Baru tiga kali Dalila dan Julion bertemu sebagai guru serta murid. Namun, Max sudah tidak tahan lagi membiarkan istrinya kembali dengan pria itu. Terutama setelah Max melihat jika Julion memang secara terang-terangan membuat kontak fisik dengan Dalila. Seakan-akan tahu jika hal itu sangat dibenci oleh Max. Julion jelas menantang Max dengan tidak mengindahkan apa yang sudah ia peringatkan sebelumnya.
Memang seharusnya sejak awal dirinya tidak memberikan kesempatan apa pun pada Julion untuk menginjakan kakinya di daerah kekuasaan kaum manusia serigala. Julion memang memiliki kemampuan, tetapi menurut Max, Julion sama sekali tidak pantas untuk menjadi guru Dalila. Julion hanya membuat masalah. Atau lebih tepatnya mencari cara untuk memantik masalah dengannya.
Max menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Dalila pun ke luar dari walk in closet yang memang terhubung dengan kamar mandi mereka. Sudah terlihat, bahwa Dalila sudha bersiap dengan pakaian berlatihnya. Tanda jika dirinya memang sudah akan pergi ke area berlatih untuk berlatih dengan Julion. Mengingat jika hari ini adalah jadwal Dalila untuk berlatih dengan pria itu.
Sebelumnya, Dalila kembali marah pada Max, karena suaminya itu sudah melakukan hal yang memalukan. Di mana Max membawa Dalila pergi begitu saja di tengah kelas. Terlebih dengan memanggul Dalila bak barang atau karung pasir. Tentu saja Dalila merasa malu. Tidak hanya Julion, tetapi hampir semua orang yang berada di mansion tersebut bisa melihat hal tersebut. Bagaimana mungkin Dalila tidak merasa malu karena hal tersebut.
Namun, untungnya hubungan mereka bisa kembali membaik dalam waktu yang cepat. Rasanya, pertengkaran bukanlah hal yang aneh bagi keduanya. Sehari bertengkar, maka tidak akan membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk kembali berbaikan. Mungkin, ini ada kaitannya dengan hubungan yang telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Serta bagaimana keduanya sama-sama memiliki pola tanda yang mengikat janji mereka di hadapan Sang Pencipta.
Saat Dalila akan mengenakan sepatunya, Max pun berkata, “Hari ini, Julion tidak datang. Ia memiliki sesuatu yang perlu ia urus. Jadi, aku yang akan mengambil alih kelasnya.”
Mendengar hal itu, Dalila pun tidak melanjutkan niatnya untuk mengenakan sepatu. Dalila pun memilih untuk kembai berbaring di atas ranjang. Sementara Max duduk di sofa yang memang menghadap langsung pada ranjang. “Jadi, apa sekarang aku akan melatih kekuatan fisikku?” tanya Dalila.
“Kenapa, apa kau kecewa?” tanya Max tidak menyembunyikan nada tidak suka dalam pertanyaannya.
Dalila mendengkus. “Pencemburu,” cela Dalila membuat Max merasa jengkel.
“Lihat, siapa yang mengatakan hal itu?” tanya Max gemas bukan main pada Dalila yang malih berguling-guling di atas ranjang mereka yang memang berukuran luas.
Sepertinya Dalila ingin menunjukan bahwa dirinya saat ini memang tidak ingin bergerak terlalu keras. Meskipun kini Max sudah tidak lagi melatih Dalila sekeras sebelumnya, sesuai dengan apa yang disarankan oleh Dante, tetapi Dalila masih merasa jika pelatihan fisik terlalu berat baginya. Tubuhnya yang sudah sangat terbiasa dengan pelatihan fisik atlet dan pengawal elit sama sekali tidak bisa bertahan. Hal itu membuat Dalila berpikir, apa mungkin dirinya menua dengan cepat? Padahal, dengan darah campuran yang ia miliki, Dalila pikir jika dirinya akan hidup lebih lama daripada manusia pada umumnya.
“Padahal aku ingin menunjukan sihir yang baru saja aku kuasai,” ucap Dalila mengeluh.
Max sendiri sadar, mungkin karena sihir adalah hal yang sangat baru Dalila yang selama ini hidup sebagai manusi, maka Dalila lebih antusias dalam pelatihan tersebut. Terlebih, Dalila mendapatkan guru yang sama-sama memiliki atribut api. Benar, pada akhirnya Dalila memilih api sebagai atribut utamanya. Jadi, untuk saat ini Dalila akan fokus mempelajari sihir yang berkaitan dengan api.
“Lalu apa hubungannya dengan kelas yang dibatalkan? Bukankah kau bisa menunjukannya padaku? Meskipun kaum manusia seriga memang lebih mengedepankan kekuatan fisik kami yang luar biasa, tetapi kami juga bisa menggunakan sihir. Walaupun, penggunaan sihir kami agak berbeda, tetapi dasarnya masih tetap sama,” ucap Max membuat Dalila bangkit dan duduk dengan tegap.
“Kalau begitu, apakah kau bisa menilai sihirku?” tanya Dalila tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.
“Tunjukan saja,” ucap Max.
Lalu Dalila pun merapalkan mantra dan berkonsentrasi, lalu tak lama muncul sebuah bola api yang muncul di tangannya. Dalila tersenyum lebar dan menunjukan bola api itu dengan bangga. “Bukankah ini menakjubkan? Aku akhirnya bisa mengendalikannya,” ucap Dalila benar-benar terlihat senang.
Namun, belum juga Max memberikan pujian, bola api itu membesar dan membuat Dalila terkejut. Ia kehilangan kendali, dan hampir saja membakar kamar utama tersebut. Untungnya, dengan kemampuan telekinesis yang dimiliki oleh Max, ia pun menyiram bola api itu dengan air yang kebetulan berada di atas nakas. Dalila pun menghela napas, setidaknya kamar itu tidak jadi terbakar. Sementara Max menatap dengan penuh peringatan sebelum berkata, “Jangan gegabah. Bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya padamu? Menggunakan sihir tidak boleh terburu-buru.”
Dalila mengerucutkan bibirnya. Namun, tidak mengelak karena dirinya memang salah. Max pun mengeluarkan sebuah buku bersampul merah dari tangannya seolah-olah melakukan sebuah sulap yang menakjubkan. Max pun berkata, “Kau tetap akan belajar sihir. Kau harus berterima kasih, karena aku berhasil mendapatkan buku ini.”
Setelah mengatakan hal itu, Max bangkit dari posisinya dan berpindah untuk duduk di hadapan Dalila. Ia memberikan buku itu pada Dalila, dan membuat Dalila terkejut. “Bukankah ini buku milik kaum vampire?” tanya Dalila.
“Ya,” jawab Max singkat. Seakan-akan itu bukanlah hal yang menakjubkan.
“Padahal, sebelumnya Julion berkata jika mendapatkan buku ini sulit. Bagaimana mungkin kau bisa mendapatkan buku ini?” tanya Dalila.
Julion memang tidak mungkin menemukan buku tersebut, karena Joe—adik Julion—sendiri yang menyembunyikan buku tersebut. Max tidak tahu alasan mengapa Joe menyembunyikan buku tersebut, tetapi untungnya Joe mau meminjamkan buku itu. Walaupun hanya sehari saja, dan hanya Dalila yang diperkenankan untuk melihat isi buku tersebut dan mempelajarinya. Setidaknya, ini akan membantu Dalila yang terbilang sebagai vampire muda yang memang belum memiliki kemampuan sihir yang baik.
Max yang mendengarnya pun mengulurkan tangannya untuk memainkan rambut Dalila. Hal itu sepertinya sudah menjadi kegiatan yang paling disukai oleh Max. “Selain kaya, aku adalah yang memiliki kuasa dan pengaruh, Dalila. Baik di dunia manusia, maupun di dunia immortal, aku sama-sama memiliki kekuasan yang besar. Meskipun sulit, tidak ada hal yang mustahil bagiku. Aku, pasti bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk buku ini. Jadi, kini jelas, aku yang lebih hebat dibandingkan Bajinga*n itu,” cela Max pada Julion yang tengah berada jauh dari mereka.
**
Julion terlihat menyesap minumannya dengan gerakan yang begitu elegan. Terlihat jika darah bangsawan yang dimilki oleh Julion sangat berpengaruh dalam hal tersebut. Bukan rahasia lagi jika para pemimpin kaum immortal memang pada dasarnya adalah seorang bangsawan. Karena seorang pemimpin kaum immortal mendapatkan posisi tersebut secara turun-temurun disusul dengan kemampuan yang memang sesuai dengan kualifikasi. Jadi, hampir seluruhnya para pemimpin kaum memiliki darah bangsawan yang kental.
Julion meletakan gelasnya di atas meja. Ia pun menatap seorang pemuda yang tampak lebih muda beberapa tahun darinya. Namun, secara fisik ia terlihat sama-sama matang dan menawannya dengan Julion. Rambut keduanya sama-sama pirang, tanda jika keduanya memiliki keturunan dari kaum vampire. Hanya warna mata saja yang berbeda. Jika Julion memiliki netra biru jernig, maka sosok pemuda di hadapannya memiliki netra hijau yang terlihat begitu segar.
“Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku, Joe?” tanya Julion.
Benar, sosok pemuda yang berada di hadapan Julion tak lain adalah Joe. Sosok adik yang selama ini sudah lama tidak ia temui, karena Julion yang mengambil tugas untuk memimpin kaumnya melakukan pemberantasan kaum pembelot. Karena saudara yang memiliki darah yang sama, keduanya sama-sama terlihat menawan. Bahkan akan sulit untuk menilai mana yang lebih menawan di antara keduanya.
“Apa Kakak tidak mau berbasa-basi dulu denganku? Bukankah kita sudah sangat lama tidak bertemu?” tanya balik Joe dengan tenang. Berbeda dengan Julion yang memiliki kesan hangat, Joe terlihat cukup dingin. Bukan hanya cukup, tetapi memang sangat dingin. Keduanya selayaknya kutub magnet yang memang memiliki sifat berlawanan.
Julion yang mendengar pertanyaan itu pun mengulum senyum. Meskipun terkesan dingin, tetapi Julion tahu bahwa adiknya ini memiliki sifat yang lembut. Julion pun terkekeh pelan, saat dirinya mengingat momen di mana Joe yang masih kecil terus saja mengikutinya ke sana ke mari. Saat mereka kecil, mereka memang memiliki hubungan yang sangat dekat. Sayangnya, ketika menjadi dewasa, keduanya sama-sama menarik diri. Ada sebuah garis tak kasat mata yang membatasi keduanya, hingga tidak bisa kembali seperti di masa lalu.
“Jadi, bagaimana kabarmu Adik? Aku yakin kau baik-baik saja, dan merindukan diriku. Kita memang sudah lama tidak bertemu. Berapa lama, tepatnya? Delapan tahun?” tanya Julion tidak yakin.
“Sembilan tahun kurang tujuh puluh hari,” ralat Joe detail membuat Julion benar-benar tidak bisa menahan tawanya. Ternyata Joe memang menantikan dirinya pulang. Sejak awal, Joe yang menentang usulan Julion untuk memimpin sendiri pembasmian. Itu terlalu berbahaya.
Julion memang memiliki kekuatan yang luar biasa sebegai calon pemipin kaum vampire selanjutnya. Namun, Julion tidak bisa terlalu gegabah seperti itu. Harusnya sembilan tahun yang lalu Julion tetap berada di daerah kekuasaan vampire dan membantu Arfel dalam memimpin. Karena beberapa tahun mendatang jabatan itu akan segera diturunkan padanya. Joe pun menghela napas melihat tingkah kakaknya ini.
“Sepertinya Kakak juga baik-baik saja karena masih bisa membuat sedikit masalah dengan kaum manusia serigala,” ucap Joe membuat Julion mengernyitkan keningnya.
“Aku tidak membuat masalah apa pun dengan mereka, Joe. Aku malah tengah membuat hubungan kita agar segera membaik,” elak Julion.
Sayangnya, Joe tidak sependapat dengan Julion. Jika memang tindakan Julion menjadi guru bagi Luna baru dari kaum manusia serigala yang muncul secara tiba-tiba itu, bisa memperbaiki hubungan antara kaum, Max tidak mungkin meminjam buku mengenai atribut sihir api untuk istrinya. Sebenarnya, fakta mengenai keberadaan Dalila sebagai seorang anak campuran hanya diketahui oleh segelintir orang. Yaitu orang-orang yang imenjadi inti dari kaum mereka masing-masing.
Joe yang memang anggota keluarga pemimpin kaum, tentu saja mengetahui fakta bahwa Dalila adalah anak dari hubungan terlarang dari kaum vampire dan kaum manusia serigala. Eksistensi Dalila sebenarnya pernah dipertanyakan, bahkan disangsikan karena dianggap mustahil benar-benar terlahir di dunia. Namun, kini memang ada bukti nyata mengenai seorang anak campuran. Demi melindunginya yang masih memiliki kekuatan tidak stabil, maka para petinggi memutuskan untuk merahasiakan fakta ini terlebih dahulu, hingga waktunya tiba.
“Sebaiknya Kakak mundur dari tugas menjadi guru Luna kaum manusia serigala itu. Biar aku yang mengambil alih, sementara Kakak bisa kembali untuk mengurus permasalah kaum vampire di kastil,” ucap Joe.
“Kenapa harus?” tanya Julion sama sekali tidak berpikir. Karena ia merasa tidak bisa mengert permintaan dari sang adik.
“Kakak, mungkin saat ini belum ada masalah. Tapi aku tidak yakin ke depannya. Hubunganmu dan Alpha Max tidak sebaik itu hingga kau bisa dengan leluasa masuk dan ke luar dari kediamannya,” ucap Joe.
“Tidak perlu cemas. Keamananku bahkan dijamin oleh para tetua. Jadi, fokus saja dengan tugas yang sudah kau dapatkan,” ucap Julion.
Joe yang mendengar hal itu pun berkata, “Kakak, ayolah. Jangan keras kepala seperti ini. Jika hubungan antar kaum kembali memburuk, itu akan berdampak pada masa depan, terlebih pada diri Kakak sendiri. Bisa saja, nanti akan ada masalah dengan penerimaan posisi pemimpin yang memang sudah seharusnya Kakak dapatkan.”
Julion yang memahami kegelisahaan adiknya, tersenyum tipis. Ia masih terlihat tenang dan berkata, “Seperti yang aku katakan, jangan cemas. Aku tau, apa yang tengah aku lakukan. Sekarang, aku tengah menikmati waktuku. Karena aku sudah lama tidak menemui hal yang menarik seperti ini. Aku tentu saja tidak mungkin melepaskan hal menarik yang sangat menghiburku ini.”