Jihan terbangun pada pukul dua dini hari pagi. Diliriknya tangan Juna yang berada di atas perutnya. Jihan mengulas senyum, memberikan usapan lembut pada punggung tangan Juna. Kemudian dengan sangat hati-hati, Jihan menyingkirkan tangan Juna dari atas perutnya karena ia akan beranjak pergi ke dapur untuk minum. Keadaan rumah sangat sepi tentu saja. Lampu di ruang tengah sudah di matikan dan membuat ruangan tersebut tampak minim pencahayaan. Sampai di dapur, Jihan langsung mengambil air dan meminumnya. Lantas melangkah pergi dari dapur untuk kembali masuk ke kamar. Akan tetapi, pintu samping rumah yang terbuka menarik perhatian Jihan. "Kenapa pintunya terbuka? Jangan-jangan ada maling," pikir Jihan menerka. Demi menjawab rasa penasarannya, Jihan pun pergi terlebih dahulu untuk mengecek k

