Suara jam yang berdetik menemani kesendirian Jihan di dalam kamar. Sementara Juna sedang pergi keluar sebentar, katanya ada urusan dengan Akbar. Entah urusan apa, Jihan tidak tahu karena saat bertanya Juna menjawab kalau itu urusan laki-laki dan tidak penting untuk Jihan ketahui. Jihan melirik ke arah yang menggantung di dinding. Sudah pukul sembilan lewat sepuluh menit, berarti sudah sekitar satu jam Juna pergi meninggalkan rumah. “Kenapa belum kembali juga? Jangan-jangan yang di maksud urusan laki-laki itu kesenangan di klub malam,” pikir Jihan yang ingat kalau suaminya mempunyai masa lalu yang kelam di tempat laknat itu. “Ish, Jihan kamu gak boleh nuduh-nuduh suami kayak gitu. Astagfirullah….” Karena merasa haus dan Jihan lupa menyediakan air minum di kamar, kemudian Jihan beranjak

