Masakan Lezat 2

1948 Kata
“Jika memang sudah menemukan formulanya, bukankah ini artinya obat dari wabah itu sudah hampir selesai?” tanya Max pada para tetua yang memang tengah melakukan rapat rutin setiap bulannya. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Max memang anggota termuda dari pemimpin kaum yang digolongkan menjadi tetua. Mengingat dirinya memang berbeda generasi dengan pemimpin kaum yang lainnya. Hal itu terjadi karena Max harus naik dan menggantikan posisi kedua orang tuanya yang gugup karena sebuah insiden yang jelas mengubah kehidupan Max saat itu juga. Bahkan bisa dibilang kematian kedua orang tuanya membuat sosoknya yang sudah dingin, menjadi lebih dingin dan menutup diri dari orang lain. Meskipun begitu, Max tetap dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat baik. Ia bahkan sudah diramalkan akan menggantikan sosok Arfel sebagai pemimpin dari asosiasi kaum immortal ketika Arfel nantinya harus meninggalkan posisinya sebagai pemimpin kaum vampire. Tentu saja, Arfel harus mengakhiri kepemimpinannya, karena ada anak muda yang sudah siap menjadi pemimpin baru nantinya. Tentu saja orang itu tak lain adalah Julion. Namun, sepertinya Julion tidak akan bisa menjadi pemimpin asosiasi, mengingat jika posisi itu memang akan segera didapatkan oleh Max yang jelas lebih berpengalaman. “Benar. Joe benar-benar berkontribusi dalam hal ini. Ia mampu meneliti dan menemukan celah dalam wabah yang disebar oleh para pembelot. Namun, menurut Joe, obat ini masih harus diteliti dan dikembangkan. Ia memerlukan bantuan untuk mengembangkan dan menyelesaikan penilitian obat tersebut,” ucap Arfel. Mendengar apa yang dikatakan oleh Arfel, Max pun bersandar dengan santai dan berkata, “Kalau begitu aku akan mengirim ahli kimia kaumku untuk membantu.” Tentu saja apa yang dikatakan oleh Max tersebut disambut dengan sangat baik oleh para tetua. Mengingat jika kaum manusia serigala memang memiliki beberapa ahli kimia yang sangat profesional dan memiliki kemampuan yang baik. Jika Max mengutus mereka untuk membantu Joe serta timnya untuk meneliti obat bagi wabah yang disebarkan oleh kaum pembelot, jelas ini akan sangat membantu. Jelas tidak akan membutuhkan waktu terlalu lama untuk mendapatkan final dari obat yang sudah Joe teliti secara pribadi tersebut. “Itu jelas ide yang baik. Mengingat jika hanya kaum manusia serigala yang memiliki ahli kimia yang berkemampuan tinggi. Jelas mereka bisa memberikan kontribusi yang begitu besar dalam penilitian obat ini,” ucap Alison. Tyska sendiri mengamati ekspresi Max yang tampak lebih baik daripada biasanya. Rasanya, entah mengapa Tyska yakin jika suasana hati dan perubahan dalam diri Max ini berasal dari keberadaan Dalila di sisinya. Sepertinya, meskipun disebut mendapatkan kutukan karena harus terikat dengan sosok anak campuran yang juga terkenal sebagai pembawa sial, Max sama sekali tidak memiliki kesialan. Dalila bahkan bisa disebut sebagai bentuk hadiah yang dikirimkan oleh Sang Pencipta secara khusus untuk Max. Mengingat jika Dalila sama sekali tidak membawa dampak buruk bagi Max. Melainkan membawa dampak baik yang jelas terlihat. Setelah pembicaraan penting mengenai penanganan wabah yang masih saja disebar oleh para pembelot selesai, Tyska pun memilih untuk bertanya, “Bagaimana dengan Dalila?” Max yang sebelumnya sudah akan beranjak pergi pun menjawab, “Dia baik. Kondisinya sudah penuh sepenuhnya, dan esok ia akan kembali dengan rutinitasnya sebelumnya. Berlatih dengan jadwal yang sudah ditetapkan.” “Jika ada kesempatan aku ingin bertemu dengan Dalila,” ucap Tyska membuat Max agaknya tidak senang dengan usulan tersebut. Namun, Max berkata, “Aku akan menyampaikannya pada istriku. Jika dia memang ingin bertemu denganmu, kau bisa mengunjungi kediamanku.” Setelah mengatakan hal tersebut pun Max beranjak pergi meninggalkan ruang pertemuan dengan mengabaikan ekspresi terkejut para tetua. Mengingat jika sebelumnya Max sangat sulit memberikan izin pada mereka untuk memasuki area kekuasaannya. Namun, kini Max dengan mudahnya memberikan izin. Walaupun dengan garis bawah, Dalila memang ingin bertemu. Dengan arti lain, Max lebih baik mengizinkan orang lain mengunjungi daerah kekuasaannya, daripada membiarkan Dalila untuk ke luar dari sana. Tipe manusia serigala dan pria yang memang terikat dalam sebuah takdir soulmate. Mereka akan sangat protektif dan tidak senang saat wanita mereka berada di luar jangkauan. Namun, hal tersebut Tyska rasa sangat positif. Karena Max bersikap seperti itu sebagai bentuk rasa cintanya pada Dalila. Ia hanya berusaha untuk melindungi dan memastikan jika istrinya berada dalam kondisi yang aman. “Betapa manisnya,” ucap Tyska memuji Max yang sudah melangkah jauh bersama Dante yang mengikutinya. Kini, Max dan Dante jelas segera beranjak untuk pulang. Max sama sekali tidak memiliki niat untuk menghabiskan waktu lebih lama di luar rumah. Karena ia sudah tidak bisa menahan diri untuk bertemu dengan istrinya. Padahal, baru setengah hari Max tidak melihat wajah istrinya itu sebab ia disibukkan dengan berbagai hal yang harus ia bahas dengan para pemimpin kaum yang lain. Namun, perasaan rindu seakan-akan sudah membuat Max merasa sesak bukan main. Ia ingin segera tiba di kediamannya dan memeluk Dalila dengan erat. Sama sekali tidak akan membiarkannya beranjak pergi darinya. Menyadari apa yang dirasakan oleh sang tuan, Dante yang mengemudikan mobilnya pun mempercepat lajunya. Sebenarnya mereka bisa menggunakan kekuatan fisik mereka yang jelas lebih cepat daripada menggunakan mobil seperti ini. Hanya saja, mereka memilih untuk tetap menggunakannya agar merasa terbiasa. Karena begitu ke luar dari daerah perlindungan. Mereka jelas harus berbaur dengan kehidupan manusia. Jika mereka melakukan sesuatu yang aneh, jelas mereka akan menarik perhatian, bukannya berbaur dengan baik. Tak membutuhkan waktu lama, Max dan Dante pun tiba di kediaman Max yang mewah dan megah. Tentu saja Max segera melangkah dengan tujuan kamar utama. Max lebih dari yakin jika istrinya pasti akan berada di sana. Mengingat selama seminggu ini, Dalila hanya menghabiskan waktu liburannya di kamar. Menikmati waktu bersantai, atau lebih tepatnya bermalas-malasan yang sudah lama tidak ia dapatkan. Padahal, di dunia manusia sebelumnya, Dalila selalu mendapatkan waktu bermalas-malasan sehari dalam seminggu. Namun, begitu masuk ke dalam kamar, Max tidak menemukan keberadaan istrinya. “Dalila?” panggil Max. Namun, Max sama sekali tidak mendapatkan sahutan. Max mengernyitkan keningnya saat memeriksa dan Dalila memang tidak berada di dalam kamarnya. Tak lama, Dante datang dan berkata, “Nyonya ada di ruang makan, Tuan.” Max pun sadar, jika ini memang sudah masuk waktu makan malam. Masuk akal jika Dalila memang berada di ruang makan untuk menikmati makan malamnya. Max pun beranjak menuju ruang makan, tetapi ia dikejutkan dengan meja makan panjang ruang makannya yang sudah dipenuhi oleh para tamu yang jelas tidak pernah Max duga. Max mematung di ambang pintu, sementara Dante yang sudah mengetahui kondisinya, sama sekali tidak terkejut. Ia memilih untuk beridiri di sisi ruangan bersama Sia. Menyadari kedatangan Max, Dalila yang duduk di kepala meja pun tersenyum dan berkata, “Kau sudah pulang rupanya.” Apa yang dikatakan oleh Dalila seketika membuat para tamu yang duduk di meja makan serentak menoleh ke ambang pintu. Mereka pun seketika bangkit dari kursi dan berseru, “Selamat datang Tuan. Maafkan kelancangan kami.” Max sama sekali tidak mengatakan apa pun. Ia memilih untuk beranjak menuju kepala meja dan mencium kening dan bibir istrinya dengan mesranya. Tentu saja Dalila merasa malu karena Max memperlakukannya seperti itu di hadapan orang banyak. Apalagi kini perhatian tertuju pada mereka sepenuhnya. Namun, Dalila sama sekali tidak menolak perlakuan Max tersebut. Karena jujur saja, Dalila sudah sangat terbiasa dan merasa jika dirinya juga senang dengan perlakuan Max tersebut. Lalu Max pun membuat Dalila duduk di atas pangkuannya. Max menggantikan Dalila duduk di kepala meja dan berkata, “Duduklah.” Tentu saja para tamu yang sudah dijamu oleh Dalila tidak memiliki pilihan lain, selain duduk di tempat mereka masing-masing. Ternyata tamu yang dijamu oleh Dalila tak lain adalah para staf dapur. Benar, Dalila memasak untuk mereka semua. Jelas, mereka merasa canggung dan merasa takut melakukan kesalahan. Max yang belum mengerti apa yang tengah terjadi pun bertanya, “Jadi, ada apa ini?” Dalila pun menjawab, “Aku sudah lama tidak memasak. Dan rasanya aku sangat ingin memasak. Pada akhirnya aku memasak makan malam untuk kita semua. Sia membantuku, jadi ini sama sekali tidak terasa sulit. Malah terasa sangat menyenangkan.” Max tahu jika Dalila sama sekali tidak berbohong dengan kata menyenangkan. Sebab wajah cantik Dalila kini benar-benar menunjukkan ekspresi penuh kebahagiaan yang nyata. Sepertinya, keputusan benar Max berkata pada Dalila jika dirinya bisa melakukan apa pun yang ia inginkan selama hal tersebut tidak membahayakan dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Max memeluk pinggang Dalila yang memang duduk di atas pangkuannya dengan lembut sebelum bertanya, “Jadi, apa aku juga akan makan masakan lezat buatan istriku?” Dalila mengangguk. “Tentu saja,” ucap Dalila. Lalu Sia yang melihat isyarat yang diberikan oleh Dalila, segera membawakan piring yang ditutupi tudung saji dan menyajikannya untuk Max. Dalila pun membuka tudung saji tersebut dan membuat Max terkejut. “Aku menyiapkan makanan yang mungkin sudah kau rindukan,” ucap Dalila. “Sepertinya kau sudah sangat mengerti diriku,” ucap Max sembari mencium bahu Dalila. Ternyata Dalila memang membuatkan sesuatu yang khusus untuk Max. Hal itu tak lain adalah menu yang biasanya dimakan oleh Max ketika dirinya mengambil wujud Winter dan menjadi peliharaan Dalila di awal pertemuan mereka. Semua orang yang melihat interaksi Dalila dan Max mulai merasa canggung. Bukannya mereka tidak senang karena melihat kebahagiaan tuan dan nyonya mereka. Melainkan karena merasa tengah berada di situasi dan kondisi yang sangat tidak tepat. Sadar jika para staf dapur yang sudah dijamu oleh Dalila belum menyentuh makanan istrinya, Max pun berkata, “Lebih baik kalian makan. Agar tidak menyesal karena sudah menyia-nyiakan kesempatan menyicipi masakan buatan istriku.” Mendengar perkataan tersebut, mereka pun terburu-buru untuk mencicipi masakan Dalila. Dan mereka pun terkejut. Ternyata Dalila memang memiliki kemampuan memasak yang cukup baik. Bahkan bisa disandingkan dengan mereka. Rasanya, mereka dimanjakan oleh rasa nikmat dan ringan yang membasuh lidah mereka. Pujian demi pujian pun Dalila dapatkan dari mereka, membuatnya agak merasa malu. Dalila pun berkata, “Lanjutkan makan kalian. Tidak perlu menyajungku secara berlebihan seperti itu.” Mereka pun menurut dan menikmati makanan tersebut dalam diam. Sementara Dalila sendiri makan sepiring berdua dengan Max, mengingat jika Max sama sekali tidak ingin melepaskan pelukannya pada Dalila. Tentu saja hal tersebut terasa membuat Dalila menjadi frustasi. Namun, Dalila memilih untuk tidak berdebat dan menuruti keinginan Max untuk malam itu saja. Dante dan Sia juga makan malam bersama di meja tersebut, mengingat sudah ada kursi dan makanan yang memang sudah dipersiapkan untuk mereka berdua. “Kemampuan memasakmu ternyata menjadi lebih baik,” ucap Max ketika dirinya sudah mendapatkan suapan dari Dalila. Dalila sendiri tidak mempedulikan pujian tersebut dan mencicipi hasil masakannya. Ternyata memang masakannya cukup lezat dan tidak terlalu memalukan untuk disantap oleh orang lain, apalagi oleh orang-orang yang sebelumnya bertugas sebagai seseorang yang menyediakan makanan lezat. Sadar jika Dalila mengabaikannya, Max sama sekali tidak berpikir dua kali untuk menggigit kecil daun telinga Dalila yang memang tidak ditutupi oleh rambut sehelai pun. Tentu saja Dalila terkejut dengan tindakan Max dan berjengit. “Astaga, apa yang kau lakukan?!” tanya Dalila hampir histeris dengan apa yang sudah dilakukan oleh Max tersebut. Mengingat jika Dalila memang sangat sensitif pada daun telinganya. Saat ini saja pipi Dalila sudah terlihat sangat memerah karena apa yang sudah dilakukan oleh Max tersebut. Dalila memberikan tatapan tajam, bahkan memukul kening Max dengan sendok. Saking Dalila kesal dengan tingkah Max tersebut. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Dalila tersebut membuat semua orang yang melihat hal tersebut sangat terkejut. Bahkan ada dari mereka yang menjatuhkan makanan dan alat makan mereka, saking terkejutnya mereka saat melihat apa yang dilakukan oleh Dalila. Sementara Max sendiri sama sekali tidak keberatan dengan perlakuan yang ia dapat dari Dalila. Ia malah memeluk Dalila dengan lembut dan merajuk, “Kau mengabaikanku. Karena itulah aku kesal.” “Wah lihat siapa yang merengek di sini,” ucap Dalila sembari mencubit tangan Max yang tengah memeluknya dan membuat Max semakin merengek. Jika staf dapur terlihat syok dan tidak bisa melanjutkan makan malam mereka, maka tidak dengan Sia dan Dante. Keduanya melanjutkan menikmati makan malam mereka. Karena sudah benar-benar merasa terbiasa dengan interaksi keduanya yang seperti itu.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN