Dalila terlihat menyantap sarapannya dalam diam. Meskipun tidak mengatakan apa pun, tetapi Max tahu jika sarapan itu sesuai dengan selera Dalila. Tentu saja pengalaman tinggal bersama, membuat Max cukup tahu selera Dalila seperti apa. Max menyesap kopinya dengan nikmat lalu berkata, “Hari ini kita belajar penggunaan sihir tahap menengah.”
Mendengar hal itu Dalila terkejut. Ia meletakkan alat makannya dan menatap suaminya dengan kening mengernyit. “Apa tidak apa-apa? Aku baru seminggu yang lalu berlajar sihir tahap awal,” ucap Dalila agak ragu.
Ya, baru saja kemarin dirinya belajar sihir tahap awal dan berhasil mendapatkan pujian dari orang-orang karena ia memang belajar dengan cepat. Namun, kali ini Max mengatakan jika dirinya akan belajar sihir tahap selanjutnya. Kecemasan Dalila sebenarnya bukan tanpa alasan. Karena selama seminggu ini, atau lebih tepatnya setelah Dalila berlatih dengan Julion, Dalila tidak bisa ke luar dari kamarnya. Benar, Max mengurungnya di dalam kamarnya.
Atau lebih tepantnya, Max memaksa untuk menghabiskan waktu mereka sepenuhnya di dalam kamar. Di mulai makan, hingga berlatih, semuanya di lakukan di dalam kamar. Jujur saja, Dalila tidak mengerti mengapa Max memaksa dirinya untuk melakukan hal tersebut. Saat Dalila memaksa untuk ke luar karena alasan bosan, Max akan melilit tubuh Dalila di atas ranjang. Sama sekai tidak membiarkan Dalila turun dari ranjang sedikit pun, hal tersebut memaksa Dalila menuruti apa yang diinginkan oleh suaminya itu.
“Tidak perlu mencemaskan apa pun, kau istriku, dan kau adalah wanita yang hebat,” ucap Max membuat Dalila berdeham karena merasa sangat gugup.
Jika Max sudah mengatakan hal-hal seperti ini, pasti Max akan melakukan kontak fisik yang terasa memalukan bagi Dalila. Terasa memalukan sekaligus menyenangkan di waktu yang sama. Kontak fisik yang membuat Dalila merasakan jantungnya berdegup dengan sangat keras, bahkan hampir membuat Dalila merasakan sakit pada dadanya. Dan benar saja, Max melakukan apa yang dipikirkan oleh Dalila.
Pria itu mengulurkan tangannya dan menyeka remahan kue kering yang sebelumnya dimakan oleh Dalila. Lalu tanpa disangka-sangka, Max menjilat remahan pada jemarinya itu dengan gerakan sensual. Tatapan netra keemasannya yang tajam sama sekali tidak meninggalkan Dalila, dan hal itu semakin membuat Dalila yang ditatapnya merasa gugup. Menurutnya, Max semakin tidak tahu malu saja selama seminggu ini. Ia juga semakin berani melakukan tingkah gila yang membuat Dalila merasa pusing.
“Jangan melakukan hal memalukan seperti itu!” seru Dalila merasa sangat kesal karena sadar jika Max tengah menggodanya.
“Aku tidak melakukan hal yang memalukan. Aku hanya mencicipi kukis yang kau makan,” ucap Max mengelak tuduhan yang diajukan oleh Dalila tersebut.
Namun, alasan itu jelas tidak bisa diterima oleh Dalila. Perempuan cantik itu mengernyitkan keningnya dan menatap Max dengan penuh celaan. Namun, Max sama sekali tidak merasa terganggu oleh tatapan tersebut. Ia malah merasa sangat tertarik, karena netra biru jernih milik Dalila terlihat sangat berkilau. Membuatnya ingin terus menatapnya, dan tidak membiarkan siapa pun ditatap oleh netra biru yang indah itu.
Jujur saja, alasan mengapa Max mengurung diri selama seminggu dengan Dalila di dalam kamar, salah satunya adalah karena hal tersebut. Max tidak ingin, Dalila menatap pria lain, terutama Julion. Menurut Max, Julion adalah b******n yang bisa memanfaatkan kesempatan apa pun yang berada di hadapannya. Saat ini, jelas-jelas ada perasaan tertarik yang dirasakan oleh Julion pada Dalila. Terlebih dengan elemen sihir dan sebagian darah vampire yang dimiliki oleh Dalila, jelas sangat wajar jika Julion memiliki ketertarikan pada Dalila yang menawan.
Meskipun bisa dikatakan wajar, tetapi Max tidak tahan dengan pemikirkan jika ada pria lain yang memiliki perasaan terhadap istrinya. Apalagi jika itu Julion. Max juga tidak suka dengan kedekatan yang terjalin di antara keduanya tengah berlatih sihir. Karena itulah, Max harus mengambil langkah yang tepat untuk memisahkan Dalila dengan Julion. Jangan sampai Dalila juga merasakan hal yang sama dengan Julion. Walaupun sebenranya Max yakin jika Dalila tidak akan mungkin memiliki perasaan seperti itu, tetapi Max harus tetap waspada.
“Hentikan mengatakan omong kosongmu itu!” seru Dalila benar-benar jengkel dengan godaan Max tersebut.
“Baiklah, mari hentikan. Tapi aku tidak main-main dengan perkataanku sebelumnya,” ucap Max.
Dalila mengernyitkan keningnya, “Tapi bukankah lebih baik kita mendiskusikan ini dengan Julion dulu? Mengingat dia adalah guruku dalam bidang sihir.”
Kini giliran Max yang mengernyitkan keningnya. Terlihat sangat tidak senang saat Dalila membahas Julio. Raut wajahnya menggelap. Tanda jika Max sangat membenci Julion. Dalila sendiri terdiam, tidak menyangka jika reaksi Max akan sekeras ini. Namun, Dalila berusaha untuk tetap tenang. Toh ia yakin jika Max tidak akan melukainya. Entah dari mana Dalila memiliki keyakinan semacam itu.
“Jangan pernah menyebut nama Bajinga*n itu, Dalila. Aku membencinya, dan lebih membencinya ketika kau menyebut namanya seperti barusan,” ucap Max membuat Dalila menghela napas.
“Kita tidak perlu mendiskusikan apa pun dengannya. Toh, aku lebih dari cukup untuk mengajarimu. Bukankah seminggu ini kau sendiri melihat kemampuan dan pengetahuanku?” tanya Max lagi.
Kesombongan Max memang berdasar. Selama seminggu ini, Max memang memberikan pengalaman baru dan pengetahuan baru terhadap Dalila. Ia kira, Max hanya memiliki kemampuan pengubah wujud dan telekinesis saja. Namun, ternyata Max melampaui harapan dan ekspektasi Dalila. Max memiliki begitu banyak kemampuan dan pengetahua yang sangat luas. Hal itu membuat Max yang memang sudah menawan, semakin terlihat menawan dengan citra seorang pria yang cerdas.
Bahkan Max memiliki pengetahuan mengenai elemen api dan air yang memang dimiliki oleh Dalila. Ada banyak buku khusus yang Dalila rasa tidak pernah ia lihat di perpustakaan. Sudah pasti, buku ini adalah buku yang tidak mudah untuk didapatkan. Dengan bantuan buku-buku dan arahan Max, Dalila memang sudah mendapatkan sedikit banyak kemajuan dalam kemampuan sihirnya. Jadi, tidak salah jika Max ingin Dalila naik ke tingkah selanjutnya dalam penggunaan sihir.
“Sekarang, kau harus mempelajari penggunaan sihir kombinasi dengan kemampuan fisikmu,” ucap Max.
“Bukankah lebih baik kita berlatih di luar ruangan jika ingin melatih kemampuan fisik?” tanya Dalila.
Max menyeringai dan menjawab, “Memangnya kau pikir latihan fisik hanya bisa dilakukan di luar ruangan? Kurasa, di dalam kamar pun bisa.”
Max lalu melirik ranjang dan membuat wajah Dalila seketika memerah. “Dasar gila, apa yang kau pikirkan?” tanya Dalila dengan nada tinggi.
“Bukankah aku yang harus menanyakan hal itu? Apa yang kau pikirkan hingga memerah seperti ini?” tanya balik Max membuat Dalila merasakan kekesalannya yang memuncak. Max benar-benar menguji kesabarannya.
Max yang melihat raut kesal Dalila, hanya mengulum senyum tipis. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Dalila dengan lembut, membuat Dalila seketika menahan napasnya. Jujur saja ia tidak menyangka jika Max akan menyentuhnya seperti itu. Namun, Dalila tidak menarik diri dan membiarkan Max untuk tetap melanjutkan sentuhannya tersebut. Max yang menyadari hal itu pun tersenyum semakin lebar.
“Aku tidak menggodamu. Kita memang akan melakukan semuanya di dalam kamar, dan di atas ranjang. Kau harus merasakan energi sihirmu yang mengalir dalam darah dan ototmu. Semuanya diawali dengan meditasi. Karena itulah, kita tidak perlu pergi ke luar dari belajar di dalam kamar,” ucap Max.
“Akan sampai kapan kita tetap di kamar? Bukankah kau juga seharusnya melakukan pertemuan dan mengerjakan tugasmu?” tanya Dalila.
“Tidak, semuanya pekerjaanku sudah beres. Lalu untuk pertemuan, aku tidak memiliki jadwal pertemuan dengan siapa pun,” jawab Max.
Lalu tak lama, Max pun segera mengarahkan Dalila untuk melakukan meditasi di atas ranjang. Keduanya duduk berhadapan dengan kaki bersila. Dalila mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Max dengan baik. “Mulai rasakan energi sihir yang mengalir di aliran darah dan ototmu. Mereka terasa sangat unik, dan menarik. Coba rasakan terlebih dahulu secara perlahan,” ucap Max sembari menutup mata.
Dalila yang juga tengah menutup mata, berusaha untuk mengikuti arahan tersebut. Ia berkonsentrasi dan mencari hal yang sudah disebutkan oleh Max. Sesuatu yang unik dan mengalir di dalam darahnya. Tak membutuhkan waktu lama, Dalila bisa menemukan apa yang dimaksud oleh Max. Hal itu juga disadari oleh Max, dan membuatnya mengulum senyum. Sesuai dugaannya, Dalila memang cepat belajar. “Sekarang coba arahkan mereka untuk berkumpul di tengah perutmu,” ucap Max kembali memberikan arahan.
Dalila tentu saja berusaha untuk melakukannya sebaik mungkin, walaupun tentu saja itu terasa sangat sulit. Hampir, Dalila hampir bisa menyelesaikan tahap itu, sebelum Dalila tiba-tiba merasakan dadanya sesak dan panas. Dalila seakan-akan merasakan bara api membakar dadanya dari dalam. Saat itulah Max menyentuh pipi Dalila, membuatnya membuka mata dan menatap netra keemasan Max dengan napas terengah-engah. Max menenangkan Dalila dan berkata, “Kerja bagus. Tenanglah, sekarang kau baik-baik saja. Kau melakukannya dengan hebat, sesuai dengan apa yang kuperkirakan.”
Dalila masih berusaha untuk mengendalikan napasnya yang terngah-engah. Apa yang terjadi barusan sangat cepat dan menakutkan. Dalila meyentuh dadanya yang sudah tidak lagi terasa sesak atau panas. Melihat hal itu, Max pun berkata, “Itu adalah hal yang wajar saat kau mengumpulkan kekuatan sihir dan memperkuat fisikmu. Kau pasti terkejut. Maafkan aku.”
Mendengar perkataan maaf yang tidak terduga, tentu saja membuat Dalila merasa sangat terkejut. Ia bahkan lebih terkejut daripada saat dirinya merasakan dadanya sesak dan panas saat meditasi tadi. Dalila menatap Max yang benar-benar terlihat menyesal karena telah membuat Dalila mengalami hal yang mengejutkan tadi. Dalila berdeham dan berniat untuk menenangkan suaminya itu, tetapi Max sudah lebih dulu berkata, “Untuk membayar kesalahanku, biarkan aku memberikan hadiah untukmu.”
“Hadiah? Aku tidak membutuhkan hadiah apa pun, jadi tidak perlu macam-macam,” ucap Dalila lalu beranjak untuk membersihkan diri.
Tanpa terasa ternyata meditasi yang dilakukan oleh Dalila dan Max memakan waktu yang lama. Saat ini saja sudah larut malam, berarti meditasi tadi memang memakan waktu berjam-jam lamanya. Tentu saja saat ini Dalila ingin memberishkan dirinya dan segera beristirahat. Ia yakin jika latihan kali sudah selesai, dan memang sudah waktunya ia beristirahat.
Namun, Max menarik Dalila untuk kembali ke tempatnya. Sayangnya karena tidak memperkirakan hal tersebut, Dalila tidak bisa mempertahankan keseimbangannya dan berakhir dengan terbaring di atas ranjang. Belum sempat bereaksi, Max sudah setengah menindih tubuhnya. “Hei!” seru Dalila dengan melotot galak.
Max yang melihat hal itu terkekeh dan berkata, “Kau seperti anak anjing menggemaskan yang baru saja belajar menyalak.”
“Minggir! Aku ingin mandi,” ucap Dalila berusaha untuk mendorong tubuh suaminya itu. Namun, Max sama sekali tidak bergeser seinci pun. Tanda jika Max memang tidak akan menuruti apa yang diinginkan oleh Dalila.
“Argh menyebalkan! Sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Dalila pada akhirnya.
“Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku ingin memberimu hadiah. Selain karena kau sudah melakukan latihan dengan sangat baik, juga untuk menebus kesalahanku,” ucap Max.
“Dan bukankah aku sudah mengatakan tidak perlu? Sekarang minggir!” seru Dalila kembali berusaha untuk mendorong Max menjauh. Sayangnya, Max malah menggenggam kedua tangan Dalila di masing-masing sisi tubuhnya.
Max tiba-tiba mengecup bibir Dalila berkali-kali, tidak memberikan kesempatan pada Dalila untuk menyuarakan kemarahan atas tindakan suaminya itu. Pada akhirnya Dalila diam, dan membat Max melanjutkan kecupan tersebut menjadi sebuah ciuman yang dalam. Dalila sendiri dengan mudahnya terbuai akan ciuman dalam yang terasa manis membuai dirinya, kini Max bahkan tidak perlu menahan tangan Dalila. Sebab kini Dalila tidak lagi mendorongnya, ia malah melingkarkan kedua tangannya di leher Max, seakan-akan Dalila memintanya untuk tidak menghentikan ciuman tersebut.
Tak lama, Max menghentikan ciumannya dan melepaskan ciuman tersebut. Max menatap wajah Dalila yang sudah memerah dengan cantiknya. Sebagai pasangan yang ditakdirkan, keduanya sudah memiliki sifat alami yang saling memuja satu sama lain. Sesuatu yang mendorong mereka untuk selalu memiliki kontak fisik yang membuat mereka mabuk. “Bersiaplah untuk hadiah utamamu, Dalila. Aku tidak akan membuatmu tidur malam ini,” gumam Max sebelum melanjutkan kegiatannya membuat Dalila menjerit-jerit semalaman.