"Kayaknya, gue beneran tertarik sama lo deh, Ay."
Pergerakan tangan Ayla yang sedang memilih buku seketika terhenti. Ia menoleh pada cowok yang terus mengikutinya belakangan ini.
Regal nyengir lebar saat Ayla malah melotot padanya. Benar-benar menarik bukan? Alih-alih tersipu malu seperti cewek pada umumnya saat Regal menyatakan perasaan, Ayla malah melotot dengan wajah datar.
"Yaa, seenggaknya belakangan inisih. Sama elo tuh ibarat maen candy crush. Bikin bingung, bikin pusing, ruang geraknya dikit, jadi harus pake strategi, tapi asik."
"Bodoamat, Re." Ayla mendengus dengan perumpamaan yang di ucapkan Regal.
Ayla mengambil beberapa buku mewarna yang tadi sudah ia lihat. Lalu cewek itu berjalan ke kasir, masih dengan Regal yang mengikutinya.
"Lo yang bayar, kan?" Tanya Ayla yang sudah menaruh beberapa buku mewarnai di meja kasir.
"Iyaa." Regal mengeluarkan dompet dari celana abu-abunya, dan membayarkan jumlah yang diberitahukan petugas kasir padanya.
Setelah transaksi selesai, Ayla menerima platik berisikan buku mewarnai miliknya. Lalu mereka berjalan keluar dari toko buku.
Regal tau Ayla berbeda. Ini bukanlah kali pertama Regal menemani cewek jalan-jalan ke toko buku. Sebagian dari para cewek ke toko buku untuk membeli novel, dan beberapa lainnya mencari buku pelajaran. Lalu mereka akan bercerita tentang ketertarikannya akan dunia novel atau tentang buku pelajaran yang menandakan bahwa mereka masuk ke dalam cewek golongan pintar atau rajin. Tapi Ayla tidak membeli novel atau buku pelajaran, tapi ia membeli buku mewarnai. Bukan untuk adik, keponakan, atau disumbangkan ke rumah singgah -Regal cukup yakin hati Ayla tak semulia itu- melainkan untuk dirinya sendiri.
Justru itulah yang membuat Regal merasa tertarik ketika melihat Ayla di kelas. Ayla tidak banyak bicara, ia juga tidak banyak bereaksi, aktifitasnya di dalam kelas saat tidak ada guru adalah mewarnai. Ayla terlihat manis meski jarang sekali tersenyum. Membuat Regal pada akhirnya menghampiri Ayla.
Dan ketika di kasir, cewek-cewek yang pernah Regal temani ke toko buku biasanya akan berebut untuk membayar dengan Regal. Tapi dengan Ayla, saat Regal mengatakan ingin ikut ke toko buku, Ayla segera melayangkan pertanyaan. "Mau ngapain? Lo mau bayarin buku-buku gue?" Lalu Regal mengatakan iya, barulah Ayla mengijinkan Regal untuk ikut.
Kemudian tanpa malu-malu, Ayla bertanya memastikan perihal Regal yang mau membayari buku belanjaannya.
"Yah, ujan." Keluh Ayla saat keluar dari toko buku dan melihat keadaan diluar sedang hujan. "Elo sih, kebanyakan ngoceh gak penting, jadi lama kan."
Regal berdecak. Padahal hujan itu fenomena alam, tapi malah ia yang disalahkan. Cara pengucapan Ayla yang terdengar jutek, tapi Regal menganggap itu lucu.
"Berarti alam itu mendukung saat-saat elo sama gue, haha."
Receh banget. Tapi ketika mendengarnya Ayla tertawa kecil.
"Lo manis, Ay kalo ketawa gitu. Yaa, meskipun bentar."
"Re, bisa gak, gausah modus-modus sampah kayak gitu? Gue geli dengernya."
Regal cuma nyengir dengan jawaban Ayla. Regal tidak salah, ia tidak pernah merasa setertarik ini dengan cewek. Sepak terjang Regal dalam dunia cewek tentu tidak sedikit, Regal pernah mendekati bermacam-macam karakter cewek. Dari yang manja, sampai yang jutek abis. Dan Regal benci dengan kategori kedua.
Cewek yang menurut Regal sok jual mahal, sok cantik, padahal banyak yang lebih cantik. b******k memang pemikiran Regal, silahkan cari pemikiran cowok mana yang tidak b******k? Gak ada. Begitu menurut Regal.
Tapi Ayla, selalu berkata apa adanya. Pembawaannya yang tenang, seolah tidak pernah ada yang ia pikirkan. Ayla tidak menolak setiap ada cowok yang mendekatinya, tapi cowok-cowok akan mundur dengan teratur karena Ayla yang terlalu datar.
Sedangkan bagi Regal, mendekati Ayla itu seperti main tarik tambang. Ditarik-ulur gitu. Ayla tidak menolaknya dengan telak, hanya ucapannya terkadang kelewat jujur. Tapi Ayla tidak pernah menolak sesuatu yang menguntungkan baginya, seperti Regal yang beberapa hari ini menawarkan untuk mengantarnya pulang, beberapa kali mentrakrir makan, sampai membeli buku mewarnai.
Bukannya Ayla matre sih, tapi menurutnya, gak baik menolak rezeki.
Justru dari situ Regal yakin bahwa ia memiliki kesempatan.
"Mau nunggu ujan reda?" Tanya Regal, ketika ia melihat Ayla masih diam dan memperhatikan air hujan yang mengguyur jalanan siang ini.
"Gak usah. Ujan-ujanan sekali gak bakal sakit kok."
Cewek itupun melangkah dari teras toko buku yang terlindung dari air hujan, ke jalanan beraspal di depannya. Dengan tenang Ayla berjalan dibawah guyuran air hujan yang cukup deras. Tidak lupa Ayla sudah memasukan buku mewarnainya ke dalam tas, yang tidak tembus air.
Regal mengikuti langkah Ayla. Kini ia sudah berjalan disampingnya. Ayla sama sekali tidak mempercepat jalannya, atau repot-repot menutupi kepalanya dengan tas. Ia berjalan seperti biasanya, seolah tidak ada air hujan yang jatuh ke tubuhnya.
"Lo biasa maen ujan-ujanan ya?" Regal bertanya dengan suara yang cukup keras agar terdengar ditengah riuhnya suara hujan.
"Emang gue sekurang kerjaan itu?" Ayla menoleh pada Regal dan menatapnya dengan pandangan khas Ayla.
"Yah, kirain. Abis lo santai banget ujan-ujanan gini." Regal masih terus berjalan disamping Ayla, untuk menuju tempat motornya diparkir. "Mau maen sesuatu gak, Ay?" Tanya Regal kemudian, yang disambut decakan dari Ayla.
"Ini kita udah maen ujan-ujanan. Mau maen apalagi? Menari-nari dibawah hujan?"
Regal tertawa geli dengan jawaban sarkastis Ayla. Kini mereka telah sampai ke tempat motor Regal terparkir. Bahkan petugas parkir yang menjaga motornya saja sedang berteduh.
Regal mengeluarkan kunci motor dari saku celananya, lalu membuka jok motornya. Ia mengeluarkan satu jas hujan bermodel batman pada Ayla. "Gue cuma ada satu jas ujan, lo aja yang pake." Regal mengulurkan jas hujan tersebut pada Ayla.
Tidak langsung disambut, Ayla menatap jas hujan ditangan Regal itu beberapa saat. "Lo ujan-ujanan?"
"Yeah, ujan-ujanan sekali gak bakal sakit, kan?"
Ayla tertawa kecil mendengar Regal menyaut seperti ucapannya tadi, lalu ia mengambil jas hujan dari tangan Regal. Meski sebenarnya seragam yang ia pakai juga sudah setengah basah.
"Tentang yang ngajak maen tadi, gue serius loh." Regal mengingatkan soal perkataannya tadi, ia belum naik ke motornya, begitu juga Ayla.
Ayla sudah memakai jas hujan batmannya yang terlihat kebesaran ditubuhnya. Ia menenggak, menatap Regal yang kembali bicara tentang 'main' yang tidak Ayla mengerti.
"Let's play win-win solution." Lanjut Regal, menjelaskan tentang permainan yang ia maksud.
Ayla menatapnya tidak mengerti. "Explain, please."
"Gue udah bilang kalo gue beneran tertarik sama lo. Karena lo udah tau gue kayak gimana, gue gak akan mengelak semua presepsi lo terhadap gue. Ya, gue begini, Ay. Gue punya pacar, dan gue juga suka jalan sama beberapa cewek. I love them. Gue gak bisa mencintai satu cewek. But, I want you."
Ayla belum bereaksi, ia masih memperhatikan Regal, menantikan perkataan Regal selanjutnya. Tapi Regal tidak berkata apapun lagi. Dan mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Kalo gue sama lo, dan itu dianggap keuntungan buat lo. Lalu, keuntungan buat gue apa?"
Oh see, Regal tau pernyataannya barusan bener-bener b******k. Regal yakin, jika ia mengatakannya pada cewek lain, sudah pasti ia akan menerima tamparan. Tapi, Regal justru mendengar Ayla menanggapi ucapannya sesuai harapannya.
"Kalo lo mau tau, kenapa gak kita coba dulu?"
"Oke."
Regal melebarkan matanya, tidak percaya Ayla menyautnya secepat itu. Dengan ekspresi yang sama sekali tidak berubah, bahkan Regal tidak melihat cewek itu berpikir tentang ajakannya.
"Kayaknya, elo deh yang suka maen ujan-ujanan."
Ucapan Ayla membuyarkan keterkejutan Regal. Ayla mengadahkan tangannya, membuat tetesan air hujan yang masih deras membasahi tangannya. Bahkan seragam Regal sudah sangat basah dan membuat kaos berwarna biru tua yang dikenakam Regal dibalik kemeja putihnya terceplak jelas.
"Eh, sori. Ujannya makin gede ya, hehe. Yuk lah balik." Regal nyengir, tersadar akan maksud ucapan Ayla. Lalu cowok itu naik ke motornya diikuti Ayla.
Regal memang tidak setampan Satheo, tapi cowok itu memang terlihat keren saat nyengir seperti tadi. Dibelakang Regal, Ayla tersenyum kecil. Tentu saja bukan itu alasan Ayla menyetujui permintaan Regal. Ia ingin tau, sejauh mana keuntungan yang ditawarkan Regal.
Dan seperti itulah kisah mereka berawal. Bukan hubungan yang berlandaskan akan perasaan yang tulus. Hubungan yang realistis, bukan menawarkan janji dan berbagai harapan manis. Namun tidak ada dusta dalam setiap perkataannya, mereka saling mengetahui, sep
***