Perlahan kedua bola mata itu terbuka. Jihan mengerjap beberapakali menyesuaikan bias cahaya yang masuk. Pandangannya lalu jatuh pada jam yang ternyata sudah menunjukan pukul empat sore. Tok! Tok! Tok! "Non Jihan!" Suara Bi Wanti terdengar memanggil dari balik pintu. "Iya, Bi. Masuk aja!" Jihan bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Pintu kamar terbuka, Bi Wanti tersenyum sopan sambil melangkah menghampiri Jihan. "Tuan Juna tadi berpesan sama Bibi, setelah Non Jihan bangun harus segera makan katanya. Bibi sudah siapkan makanan di bawah. Non Jihan mau makan di bawah atau Bibi bawakan saja ke kamar?" "Mas Juna gak ada di rumah, Bi?" Jihan bertanya, karena sebelumnya Juna ada bersamanya. "Enggak ada, Non. Tuan Juna pergi jam dua tadi. Ada urusan katanya," jawab Bi Wanti. Jihan menga

