Dalila ke luar dari kamar mandi dengan perasaan segar. Mengingat jika dirinya memang sudah berendam dengan air hangat, disusul dengan membasuh diri dengan air dingin. Jelas kini tubuh Dalila terasa sangat rileks dan rasanya ia bisa beristirahat dengan sangat nyaman sebelum esok pagi kembali pada rutinitas meleahkannya yaitu berlatih dengan Julion dan Max. Dalila rasa, ke depannya latihan yang akan ia hadapi akan terasa sangat sulit. Lebih sulit daripada latihan yang selama ini sudah Dalila hadapi.
Namun, Dalila sama sekali tidak berniat untuk menghindar atau melarikan diri dari hal tersebut. Mengingat jika kini Dalila merasakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Sebagai seseorang yang memiliki kekuatan yang besar, dan bisa digunakan untuk membantu orang-orang di sekitarnya, tentu saja Dalila bertanggung jawab untuk menggunakannya dengan sangat baik. Sebelum menggunakannya, Dalila tentunya harus fokus menyempurnakan pengendalian kekuatannya ini. Karena itulah, Dalila akan berlatih dengan keras di bawah bimbingan Julion dan Max nantinya.
Dalila terkejut saat dirinya melangkah menuju ranjang, dan melihat Max sudah menunggunya di atas ranjang. Dengan posisi berbaring miring, dan tidak mengenakan pakaian bagian atasnya. Max tampak menyangga kepalanya menggunakan salah satu tangannya. Begitu percaya diri menunjukkan bentuk tubuh bagian atasnya yang terlihat sangat sempurna, mengarah pada sangat menggoda itu. Jelas, semua wanita pasti akan memberikan penilaian yang sama mengenai Max.
Pria itu memiliki pesona panas yang membuat semua orang sama sekali tidak mengalihkan pandangan mereka darinya. Apalagi saat Max dengan sengaja menunjukkan tubuhnya yang indah seperti ini. Dalila berhasil mengendalikan dirinya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan?”
Max menepuk ranjang kosong yang berada di sisinya dan menjawab, “Ayo berbaringlah. Aku akan memijatmu. Pasti kau merasa sangat lelah karena memasak begitu banyakan makanan setelah sekian lama.”
Apa yang dikatakan oleh Max memang benar adanya. Saat ini Dalila memang merasa lelah. Memasak memang terasa sangat menyenangkan. Apalagi, setelah sekian lama Dalila tidak memasak, dan hidup dengan dimanjakan sebagai nyonya besar di sana. Namun, tetap saja memasak terasa melelahkan. Apalagi dengan Dalila yang memasak dalam porsi yang sangat besar, untuk menjamu staf dapur. Meskipun begitu, kelelahan Dalila terbayar dengan pujian manis yang diberikan oleh orang-orang padanya.
Dalila duduk di tepi ranjang, dan menatap Max dengan kening mengernyit. “Aku tidak yakin kau bisa memijatku dengan benar. Aku takut kau malah membuat tulang-tulangku patah,” ucap Dalila.
Dalila sama sekali tidak bercanda. Ia memang takut hal itu terjadi. Mengingat kekuatan Max yang luar biasa, Dalila merasa ngeri sendiri jika dirinya akan terluka karena pijatan Max. Tentu saja Max yang menyadari pemikiran Dalila tersebut berdecih. “Memangnya kau pikir aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku sendiri?” tanya Max benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada Dalila.
Dalila hanya mengangkat kedua bahunya, merasa jika dirinya hanya mengungkapkan apa yang takutkan. Namun, tak lama setelah itu Max menarik Dalila dengan lembut agar berbaring di tengah ranjang dengan posisi tertelungkup. Max sama sekali tidak bermain-main dengan mengatakan jika dirinya ingin memijat Dalila. Pasti sebuah pijatan bisa membuat tubuh Dalila tidak lagi terasa lelah dan esok bisa beraktivitas dengan normal.
Max sendiri sangat percaya diri memberikan pijatan pada Dalila. Mengingat jika sebelumnya ia sudah berlatih dengan keras dengan Dante. Atau lebih tepatnya, Dante menjadi kelinci percobaan bagi Max. Selama menjadi kelinci percobaan, Dante harus merelakan tulangnya menjadi korban. Entah patah atau keseleo dialami oleh Dante selama membantu Max melatih kemampuan memijatnya. Ternyata pengorbanan Dante tersebut membuahkan hasil yang manis karena ternyata kemampuan memijat Max meningkat dengan sangat tajam.
Max bisa mengendalikan kekuatan tangannya. Ia bisa mendapatkan kekuatan yang pas untuk memijat. Dalila yang dipijat oleh Max juga tidak menyangka bahwa Max memiliki kemampuan memijat yang sebaik ini. Pada akhirnya, Dalila pun memilih untuk bersantai dan menikmati pijatan tangan suaminya itu. Max tentu saja merasa sangat bangga ketika melihat Dalila yang menikmati pijatannya pada punggung dan bahunya. Max pun semakin bersemangat untuk memijat istrinya itu.
Sayangnya, apa yang direncanakan oleh Max tidak berjalan dengan lancar. Mengingat jika tangannya ternyata sama sekali tidak bisa dikendalikan. Tidak hanya memijat, kedua tangannya dengan nakalnya melakukan hal lain. Sepertinya, tangan Max sendiri sudah sangat merindukan waktu di mana mereka bisa berselancar dan menikmati keindahan tubuh Dalila. Rasanya, sudah sangat malam Max dan Dalila tidak menikmati waktu yang menyenangkan sebagai suami istri di atas ranjang.
Dalila yang sebelumnya sudah hampir tidur, tentu saja kembali tersadar ketika tangan Max sudah berada di tempat yang tidak semestinya. Bukannya merasa marah, Dalila malah merasa sangat gugup sekarang. Karena tubuhnya terasa sangat sulit untuk menolak sentuhan tersebut. Malah seakan-akan menerima dan menunggu sentuhan itu sedari lama. Namun, Dalila sadar jika dirinya tidak boleh terlarut dengan hal ini. Mengingat jika dirinya mengikuti arus ini, maka sudah dipastikan jika esok hari Dalila hanya akan kelelahan dan tidak bisa fokus dengan latihannya.
Seketika Dalila mengubah posisinya menjadi terlentang dan berhadapan langsung dengan Max. Saat ini Dalila bisa melihat sorot mata Max yang sudah berkabut. Jika Dalila tidak mengambil langkah yang tepat, sudah dipastikan jika Dalila akan benar-benar diserang habis-habisan oleh suaminya ini. Dalila pun berkata, “Rasanya aku sudah sangat lama tidak bertemu dengan Winter. Bisakah aku bertemu dengannya? Bisakah kau berubah menjadi Winter? Aku ingin merasakan lembutnya bulu Winter langsung dengan tanganku.”
Mendengar hal itu, Max mengernyitkan keningnya. Winter adalah wujud serigala darinya. Serigala berbulu hitam lebat dengan netra keemasan selayaknya seorang predator yang sangat berbahaya. Meskipun Dalila menyatakan kerinduan pada sosok Winter yang tak lain adalah dirinya sendiri, Max tidak bisa menahan diri untuk merasa jengkel. Ia cemburu, karena Dalila memikirkan sosok Winter, padalah kini Dalila tengah berhadapan dengannya dalam wujud aslinya sebagai manusia. Dalila yang melihat ekspresi jengkel Max pun secara naluriah segera mengulurkan tangannya dan mengusap rahang Max dengan lembut.
“Jangan marah. Bukankah Winter adalah dirimu sendiri? Kenapa kau cemburu pada dirimu sendiri?” tanya Dalila menanyakan sesuatu yang tentu saja terasa sangat masuk akal bagi Max. Mengapa dirinya merasa cemburu pada bagian dirinya sendiri. Hanya memikirkan hal itu saja terasa sangat konyol bagi Dalila.
Namun, tetap saja. Max merasakan rasa tidak suka yang begitu besar. Ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Dalila, dan ia sadar jika dirinya saat ini bertindak dengan sangat konyol. Namun, Max tetap tidak ingin melepaskan kecemburuannya begitu saja. Seakan-akan jika dirinya membiarkan hal ini, Winter bisa mendapatkan seluruh perhatian dan kasih sayang Dalila. Perasaan takut yang rasanya sangat tidak masuk akal bagi Dalila. Mengingat jika Max adalah Winter, dan Winter adalah Max.
“Tapi kau merindukan Winter saat kau menghabiskan waktumu denganku. Bagaimana mungkin aku tidak marah?” tanya Max balik pada Dalila.
Dalila benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran suaminya ini. Namun, Dalila jelas tidak bisa membiarkan kecemburuan Max ini. Jika dirinya tidak berhasil mengalihkan perhatian Max. Sudah dipastikan jika acara sebelumnya akan berlanjut, dan esok Dalila akan tersiksa oleh rasa lelah serta rasa pegal yang luar biasa. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Dalila pening bukan kepalang. Jelas malah ini Dalila harus memastikan bahwa dirinya memiliki waktu istirahat yang cukup.
“Kau benar-benar aneh. Coba dengar baik-baik. Kau adalah Winter, dan Winter adalah kau. Kalian adalah orang yang sama. Mengapa kini kau merasa cemburu pada dirimu sendiri? Bukankah jika aku merindukan Winter, itu artinya aku juga merindukan dirimu? Jika aku menyukai Winter, maka aku juga menyukaimu,” ucap Dalila masih dengan mengusap lembut pipi Max. Mencoba untuk meredakan kekesalan yang dirasakan oleh Max.
Entah mengapa, Dalila bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Max. Dan entah mengapa dirinya tergerak atau merasa memiliki kewajiban untuk menenangkan Max. Seakan-akan mereka memang sudah memiliki hubungan yang sangat dekat, dan saling mengerti satu sama lain. Memang agak aneh, tetapi Dalila merasa jika perasaan seperti ini sudah sewajarnya ada di antara dirinya dan Max. Meskipun ini adalah hal yang baru Dalila, dan berada di dunia yang baru, tetapi Dalila berusaha untuk menerimanya. Termasuk menerima kenyataan bahwa dirinya dan Max memang sudah menjadai pasangan sehidup semati yang harus saling menerima dan saling mencintai.
Max tampaknya masih belum bisa menerima hal itu dengan baik. Namun, tak lama Max memilih untuk mengubah wujudnya menjadi seekor serigala besar berbulu hitam lembut dan memiliki mata keemasan yang bekilauan. Dalila yang melihat hal itu pun tersenyum lebar. Ingin bertemu dengan Winter sebenarnya bukan hanya alasan. Ia memang benar-benar ingin bertemu dengan Winter yang sangat menggemaskan. Dalila mengusap leher Winter dengan lembut.
“Winter,” ucap Dalila lalu membiarkan Max yang tengah mengambil wujud Winter itu menciumi dan mengedusi lehernya.
Dalila tentu saja terkekeh geli dengan apa yang dilakukan oleh Max yang memang masih menciumi lehernya dan mengendusinya, tentu saja dengan kondisi Max yang masih dengan berpenampilan seekor serigala. Benar, Max masih mengambil penampilan Winter. Mengingat jika Dalila memang masih belum mengizinkan Max untuk kembali berubah wujud menjadi manusia kembali. Akibatnya, Max pun harus melakukan kontak fisik dengan Dalila dengan posisi dirinya yang masih menggunakan penampilan Winter.
“Aku benar-benar senang mengelus bulu lembut Winter seperti ini,” ucap Dalila dengan masih memeluk leher Winter dan mengelusi tubuh Winter di sana sini.
Tampak terlalu antusias dengan apa yang tengah ia lakukan. Hingga dirinya tidak sadar jika ada yang aneh pada Max. “Dalila, aku berubah—”
Dalila yang mendengar perkataan Max itu pun seketika membulatkan matanya pada Max dan berkata, “Jangan berbicara saat kau berada dalam penampilan Winter. Itu terasa sangat menakutkan dan mengejutkan bagiku.”
Keluhan tersebut membuat Max seketika tidak mengatakan apa pun dan terdiam, karena bisa melihat jika Dalila benar-benar tidak menyukai apa yang ia lakukan barusan. Dalila yang melihat hal itu tentu saja merasa sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh Max. Namun, Dalila masih harus memberikan peringatan pada Max dengan berkata, “Jangan mengatakan apa pun saat berada dalam bentuk Winter. Karena dulu, Winter juga tidak mengatakan apa pun.”
Tiba-tiba, Max pun sadar jika kini Dalila tengah mengomentari sikapnya yang dulu pernah dengan sengaja berpura-pura menjadi seekor anjing. Dan bahkan Max sempat menjadi seekor peliharaan untuk Dalila. Dulu, Dalila sampai mengamuk dan menolak Max dengan keras ketika tahu jika Max sudah menipunya. Max memang sudah menipu Dalila dengan berpura-pura menjadi seekor anjing. Mengingat jika dirinya perlu untuk memastikan jika Dalila memanglah pasangan yang sudah ditakdirkan untuknya atau tidak.
Namun, ternyata Max terlalu menikmati kebersamaannya dengan Dalila, dan terlalu senang mengamti kegiatan apa yang dilakukan oleh Dalila. Alhasihl, Max menghabiskan waktu yang terlalu saat dirinya menghabiskan waktunya dengan Dalila saat dirinya masih berada dalam posisinya masih berpenampilan sebagai Winter. Jika tidak ada insiden yang membuat kekuataan Dalila yang tersegel meledak, rasanya Max tidak akan bisa memutuskan bagaimana caranya bisa memberitahu atau mengungkapkan identitas aslinya pada Dalila.
Max pun menatap Dalila dengan tatapan yang penuh permohonan. Seakan-akan dirinya meminta Dalila untuk mengizinkannya kembali mengambil wujud manusia. Namun, Dalila yang melihat hal itu memilih untuk berpura-pura tidak memahami apa yang diminta oleh Max padanya. Ia malah mengusap wajah berbulu Winter dan berkata, “Wah lembutnya. Kau benar-benar menggemaskan. Rasanya aku bisa tidur nyenyak jika memelukmu selama tidur.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Dalila, tentu saja Winter memasang ekspresi terkejut yang jelas membuat penampilan Winter semakin menggemaskan. Mengingat jika dirinya masih berada dalam kondisi seekor serigala berbulu, dan terlihat menyedihkan, hal itu membuat Dalila semakin gemas pada Max yang berwujud Winter. Dalila pun mengecupi wajah Winter dan berkata, “Ah, gemasnya.”
Tentu saja Max senang karena Dalila dirinya mencium Max tanpa diminta, dan melakukan dengan senang hati bahkan terlihat sangat antusias. Namun, di sisi lain Max merasa sangat sedih. Karena dirinya sama sekali tidak bisa membalas pelukan Dalila. Selain itu, Dalila sebenarnya tidak mengecupnya, melainkan mengecup Winter. Pada akhirnya, Winter mengaing sedih. Sementara Dalila terkekeh senang dan masih memeluk suaminya itu dengan gemas.