Manisnya Max 2

1954 Kata
Max mencium bagu Dalila yang masih terlelap dalam pelukannya. Malam yang sangat panas dan b*******h telah mereka lewati. Satu lagi kenangan indah yang sudah mereka buat sebagai pasangan suami istri.  Malam yang penuh akan gairah itu sepertinya sangat membuat Dalila kelelahan. Hingga membuatnya tidak bangun meskipun ini sudah sangat siang. Biasanya, meskipun kemarin sudah melakukan latihan yang melelahkan sekali pun, Dalila pasti bangun tepat waktu keesokan paginya. Namun, kali ini berbeda. Sepertinya malam tadi Max terlalu berlebihan memberikan hadiah untuk istrinya ini, hingga membuat Dalila bahkan tidur selayaknya orang mati. Meskipun begitu, Max tidak merasa menyesal. Karena malam yang mereka lewati enar-benar sangat hebat, dan Max malah berpikir untuk kembali mengulang malam hebat itu. Ia teringat dengan perkatan Tyska yang memintanya untuk bergegas membuat Dalila hamil untuk mengendalikan kekuatan besar yang dimiliki oleh istrinya itu. Rasanya, tidak masalah bagi Max untuk terus membuat Dalila terjaga tiap malam karena permainan panas mereka. “Eungh,” erang Dalila merasa tidak nyaman dengan posisinya dan berbalik untuk menghadap Max dan semakin masuk ke dalam pelukan suaminya itu. Tentu saja Max sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Dalila itu. Ia malah berniat untuk seharian menghabiskan waktu dengan Dalila di atas ranjang seperti ini. Max pun mengusap-usap punggung mulus Dalila yang tidak ditutupi apa pun di dalam selimut. Rupanya, sentuhan tersebut membuat Dalila sedikit mendapatkan kesadarannya dan mulai membuka matanya. Saat itulah Dalila disambut dengan pemandangan indah berupa wajah tampan Max yang dihiasi oleh senyuman manis yang membuat jantung Dalila seketika berdetak dengan gila. “Selamat pagi, istriku,” ucap Max lalu mencium bibir Dalila dengan lembut. Ciuman mengejutkan yang membuat Dalila terdiam, dan berusaha untuk mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi barusan. Atau lebih tepatnya, apa yang telah terjadi tadi malam, hingga membuat dirinya terbangun dalam kondisi tanpa busana dan dalam pelukan Max yang tersenyum dengan cerahnya. Entah mengapa, Dalila merasa seakan-akan telah dikalahkan oleh pria itu. Dalila mengernyitkan keningnya, dan membuat Max mencium kening istrinya itu dengan lembut. “Apa yang kau pikirkan hingga mengernyitkan keningmu seperti itu, dan bukannya menjawab ucapan selamat pagiku?” tanya Max bertingkah manis di hadapan istrinya itu. Sikap manis yang entah mengapa membuat Dalila merasa merinding. Tentu saja Dalial merasa sangat aneh, mengingat selama ini Max tidak pernah bertingkah seperti ini di hadapannya. Sikap manisnya berbeda daripada biasanya, membuat Dalila merasa jika pria di hadapannya seakan-akan bukanlah Max yang ia kenal. Pada akhirnya Dalila mendorong d**a Max dan berkata, “Sekarang menjauh. AKu ingin mandi.” Max mengeratkan pelukannya, seakan-akan tidak akan mengizinkan Dalila untuk menjauh seinci pun darinya. Tentu saja hal itu membuat Dalila merasa frustasi. Rasanya ia selalu dikalahkan oleh Max yang tidak mau mendengarkan apa pun yang diminta olehnya. Max pun berkata, “Bagaimana jika kita mandi bersama saja? Itu pasti akan sangat menyenangkan.” Dalila pun menatap wajah Max, dan melihat sesuatu yang aneh. Ia yakin jika ada yang direncanakan oleh suaminya ini. Lalu tanpa ragu Dalila berkata, “Kau pasti merencanakan sesuatu. Apa kau pikir aku ini bodoh? Aku bisa menyadari apa yang kau rencanakan. Pasti kau tidak akan membiarkanku mandi begitu saja. Dasar mesum.” Max tertawa saat mendengar apa yang dikatakan oleh Dalila. Ia sama sekali tidak bisa menolak, karena apa yang dikatakan oleh Dalila memang benar. Max saat ini sudah memiliki rencana untuk membuat acara mandi mereka terasa lebih menyenangkan, dan jelas lebih lama daripada seharusnya. Max pun pada akhirnya menjawab, “Wah, sepertinya kau sudah benar-benar mengenali suamimu sendiri, Dalila.” Dalila pun sadar jika apa yang ia simpulkan memang benar adanya. Max memiliki rencana aneh mengenai acara mandi yang tengah bicarakan. Tentu saja Dalila tidak akan membiarkan Max mendapatkan apa yang ia inginkan. Sudah cukup tadi malam Dalila membiarkan Max melakukan apa pun yang ia inginkan, karena Dalila memang pada dasarnya sudah kecolongan dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Namun, kali ini tidak. Dalila akan melakukan hal yang tegas. “Jangan bermimpi. Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan hal apa yang kau inginkan,” ucap Dalila dan berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Max. Sayangnya, Max sendiri tidak mau mengalah. Ia segera memanggul Dalila yang sudah ia gulung dengan selimut dan membawanya menuju kamar mandi sembari berkata, “Sayangnya, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, Dalila.”       **         “Ini waktu yang kami habiskan sebagai pengganti bulan madu. Jadi, jangan berkomentar macam-macam, karena membuatku jengkel,” ucap Max sembari merekam suara dan pesannya untuk membalas pesan yang dikirim para tetua padanya. Dalila yang baru ke luar dari walk in closet dengan rambut yang tergerai, tentu saja bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Max. Ia pun mendekat pada Max yang tengah duduk dan menuliskan sesuatu di kertas. “Apa kalian tidak memiliki ponsel?” tanya Dalila. “Memangnya kita tinggal di zaman purba?” tanya balik Max membuat Dalila mengernyitkan keningnya. “Lalu kenapa kau tidak menggunakan ponsel saja saat membalas pesan mereka?” tanya Dalila lagi, merasa tidak mengerti mengapa Max malah menuliskan surat. Lalu, tak lama Max selesai dengan pekerjaannya menuliskan surat tersebut dan surat itu pun secara mengejutkan berubah menjadi seekor burung dan terbang begitu saja. Tentu saja itu adalah sihir, bentuk sihir baru yang belum pernah Dalila lihat sebelumnya. Cukup menakjubkan hingga membuat Dalila tidak bisa menahan diri untuk tercengang dibuatnya. “Jika menggunakan ponsel, mereka akan terus mencercaku dengan pesan-pesan yang mereka kirimkan. Jika menggunakan surat, untuk beberapa pesan yang tidak aku inginkan, surat itu akan kembali secara otomatis ke pada pengirim, tanda jika aku menolaknya. Aku lebih senang menggunakan sihir.” “Ya, ya, terserahmu saja. Tapi, apa pesan yang mereka kirimkan?” tanya Dalila. “Mereka menegurku, karena membuatmu melewatkan kelas lebih dari satu minggu. Sepertinya bajinga*n Julion mengeluhkan hal ini pada para tetua. Dasar pengecut,” cela Max membuat Dalila mengernyitkan keningnya. “Kenapa kau marah. Jelas-jelas kau yang salah karena sudah membuatku melewatkan pelajaranku dan mengurungku di kamar. Sekarang lebih baik berhenti melakukan hal ini, jangan membuat kekacauan lagi. Kau juga seharusnya tidak lupa dengan alasan mengapa dirinya harus berlatih, dan mendapatkan kelas dari Julion,” ucap Dalila. “Sayangnya, aku tetap akan mengurungmu selama tiga hari ke depan. Tentu saja aku sudah mendapatkan izin dari para tetua untuk melakukan hal itu,” ucap Max lagi lalu menyesap kopinya. Salila yang mendengarnya tentu saja menyipitkan matanya. Ia tentu saja sadar, tidak mungkin para tetua melakukan hal itu begitu saja. “Lalu, apa yang mereka katakan lagi? Aku yakin, mereka tidak hanya memberikan pesan seperti itu,” ucap Dalila mendesak Max untuk mengatakan semuanya dengan jujur. Insting yang dimiliki oleh Dalila membuat Max bersiul. “Insting yang cukup baik. Semakin lama, instingmu semakin menajam rupanya,” ucap Max memuji istrinya itu. Namun, Dalila sama sekali tidak mau dialihkan begitu saja. Ia tetap mendesak Max mengatakan apa yang terjadi dengan sejujur mungkin.  Pada akhirnya, Max pun berkata, “Kita mendapatkan waktu tiga hari lagi untuk bersantai. Tapi, setelahnya kau harus kembali berlatih dan belajar dariku serta Julion. Karena akhir bulan ini, para tetua ingin mengevaluasi kemampuanmu.” “Evaluasi?” tanya Dalila terlihat agak gugup. Sebenarnya Dalila sama sekali tidak merasa asing perihal masalah evaluasi semacam itu. Karena saat dirinya masih menjadi atlet lalu berlanjut menjadi pengawal elit pun, dirinya sudah sangat akrab dengan masalah evaluasi semacam itu. Karena setiap bulannya pun, dirinya selalu melakukan evaluasi tersebut. Namun, kali ini Dalila tidak bisa menghadapi evaluasi ini dengan tenang. Mengingat situasinya saat ini. Dalila sangat baru dalam dunia ini, dan jelas rasanya Dalila belum siap untuk evaluasi yang berada di depan matanya itu. Tentu saja Max bisa menyadari apa yang tengah dirasakan oleh Dalila. Ia pun berkata, “Tidak perlu cemas. Kau sudah berlatih dengan baik selama ini. Jadi, aku rasa evaluasimu nanti pasti akan berjalan sangat lancar.” Namun, perkataan tersebut sepertinya belum cukup untuk Dalila. Ia masih perlu mempelajari banyak hal. Ia pun tidak tahu seperti apa evaluasi yang akan ia hadapi. Jadi wajar saja Dalila merasa cemas seperti ini. Max menggenggam tangan Dalila dan bertanya, “Tenanglah. Lagi pula masih ada waktu untuk menambah kemampuanmu. Kenapa kau masih merasa cemas seperti ini?” “Bagaimana aku tidak merasa cemas? Aku akan dievaluasi mengenai hal yang belum sepenuhnya aku pahami dan kuasai. Bagaimana jika aku nanti hanya mengacaukannya?” tanya Dalila terlihat sangat cemas. “Sekali pun kau mengacaukannya, tidak akan ada yang berani untuk mengatakan hal buruk mengenaimu, Dalila. Kau adalah Luna-ku. Istriku, kekasih hatiku. Menghinamu, berarti menghinaku dan seluruh kaum manusia serigala. Kau tidak perlu cemas. Toh aku yakin, kau pasti bisa melakukannya dengan baik. Ingat apa yang sudah kukatakan padamu, Dalila. Kau adalah wanita hebat,” ucap Max tulus. Ada sebuah kejujuran dan dukungan yang sangat menyentuh hatinya. Max seakan-akan ingin mengatakan jika dirinya akan terus mendukung Dalila apa pun yang terjadi nantinya. Pria itu sepenuhnya meletakkan kepercayaan pada Dalila sepenuhnya. Namun, tetap saja, Dalila memang mendapatkan kepercayaan tersebut, merasa tidak percaya diri pada kemampuannya sendiri. Padahal orang-proang sudah mengakui kemampupan yang dimiliki olehnya. Mendengar hal itu, Max pun menghela napas. Ia beprikir harus seperti apa dirinya membangun rasa percaya diri dari istrinya ini. Sebenarnya, Max belum pernah menghibur atau membangun semngat orang lain. Namun, kali ini Max harus melakukannya demi Dalila. Max pun berkata, “Percaya pada dirimu sendiri, Dalila. Karena hal itulah yang bisa membuatmu mengeluarkan semua kemampuan yang selama ini sudah kau latih.” Dalila terlihat masih berpikir dengan apa yang akan terjadi mengenai evaluasi yang akan segera ia hadapi. Max pun bersandar dengan nyaman dan mengamati Dalila yang duduk di seberangnya. “Aku rasa tidak ada yang perlu kau cemaskan lagi. Kau memiliki kekuatan, kepercayaan, dan pelatih yang memiliki kemampuan baik. Semuanya sempurna dan kau hanya perlu fokus,” ucap Max. “Berbicara saja mudah. Kau tidak mengerti perasanku saat ini,” keluh Dalila tanpa sadar menggunakan nada manis yang membuat Max mengulum senyumnya. “Karena aku mengerti apa yang kau rasakan saat ini, maka aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan sisimu. Aku akan mendukungmu sebagai seorang suami dan seorang guru,” ucap Max bersungguh-sungguh. Namun, Dalila menangkap sesuatu yang aneh dalam perkataan serta raut wajah suaminya itu. “Sekarang apa lagi yang tengah kau rencanakan?” tanya Dalila merasa jika sudah pasti ada sesuatu yang tengah direncakan oleh suaminya itu. “Apa terlihat sekali?” tanya balik Max dengan raut main-main, seakan-akan memang tengah berniat bermain-main dengan Dalila. Mungkin, itu sudah menjadi hobi baru Max untuk menggoda dan membuat Dalila kesal. Dalila yang mendengar pertanyaan itu jelas mendengkus tidak percaya. “Wah, betapa tidak tahu malunya dirimu,” ucap Dalila mencela sikap sang suami. “Hei, aku bukannya tidak tahu malu. Aku tengah menunjukan dukunganku sebagai seorang suami. Jadi, aku akan mendukungmu dengan cara lain sseorang suami. Baiklah, mari kita lihat. Kita memiliki waktu tiga hari lagi, jadi mari kita bangun semangat dengan melakukan kegiatan yang menarik di atas ranjang,” ucap Max membuat Dalila semakin tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Kau benar-benar tidak tahu malu! Jangan pernah mengatakan omong kosong semacam itu lagi di hadapanku!” maki Dalila penuh emosi. Namun, Max malah menyambut makian tersebut dengan kekehannya. Ia menyangga dagunya dengan salah satu tangannya dan berkata, “Kau terlihat garang jika tengah marah seperti ini. Namun, saat kau berada di atas ranjang, kau terlihat liar sekaligus manis. Membuatku semakin tergoda untuk membuatmu kembali berekspresi seperti itu/” “Diam!” seri Dalila sembari melemparkan bantal sofa tepat kea rah wajah Max. Namun, Max berhasil menghindarinya tepat waktu, dan terkekeh senang saat melihat wajah Dalila yang semakin terlihat kesal.   Mendengar hal itu, Dalila tentu saja gugup. Padahal saat ia menjadi atlet atau pun pengawal, ia juga selalu melakukan evaluasi. Namun, kali ibi berbeda. Dan Dalila sangat gugup karenanya. Untungnya, Max menenangkan Dalila dengan cara khasnya yang membuat Dalila jengkel bukan main. Namun, berakhir dengan sikap Max yang manis.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN