Jantungnya berdetak dengan kencang seperti berpacu dengan detik jam yang berada di tangannya. Ia membayangkan kejadian yang beberapa menit lalu ia lalui bersama Darel, kata-kata yang dulu Seina harapkan kini meluncur dari bibir Darel. "Ak-," ucap Seina tertahan. "Kamu enggak perlu jawab, tapi kamu hanya perlu merasakannya," ujar Darel lalu mencium bibir Seina. Seketika Seina memejamkan matanya merasakan, debaran jantung yang membuatnya melayang entah kemana. Perlahan Seina membuka mulutnya membiarkan Darel mengaksesnya lebih dalam serta mengimbangi permainannya. Seina melepaskan pagutannya setelah nafasnya terasa sesak. Ia terus menghirup udara di sekitarnya, sambil menundukkan kepalanya tak mau melihat wajah Darel. Pria itu memegang wajah Seina yang menurutnya terasa panas, mengan

