemukan atribut sihirnya secepat ini. Kau memang berbakat,” puji Julion sembari tersenyum. Mendapatkan pujian tersebut, Dalila pun tersenyum. Tampilan Dalila pun kembali ke semula. Julion mematung saat dirinya melihat senyuman cantik dari Dalila. Namun, Julion berdeham dan berkata, “Tapi, menurutku kau hanya perlu fokus pada salah satunya. Sebab, kedua atribut ini sangat berlawanan. Akan berbahaya jika kau mempelajarinya di waktu yang bersamaan.” “Kalau begitu, aku akan memutuskannya setelah berdiskusi dengan suamiku,” ucap Dalila membuat Julion agak menyurutkan senyumannya. Julion mengulurkan tangannya dan menyentuh puncak kepala Dalila, seakan-akan berusaha membersihkan rambut Dalila dari dedaunan kering yang menghiasinya. Padahal, Julion jelas-jelas tengah berusaha memprovokasi Max yang ia ketahui tengah mencuri dengan dan mengintip kegiatan belajar mereka. Julion pun berkata, “Betapa beruntungnya Max memiliki istri sepertimu, Dalila. Jika saja aku lebih dulu bertemu denganmu, aku rasa aku akan habis-habisan mengejarmu dan membuatmu menjadi miliku.” Saat itu pula Max ke luar dari persembunyiannya dan memaki, “Dasar Bajinga*n, menjauh dari istriku!” Tentu saja Dalila terkejut dengan kehadiran Max di sana. Lebih terkejut saat tiba-tiba Max sudah memanggulnya dan membawanya pergi begitu saja dari area berlatih, sembari terus memaki Max. Dalila yang merasa pusing segera berteriak, “Turunkan aku, Max!” “Tidak. Kita harus cepat kembali ke kamar. Kau harus segera mandi dan membersihkan kepalamu yang sudah disentuh oleh Bajinga*n itu!” balas Max membuat Dalila benar-benar sudah kehabisan kata. Dalila menyerah. Dalila membiarkan Max melakukan apa pun yang ia inginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN