Bab 8. Panggilan

1184 Kata
Mira terkejut. "Untuk apa, Mas? Aku nggak ...." Adam langsung memotongnya. "Kamu tahu alasannya. Jangan buat aku mengulang lagi," ucapnya, lalu tersenyum tipis dengan cara yang membuat Mira merasa tidak nyaman. Tanpa menunggu jawaban, Adam melangkah pergi. Suara sepatu kulitnya terdengar jelas di lantai kayu klub malam, membuat Mira hanya bisa terpaku di tempat duduknya. Hatinya berkecamuk antara rasa takut, marah, dan putus asa. Saat Adam mencapai pintu keluar, ia berhenti sejenak, berbalik sekilas ke arah Mira yang masih memandangnya dari jauh. "Jangan terlambat, Mira, " ujarnya sebelum benar-benar keluar dari tempat itu. Mira menundukkan kepalanya, merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. Ia tahu Adam tidak main-main, dan ia juga tahu bahwa pria itu masih memegang kendali penuh atas nasib ibunya di rumah sakit. Keputusasaan melingkupi pikirannya, membuatnya hanya bisa menghela napas panjang.. Adam berdiri di dekat jendela kamar hotel, tangannya memegang segelas wiski yang hampir habis. Tatapannya kosong menembus kaca jendela, mengamati kerlip lampu kota yang terasa jauh dan dingin. Wajahnya tenang, tetapi pikirannya penuh dengan rencana dan perasaan campur aduk. Setelan jas yang ia kenakan rapi seperti biasanya, menunjukkan statusnya sebagai pria berkuasa. Namun, ada sesuatu di matanya—tatapan tajam yang mencerminkan obsesi dan dendam yang masih membara. Ia melirik arlojinya. Sudah hampir pukul sembilan malam, tetapi belum ada tanda-tanda kehadiran Mira. Bibirnya membentuk senyum tipis. "Dia nggak akan berani menolak," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Adam beranjak dari jendela dan duduk di sofa, meletakkan gelas di meja kecil di depannya. Ia meraih ponselnya, memeriksa pesan masuk. Tidak ada apa pun dari Mira. Rasa tidak sabar mulai menyelinap, tetapi Adam menenangkan dirinya. "Mira tahu apa yang dipertaruhkan. Dia pasti datang," katanya lagi, kali ini lebih meyakinkan. Tak lama, suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamar. Adam tersenyum penuh kemenangan. Ia berdiri, merapikan jasnya, dan berjalan perlahan ke arah pintu. Ketika pintu terbuka, Mira berdiri di sana, mengenakan gaun sederhana berwarna hitam. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya menyiratkan kegelisahan. "Kamu datang," ujar Adam dengan nada puas, lalu membuka pintu lebih lebar. "Masuklah." Mira melangkah masuk dengan hati-hati. Ruangan itu terasa begitu sunyi dan penuh tekanan. Adam menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri di sana sejenak, memperhatikan Mira yang tampak ragu untuk melangkah lebih jauh. "Kamu tahu kenapa kamu ada di sini, bukan?" tanya Adam dengan suara rendah namun penuh kekuatan. Mira menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Adam tertawa kecil, melangkah mendekati Mira. "Aku sudah memastikan semuanya berjalan lancar untuk ibumu. Tapi aku juga berharap kamu tidak melupakan bagian dari kesepakatan kita." Mira menunduk, tidak mampu menatap langsung ke mata Adam. Hatinya bergolak, tetapi ia tahu bahwa ia tidak punya pilihan *** Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah tirai tebal, menerangi kamar hotel yang elegan. Adam duduk di meja kecil dekat jendela, menikmati sarapan yang disediakan hotel untuk tamu-tamu VIP seperti dirinya. Sepiring croissant hangat, telur orak-arik, dan secangkir kopi hitam ada di depannya. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, menikmati aroma kopi sambil membaca berita di ponselnya. Wajahnya tenang, tetapi pikiran Adam terus dipenuhi oleh rencana-rencana yang rumit. Sekali-sekali, matanya melirik ke arah tempat tidur. Mira masih tertidur di sana, terbungkus dalam selimut putih yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya tampak damai, tetapi Adam tahu pasti bahwa pikiran wanita itu tidak tenang. Adam mengambil cangkir kopinya dan berdiri, melangkah ke arah jendela. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat kota mulai bergerak. Mobil-mobil berlalu-lalang, orang-orang berjalan terburu-buru menuju tempat kerja mereka. Sambil menyesap kopinya, Adam melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul delapan pagi. Ia menghela napas pelan, lalu meletakkan cangkirnya di meja. Mira menggeliat di tempat tidur, pelan-pelan membuka matanya. Sinar matahari yang masuk dari celah tirai membuatnya menyipitkan mata. Kesadarannya perlahan kembali, dan ia menyadari di mana dirinya berada. Ingatan semalam langsung menyerbu pikirannya, membuat dadanya terasa sesak. Saat ia mencoba duduk di tempat tidur, suara Adam terdengar dari arah meja dekat jendela. "Akhirnya kamu bangun," katanya dengan nada datar, sambil menatap Mira dari balik cangkir kopinya. "Cepat bersiap. Aku akan mengantarmu pulang." Mira menoleh ke arah Adam, sedikit terkejut dengan ucapannya. "Mengantarku pulang?" tanyanya ragu. Adam meletakkan cangkirnya di meja, berdiri, lalu berjalan mendekati Mira. Ia menatap Mira dengan dingin, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. "Ya, aku akan memastikan kamu pulang dengan selamat. Lagipula, aku nggak ingin kamu berkeliaran terlalu lama di sini dan membuat masalah," ujar Adam sambil menyeringai tipis. Mira menggigit bibir bawahnya, merasa tersinggung tetapi memilih untuk diam. Ia tahu tidak ada gunanya membantah Adam. "Cepat mandi dan ganti pakaianmu," lanjut Adam, sambil melirik jam tangannya. "Aku nggak punya waktu untuk menunggu mu terlalu lama." Mira mengangguk pelan, lalu bangkit dari tempat tidur. Dengan langkah ragu, ia mengambil tas kecilnya yang ada di sudut ruangan, lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Adam hanya memperhatikannya tanpa ekspresi. Setelah pintu kamar mandi tertutup, ia menghela napas panjang dan kembali ke mejanya, menyesap kopi yang mulai dingin. Dalam hatinya, ia merasa puas karena masih memiliki kendali atas Mira. Sementara itu, di dalam kamar mandi, Mira berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sendiri. Wajah yang terlihat lelah dan penuh dengan beban. Ia mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya. "Aku harus kuat," gumamnya pelan, sebelum akhirnya mulai bersiap. Di dalam mobil, suasana terasa sunyi. Hanya suara lembut dari mesin mobil yang terdengar, mengiringi perjalanan mereka. Adam duduk di kursi pengemudi, matanya fokus ke jalan di depan, sementara Mira duduk dengan tubuh sedikit kaku di sampingnya. Ia menggenggam tas kecilnya erat-erat di pangkuannya, mencoba meredakan rasa gelisah yang sejak tadi menguasai dirinya. Setelah beberapa menit hening, Mira akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "Mas," panggilnya pelan, suaranya sedikit bergetar. Adam tidak menoleh, tetapi ia mendengarkan. "Bisakah kamu mengantarku ke rumah sakit saja? Aku ingin melihat kondisi ibuku," ujar Mira dengan nada penuh harap. Adam menghela napas panjang, tangannya menggenggam setir lebih erat. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, tetapi Mira bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul di dalam mobil. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Adam akhirnya menjawab. "Baiklah," katanya dengan suara tenang namun tegas. "Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Mira terkejut mendengar jawaban itu. Ia mengira Adam akan marah atau menolak permintaannya. "Terima kasih," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. Adam tidak menjawab, hanya mempercepat laju mobilnya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi pikirannya sibuk. Di satu sisi, ia masih merasa marah dan kecewa terhadap Mira. Namun di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan perasaan kompleks yang muncul setiap kali melihat wanita itu. Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu panjang, meskipun sebenarnya hanya memakan waktu beberapa puluh menit. Mira terus melirik ke arah Adam dengan rasa was-was, sementara Adam tetap fokus pada jalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ketika akhirnya mobil berhenti di depan gedung rumah sakit, Adam mematikan mesin dan menoleh ke arah Mira. "Kita sudah sampai," ujarnya singkat. Mira mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan keluar dengan hati-hati. Sebelum menutup pintu, ia menatap Adam sejenak. "Terima kasih, Mas," katanya sekali lagi, suaranya tulus. Adam hanya mengangguk kecil, lalu menyalakan kembali mesin mobil tanpa berkata apa-apa. Mira sudah melangkah beberapa langkah menuju pintu rumah sakit ketika suara Adam memanggilnya dari balik mobil. "Mira!" panggilnya tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN