Julion benar-benar terkejut dengan apa yang sudah bisa dilakukan oleh Dalila. Ternyata, Dalila sudah berhasil membuat bola api yang stabil, dalam satu hari. Lebih dari itu, ternyata Dalila sudah bisa membentuk benda lain dengan apinya. Pengendalian yang luar biasa baik bagi seseorang yang jelas baru mempelajari hal ini. Julion menyadari sesuatu di sana. Tidak mungkin Dalila mempelajarinya seorang diri, apalagi Dalila tidak memiliki dasar kemampuan sihir. Sebelumnya Dalila hidup sebagai manusia seumur hidupnya.
Jika sebelumnya Dalila sudah mengetahui mengenai sihir, mungkin Julion akan menganggap hal ini masuk akal. Namun, Dalila jelas-jelas sebelumnya bahkan tidak mengetahui eksistensi kaum immortal. Jadi, sudah dipastikan jika ada yang membantu Dalila. Tentu saja seseorang ini adalah orang yang mengetahui pengetahuan yang mendalam mengenai kaum vampire dan elemen kekuatan api. Max pasti bukan orangnya, karena Max tidak memiliki elemen api, kekuatan yang ia miliki semacam telekinesis dan kekuatan fisik. Kekuatan sihir Max sebagai manusia serigala memang berbeda dengan Julion.
Meskipun masih berusaha untuk menebak siapa yang sudah mengajari Dalila hingga handal seperti ini, Julion pun menyunggingkan senyuman manisnya. Tentu saja Julion harus memuji kemajuan yang Dalila. Sebagai seorang guru, hal terpenting dalam sesi belajar adalah memberikan pujian yang tepat. Pujian yang tidak membuat anak didiknya merasa puas, tetapi membuatnya termotivasi agar semakin berusaha untuk mendapatkan hasil terbaik dari usahanya tersebut.
“Kerja bagus. Aku benar-benar tidak menyangka, jika aku memiliki seorang murid yang memiliki kemampuan luar biasa sepertimu,” ucap Julion memuji Dalila tanpa merasa ragu sedikit pun.
Dalila yang mendapatkan pujian seperti itu tentu saja tersenyum dengan lebarnya. Senyuman yang terlihat begitu bersinar, dan memukau Julion. Hal itu membuat Julion terdiam. Jujur saja, Julion terpukau dengan pesona Dalila. Jika berbicara dengan kecantikan, kaum immortal memang memiliki penampilan yang jauh di atas rata-rata. Kebanyakan dari mereka bahkan memiliki penampilan yang disebut sebagai penampilan yang sempurna oleh kaum manusia.
Julion tentu saja sudah bertemu dengan banyak orang. Entah itu makhluk immortal maupun manusia biasa. Namun, tidak ada yang memiliki pesona yang sangat memukau seperti yang dimiliki oleh Dalila. Pesona yang benar-benar membuat Julion tergerak untuk tetap melihat Dalila di sekitarnya. Bahkan, baru-baru ini Julion merasakan dorongan untuk menjaga Dalila tetap berada di sisinya. Tentu saja Julion sadar, jika hal itu sangatlah berbahaya. Julion jelas tidak boleh berpikir seperti itu, mengigat status dari Dalila.
“Terima kasih atas pujiannya,” jawab Dalila masih tersenyum.
Ucapan Dalila tersebut masih belum bisa membuat Julion tersadar. Pria itu masih menatap Dalila dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Dalila merasa tidak nyaman. Memang, netra biru jernih Julion terlihat sangat indah. Namun, Dalila tidak memiliki rasa senang yang sama seperti dirinya tengah ditatap oleh Max. Ketika Max menatapnya dengan lekat, jantung Dalila akan berdegup dengan sangat kencang. Seakan-akan sangat senang dengan fakta bahwa hanya dirinyalah yang menjadi foku suaminya itu. Jelas itu berbeda dengan perasaan yang saat ini tengah Dalila rasakan.
“Julion?” tanya Dalila menyadarkan Julion dari lamunannya.
Julion pun tertawa canggung dan berkata, “Ah, maafkan aku. Aku malah larut dalam pemikiranku sendiri.”
Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Julion pun kembali dalam pembahasan pembelajaran Dalila. “Karena kini kau sudah berhasil membuat beberapa bentuk dengan sihirmu, dan aku rasa kemampuan fisik yang kau latih dengan Max juga sudah sangat baik, bagaimana jika untuk jadwal selanjutnya kita melakukan latihan bertarung?” tanya Julion.
Usulan itu rupanya disambut dengan sangat antusias oleh Dalila. Rasanya sudah lama semenjak dirinya tidak melakuka latihan bertarung. Sebelumnya, Dalila dengan mudah dikalahkan oleh Max. Namun, kini Dalila yakin jika kemampuannya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Untuk melihat sejauh mana kemampuannya berkembang, Dalila rasa melakukan latihan bertarung adalah ide yang bagus. Hanya saja, Dalila tetap tidak bisa memutuskannya sendiri. Karena kesepakatan yang sudah ia buat sebelumnya dengan Max, Dalila harus mendengar pendapat suaminya itu terlebih dahulu.
“Itu terdengar menarik. Tapi, aku harus meminta izin terlebih dahulu pada Max,” ucap Dalila membuat Julion merasakan sesuatu yang menggeliat dalam hatinya. Perasaan tidak senang, seakan-akan seharusnya Dalila tidak memperlakukan Max seperti itu.
Ini mungkin gila, tetapi Julion benar-benar merasakan perasaan tidak senang yang mengisi hatinya. Namun, Julion berusaha untuk mengendalikan ekspresinya. Tentu saja Julion masih memiliki sopan santun, untuk tidak menunjukan hal seperti itu di hadapan Dalila. Ia adalah orang yang berkelas, dan ia perlu menunjukan kelasnya itu.
“Wah, Max memang sangat beruntung memiliki seorang istri sepertimu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku melewatkan kesempatan untuk mendapatkan istri sempurna sepertimu,” ucap Julion membuat Dalila terkejut. Entah mengapa Dalila merasakan keseriusan dalam perkataan Julion tersebut. Tentu saja hal itu membuat Dalila merasa sangat gelisah.
Dalila pun pada akhirnya memilih untuk mengalihkan topic pembicaraan dan bertanya, “Apa aku juga bisa memulai mempelajari elemen air?”
Julion pun sadar jika Dalila memang berusaha untuk mengalihkan topic pembicaraan. Karena itulah, Julion memilih untuk mengikuti langkah Dalila. Karena tidak mau membuat Dalila merasa tidak nyaman. Julion pun mulai membicarakan perihal elemen air sebagai pelajaran tambahan untuk Dalila. Keduanya pun melupakan pembicaraan canggung sebelumnya dan larut dalam pembicaraan yang cukup menyenangkan mengenai sihir dan hal-hal berkaitan lainnya.
Keduanya terlalu asyik dengan kegiatan mereka, hingga mereka tidak menyadari jika kini Max tengah mengamati apa yang tengah keduanya lakukan. Tentu saja terlihat dengan jelas ekspresi tidak senang yang menghiasi wajah tampannya. Dante yang berada di ruangan itu juga bisa merasakan betapa buruknya suasana hati Max saat ini. sebagai seorang bawahan, sekaligus seorang pria dari kaum manusia serigala, tentu saja Dante bisa memahami hal apa yang membuat suasana hati Max seburuk ini.
Selain terhadap teritori, kaum serigala sagat protektif terhadap wanita atau pasangan mereka. Sangat menyiksa rasanya ketika harus menahan diri melihat pasangan mereka berdekatan dengan lawan jenisnya. Apalagi, dalam kasus Max yang memiliki ikatan mate dengan Dalila. Sangat menyiksa, hingga Max ingin melompat saat ini juga dan menghajar Julion sebelum membawa Dalila menjauh darinya. Julion rupanya tidak pantang menyerah. Entah apa alasannya Julion bersikukuh menjadi guru bagi Dalila.
Padahal, sebelumnya Max sudah berdiskusi dengan Joe. Max meminta Joe untuk menggantikan Julion, dan Joe memang sudah bersedia. Absennya Julion kemarin adalah bagian dari rencana Max. Namun, ternyata hari ini Julion kembali, dan itu artinya Joe tidak berhasil membujuk Julion untuk berhenti menjadi guru bagi Dalila.
“Kira-kira, harus kuapakan Bajinga*n itu?” tanya Max pada Dante yang masih berada di posisinya. Menunggu perintah lanjutan dari sang tuan.
“Saya yakin, Anda yang lebih tau hal seperti apa yang harus Anda lakukan. Saya hanya bisa mengingatkan, agar tidak melakukan sesuatu yang mungkin bisa membuat perang pecah antar kaum. Dengan situasi saat ini, kita harus fokus agar kita tidak tepecah belah. Karena itu bisa dimanfaatkan oleh para Pembelot untuk menyusup dan membuat kekacauan yang lebih besar,” jawab Dante melakukan tugasnya sebagai seorang penasihat dari Max.
Max tentu saja sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Dante tersebut. Meskipun dirinya marah, ia harus bertindak dengan hati-hati. Jika dirinya menyerang atau melukai Julion, maka ini bukan lagi mengenai hubungannya dengan Julion, melainkan sudah berkaitan dengan masalah antara dua klan. Rasanya, Max jengkel bukan main dan ingin segera menyingkirkan Julion dari pandangannya.
“Sepertinya aku sudah menemukan cara yang tepat,” ucap Max membuat Dante mengangkat alisnya. Tentu saja Dante merasa penasaran dengan rencana yang dimiliki oleh tuannya itu. Namun, Dante menahan diri untuk tidak bertanya, karena itu akan dianggap sebagai hal yang tidak sopan.
Dante yang memang berdiri di belakang punggung ax hanya bisa sedikit menundukan kepalanya dan berkata, “Semoga apa yang Tuan rencanakan berjalan lancar. Saya siap membantu apa pun yang Tuan inginkan.”
**
Julion mengernyitkan keningnya saat dirinya tidak melihat Dalila di area berlatih. Hari ini masihlah jadwal latihan Dalila dengan dirinya, dan Julion akan menanyakan keputusan Dalila mengenai latihan bertarung yang sebelumnya sudah Julion bahas dengan Dalila. Namun, alih-alih menemukan Dalila di area berlatih, ia malah disambut oleh para prajurit kaum manusia serigala yang menatapnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka seakan-akan tengah melihat seorang musuh yang berani masuk ke area kekuasaan mereka.
Merasa jika Julion harus memastikan apa yang terjadi, ia pun berbalik untuk memasuki bagian gedung yang difungsikan sebagai tempat di mana aktivitas administrasi berlangsung. Untungnya, Julion bertemu dengan Dante, sang Beta yang sangat setia pada Max. Sepertinya, Dante sendiri memang ingin bertemu dengan Julion. Begitu sudah berhadapan, Dante sedikit memberikan hormat pada Julion, mengingat Julion statusnya memang lebih tinggi daripada dirinya.
“Kebetulan kita bertemu, ada yang ingin kutanyakan,” ucap Julion.
“Saya rasa, saya tau apa yang akan Anda tanyakan, Tuan Julion,” balas Dante dengan senyuman profesionalnya.
Dante memang berbeda daripada kaum manusia serigala yang lain. Dante bukannya tidak mengingat hubungan buruk antara kaumnya dengan kaum vampire, tetapi Dante berpikir jika setidaknya harus ada seseorang yang berpikir dengar jernih antara perselisihan tersebut. Karena itulah, Dante marasa jika dirinya harus menjadi air dingin di antara kobarakan api permusuhan Max dan Julion. Tentu saja Julion yang melihat hal tersebut bisa menyadarinya. Dante
“Benarkah? Memangnya, menurutmu apa yang ingin aku tanyakan?” tanya Julion terlihat cerah, seakan-akan dirinya tengah memainkan teka-teki dengan bawahan dari Max itu.
“Saya yakin, Anda pasti ingin menanyakan keberadaan Nyonya Dalila,” jawab Dante tersenyum tipis.
Tentu saja jawaban Dante sangat tepat. “Benar. Jadi, di mana Dalila? Kenapa ia tidak berada di area berlatih, dan arean berlatih malah dipenuhi oleh para prajurit yang tengah berlatih?” tanya Julion.
“Nyonya Dalila saat ini tidak bisa mengikuti sesi belajar dan berlatih dengan Tuan.”
Jwaban yang diberikan oleh Dante tentu saja membuat Julion mengernyitkan keningnya. Merasa jika jawaban tersebut terasa sangat janggal. “Atas alasan apa Dalila melewatkan sesi belajar ini? Aku tentu saja harus mengetahui alasannya,” ucap Julion.
“Saat ini Tuan dan Nyonya tengah mengurus sesuatu. Saya sendiri tidak mengetahui detailnya, karena keduanya tengah mengurung diri di dalam ruang kerja. Saya tentu saja tidak bisa menginterupsi hal tersebut, terlebih Tuan sudah memberikan peringatan bagi saya untuk tidak mengganggu waktu mereka,” ucap Dante.
Julion mengernyitkan keningnya, seolah-olah tidak bisa menerima alasan yang diberikan oleh Dante. Namun, Dante tidak memiliki tugas untuk membuat Julion memahami atau menerima alasan yang sudah ia jelaskan. Dante pun berkata, “Karena itulah, Tuan bisa kembali esok hari untuk melanjutkan sesi belajar dengan Nyonya.”
Pada akhirnya, Julion pun kembali dari sana begitu saja karena tidak ada gunanya menunggu di sana. Karena sudah jelas-jelas Julion tidak akan bisa bertemu dengan Dalila. Julion pun pergi dengan pemikiran jika esok hari dirinya bisa bertemu dengan Dalila. Sayangnya, keesokan harinya pun sama. Julion tidak bisa bertemu dengan Dalila lagi. Namun, kali ini alasannya adalah Max yang sama sekali tidak mengizinkan Dalila ke luar dari kamar. Beralasan jika dirinya tidak bisa melepaskan istri tercintanya itu, dan membuat Julion harus kembali dengan tangan kosong. Jelas, Max mempermainkan Julion, dan Julion kini terlihat seperti orang bodoh.
“Maaf Tuan, sepertinya Tuan Max memang tidak bisa melepaskan diri dari Nyonya. Begitu pun Nyonya. Sepertinya, Tuan harus maklum karena mereka adalah pasangan suami istri baru,” ucap Dante tersenyum. Julion yang mendengar hal itu pun segera berbalik pergi. Tidak memiliki niat untuk menghabiskan waktu lebih lama di tempat tersebut.
“Dasar Anjing Siala*n,” maki Julion dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Meskipun terlihat normal, tetapi orang-orang yang sudah mengenal Julion dengan baik, bisa menilai jika saat ini Julion sangat marah. Benar, saking marahnya, Julion pun tertantang untuk membalas permainan Max ini.