Bab 6. Hubungan yang Tertunda

1311 Kata
Mira cepat memotong pembicaraan itu. "Jangan pikirkan itu. Yang penting sekarang adalah kesembuhan Ibu," ujarnya tegas, meskipun hatinya terasa berat mengingat pengorbanan yang baru saja ia lakukan. Nurul mengangguk, meskipun masih ada pertanyaan yang mengganjal di benaknya. Ia memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh, karena ia tahu Mira pasti memiliki alasan yang kuat untuk tidak menjelaskan. "Ayo kita ke atas. Aku ingin lihat kondisi Ibu," ujar Mira, mencoba mengalihkan pembicaraan. Mereka berdua kemudian berjalan menuju lift, menuju ruang perawatan Ibu mereka. Dalam perjalanan, Mira terus berusaha menyembunyikan kegelisahan di hatinya. Semalam bersama Adam telah mengubah segalanya, tetapi demi ibunya, ia tidak punya pilihan lain. Mira hanya berharap bahwa semua pengorbanannya tidak sia-sia, dan ibunya bisa kembali sehat seperti dulu. Di sisi lain, ia merasa cemas karena tahu ini baru permulaan dari sebuah babak kehidupan yang penuh tantangan dan dilema. Mira memasuki ruang perawatan ibunya dengan langkah hati-hati. Pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan, yang tampak jauh lebih mewah dibandingkan kamar perawatan sebelumnya. Ruangan itu dilengkapi dengan sofa empuk, televisi layar datar, dan jendela besar yang memberikan pemandangan kota dari lantai atas rumah sakit. Rasa syukur bercampur rasa bersalah menyelinap di hati Mira. Ia tahu biaya untuk ruangan kelas VVIP ini pasti sangat mahal—lebih mahal dari apa yang mampu ia bayarkan sendiri. Di tengah ruangan, ibunya terbaring di atas ranjang yang nyaman. Alat bantu medis terpasang di sekelilingnya, termasuk infus yang menjulur ke tangan kanan. Wajah ibunya tampak lebih tenang meskipun terlihat masih lemah. "Ibu .…" panggil Mira dengan suara lembut, berjalan mendekati ranjang. Ia duduk di kursi yang disediakan di sisi tempat tidur, lalu menggenggam tangan ibunya dengan penuh kasih. Ibunya membuka mata perlahan. Senyuman kecil muncul di wajahnya begitu ia melihat Mira. "Mira … Kamu akhirnya datang," bisiknya pelan, suaranya terdengar lemah tetapi penuh kehangatan. "Iya, Bu. Maaf Mira baru sempat ke sini," jawab Mira, suaranya sedikit bergetar. Ia mencium tangan ibunya dengan penuh rasa hormat. "Ibu sekarang sudah di ruangan yang lebih nyaman. Semua perawatan akan ditangani dokter terbaik." Ibunya mengangguk pelan, lalu memandang Mira dengan mata penuh kasih. "Kamu pasti sudah banyak berjuang untuk ini, Nak. Ibu minta maaf kalau selama ini selalu merepotkan kamu." Mira menggeleng cepat. "Jangan bilang begitu, Bu. Mira nggak pernah merasa direpotkan. Mira cuma ingin Ibu cepat sembuh." Dari belakang, Nurul berdiri memperhatikan mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu Mira telah mengorbankan banyak hal demi memastikan ibu mereka mendapatkan perawatan terbaik. "Bu, istirahat yang cukup, ya. Kami akan selalu ada di sini untuk Ibu," tambah Nurul, mendekat dan duduk di sisi yang berlawanan dari Mira. Ibunya tersenyum kecil, menatap kedua putrinya dengan penuh cinta. "Kalian anak-anak Ibu yang luar biasa. Ibu bersyukur punya kalian." Mira menahan air matanya, berusaha untuk tetap tegar di depan ibunya. "Ibu nggak perlu pikirkan apa-apa lagi. Fokus saja untuk sembuh, ya." Setelah beberapa saat berbicara dan memastikan ibunya merasa nyaman, Mira bermaksud keluar dari ruangan untuk berbicara dengan perawat di luar. Nurul tetap di dalam, menemani ibunya. Saat Mira hendak melangkah keluar dari ruang perawatan, sebuah bunyi notifikasi ponsel terdengar dari tasnya. Ia berhenti sejenak, merogoh tasnya, lalu mengeluarkan ponsel untuk melihat pesan yang baru saja masuk. Namun, begitu membaca isi pesan itu, wajahnya langsung berubah. Wajahnya yang tadi terlihat tenang kini memucat, dan tangannya gemetar tanpa sadar. Pesan itu hanya terdiri dari beberapa kata, tetapi cukup untuk membuat dadanya sesak. Nurul memperhatikan perubahan ekspresi Mira. Dengan rasa penasaran, ia berjalan mendekat. "Mbak, kenapa? Kok wajah Mbak tiba-tiba pucat? Ada apa?" tanyanya dengan nada khawatir. Mira buru-buru mengunci layar ponselnya dan menyembunyikannya kembali ke dalam tas. Ia memaksakan senyum tipis untuk menenangkan adiknya. "Nggak apa-apa. Mbak cuma sedikit pusing, mungkin karena kurang tidur." Namun, Nurul tidak mudah percaya. "Apa benar cuma itu, Mbak? Kalau ada yang salah, Mbak harus cerita. Aku bisa bantu, kok." Mira menggeleng pelan, mencoba menenangkan adiknya. "Serius. Mbak nggak apa-apa. Jangan khawatir, ya." Walau masih ragu, Nurul akhirnya mengangguk. "Kalau begitu, Mbak harus istirahat juga. Jangan terlalu memaksakan diri." Mira hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia merasa berat menyembunyikan hal ini dari Nurul, tetapi ia tahu bahwa tidak ada gunanya melibatkan adiknya dalam masalah ini. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Mira kembali melangkah keluar, kali ini dengan langkah yang terasa lebih berat. Di dalam hatinya, ia terus bertanya-tanya bagaimana ia bisa keluar dari situasi yang semakin rumit ini. *** Jesika melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah mantap. Wajahnya dihiasi senyuman kecil, tetapi ada sorot mata yang sulit diartikan. Begitu ia menutup pintu, pandangannya langsung tertuju pada Adam yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh Adam masih basah, dan handuk putih melilit di pinggangnya dengan santai. Jesika menghentikan langkahnya sejenak, memperhatikan Adam yang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Kemudian, ia berjalan mendekat, dengan senyum manis yang terlihat penuh arti. Tanpa banyak bicara, Jesika melingkarkan tangannya ke leher Adam, tubuhnya hampir menempel pada tubuh suaminya. "Mas," bisik Jesika dengan nada menggoda. "Kamu kelihatan segar sekali. Tumben pulang cepat hari ini. Apa Mas sengaja ingin menghabiskan waktu sama aku?" Jesika perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Adam. Bibirnya yang berwarna merah menyala semakin mendekati bibir suaminya. Dengan lembut, ia menyentuh pipi Adam dan membisikkan sesuatu dengan nada menggoda. Adam, yang awalnya ingin menghindar, mendadak terpaku oleh kehangatan Jesika yang terasa berbeda malam itu. Dengan lembut, Adam menunduk, mendekatkan bibirnya ke bibir Jesika. Sentuhan pertama terasa hangat dan penuh gairah. Jesika membalas dengan sepenuh hati, seolah ingin meyakinkan Adam bahwa ia masih wanita yang bisa membuat suaminya jatuh cinta. Keduanya mulai larut dalam permainan yang memabukkan, saling membalas sentuhan dengan penuh kelembutan. Adam perlahan membimbing Jesika ke tempat tidur, membaringkannya dengan hati-hati. Tatapan mata mereka saling bertemu, menciptakan suasana yang semakin mendalam. Namun, saat Adam sudah berada di atas Jesika dan hendak melanjutkan semuanya, Jesika tiba-tiba menahan gerakannya dengan lembut. "Mas, tunggu," ujar Jesika sambil meletakkan tangannya di d**a Adam, menghentikan langkah suaminya. Adam menatap Jesika dengan bingung, napasnya masih terengah. "Kenapa? Ada apa?" tanyanya. Jesika tersenyum tipis, tetapi ada nada serius dalam suaranya. "Aku nggak bisa, Mas ... Aku harus minum pil KB dulu. Kamu tahu aku nggak siap untuk punya anak sekarang." Adam menatap Jesika yang terbaring di bawahnya. Ia mendekatkan wajahnya dengan senyum tipis, berusaha menenangkan. Dengan suara lembut namun tegas, ia berbisik, "Nanti saja kamu minum pilnya setelah aku selesai. Aku janji akan hati-hati." Jesika menatap Adam dengan keraguan di matanya. Ia menggeleng pelan, lalu dengan hati-hati mendorong tubuh Adam ke samping, mencoba menggeser posisi agar ia bisa bangun. "Mas, aku nggak bisa. Aku benar-benar khawatir. Bagaimana kalau hubungan kita malam ini membuatku hamil?" Adam duduk di sisi tempat tidur, menghela napas panjang untuk menahan emosinya. Namun, akhirnya ia tidak bisa lagi membendung amarah yang memuncak di dalam dadanya. Ia berdiri dengan cepat, menatap Jesika dengan sorot mata tajam yang penuh kemarahan. "Kamu sadar nggak sih? Kita ini suami istri yang sah! Kenapa kamu harus takut hamil? Bukankah itu bagian dari pernikahan kita?" suara Adam menggelegar, penuh dengan rasa frustrasi yang selama ini ia pendam. Jesika terkejut mendengar nada tinggi Adam, tetapi ia mencoba mempertahankan ketenangannya. Ia bangkit dari tempat tidur, menatap Adam dengan tatapan serius. "Mas, aku bukan takut hamil. Aku cuma belum siap! Kenapa kamu nggak bisa mengerti itu? Aku punya tanggung jawab di luar rumah ini yang juga penting!" Adam mendekat ke arah Jesika, wajahnya semakin keras. "Tanggung jawab? Lebih penting daripada keluarga kita? Jesika, aku ini suamimu! Aku ingin punya anak, ingin punya keluarga yang utuh. Apa itu salah?" Jesika terdiam sejenak, merasa terpojok oleh kata-kata Adam. Tetapi ia tidak mau menyerah. "Aku nggak bilang itu salah, Mas. Tapi aku juga punya hak atas tubuhku sendiri. Aku yang akan mengandung anak itu, aku yang akan melewati semuanya. Kalau aku merasa belum siap, kenapa kamu nggak bisa menunggu?" Adam menatap Jesika dengan sorot mata tajam, nafasnya memburu karena menahan amarah. Ia mendekat ke arah Jesika, berdiri tepat di hadapan wanita itu yang masih memandangnya dengan tatapan bersikeras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN