- 11 -

821 Kata
Lampu dalam teater di bioskop baru saja menyala, pertanda film yang diputar sudah berakhir. Para penonton yang memenuhi kursi-kursi dalam teater mulai berhamburan untuk keluar dari sana. Kasak-kusuk terdengar dari beberapa pengunjung yang membahas jalan cerita film yang baru ditontonnya. Regal dan Ayla ada diantara banyaknya pengunjung yang sedang berjalan keluar dari teater. Karena kesepakatan mereka tempo hari, Regal menginginkan agar Ayla mau diajak jalan olehnya. Contohnya seperti hari minggu ini, Regal mengajak Ayla keluar. Hubungan win-win solution yang mereka jalani tak jauh beda seperti pacaran pada umumnya. Hanya saja tidak ada komitmen diantara mereka. Regal tetap memiliki hubungan dengan cewek-cewek yang diincarnya, dan Ayla mengetahuinya. Mereka saling mengirim pesan setiap saat, dan pulang sekolah bersama. Ponsel Ayla tiba-tiba berbunyi, menandakan ada telepon masuk. Ayla mengeluarkan ponsel dari tasnya, melihat nama yang tertera dari layar ponselnya. Ayla menangkap mata Regal yang melirik ke ponselnya. "Chica. Gue angkat dulu." Katanya menjelaskan. "Kenapa, Ca?" "Kok lo gak ada di rumah sih, La? Tumben amat. Gue mau ngambil buku Matematika gue." Suara Chica di seberang sana terdengar kencang, sampai Ayla menjauhkan ponsel dari telinganya. Chica memang tidak bisa bicara pelan-pelan. "Lo sekarang dimana? Udah diambil bukunya?" "Yaa belomlah. Guekan gak tau lo nyimpen dimana, nyokap lo juga gak tau. Emang lo lagi dimana?" "Baru kelar nonton." Ayla menjawab kalem. "Lo nonton sendirian?" Suara Chica kini terdengar makin meninggi. "Nanti gue anterin bukunya ke rumah lo." "Lo nonton sama sia-" Tut.. Ayla mematikan sambungannya dan kembali memasukan ponsel ke tasnya. Regal yang dapat mendengar percakapan Ayla dan Chica hanya tertawa. Ia tidak pernah mengerti bagaimana Ayla dan Chica bisa berteman. Chica yang berisiknya bukan main, dan Ayla yang tidak suka keributan. "Terus, mau ke rumah Chica?" "Ke rumah gue dulu ngambil buku. Gue laper juga sih." Yang lagi-lagi Regal sukai dari Ayla, cewek ini gak ribet seperti cewek-cewek pada umumnya yang gemar main kode-kodean. Ayla selalu mengatakan apa keinginannya, ia akan berkomentar suka atau tidaknya terhadap sesuatu. Semuanya terasa jelas oleh Ayla. "Yaudah makan dulu yuk, gak buru-buru banget kan si Chica. Mau makan dimana?" Kini mereka telah menaiki eskalator untuk turun dari lantai atas tempat bioskop. Suasana mall di hari minggu cukup ramai. Pusat perbelanjaan memang selalu digemari menjadi tujuan di akhir pekan oleh warga ibu kota. "Gue mau ricis, enak kayaknya pedes-pedes." Lalu mereka berjalan menuju outlet richeese factory yang ada dalam mall tersebut. Sesampainya disana, Ayla memesan Combo Fire Chicken level 5. Regal bergidik ngeri dengan pesanan Ayla. Ia tau seberapa pedasnya level tersebut. Pernah sekali Regal mencobanya, dan ia bersumpah tidak akan pernah mencobanya untuk yang kedua kali. "Lo yakin level 5?" Regal kembali memastikan, khawatir akan pesanan Ayla. "Iya." Regal berusaha mempercayai pesanan Ayla, mengingat ia pernah melihat Ayla makan mie instan di kantin dengan menumpahkan sambel ke mangkuknya. Mungkin Ayla memang menyukai pedas. Mereka duduk di salah satu bangku yang kosong, dua chicken fire dengan asap yang masih mengepul dan warna merah yang menutupi ayam, terlihat menggiurkan untuk segera dicicipi. "Lo pernah makan yang level 5?" Tanya Regal sebelum Ayla memakan ayamnya. Ayla menggeleng. "Belom sih, gue biasanya pesen yang level 3, tapi kurang pedes." Ayla menjawab tenang, lalu ia mencuil daging ayamnya. Beberapa saat mereka tidak berbicara dan fokus dengan makanannya. Regal dapat mendengar nafas Ayla yang mulai tersenggal-senggal. Ayla pasti kepedasan. Cewek itu beberapa kali menyeruput pink lavanya, sampai minuman itu tersisa sedikit lagi. Matanya berkaca-kaca, namun tidak mengubah reaksinya. "Pedes banget ya." Regal dapat mendengar suara Ayla yang seperti tercekat, ia berhenti sejenak untuk menyuapkan ayam ke dalam mulutnya. "Ay, lo gak papa?" "Tukeran, Re. Gue gak kuat." Ayla mendorong piring berisi ayamnya pada Regal, meminta untuk bertukar. Regal menatap sesaat ayam Ayla. "Kan tadi gue udah nanya." "Mana gue tau bakal sepedes ini." Tapi semua cewek memang sama, mereka selalu benar. Dan hal itu juga berlaku untuk Ayla. Dengan berat hati Regal menyetujui untuk bertukar ayam dengan Ayla. Pesanan Regal hanya level 2, tidak terlalu pedas. Namun demi Ayla, ia harus mengingkari sumpahnya untuk tidak memakan Fire Chicken level 5 untuk kedua kalinya. Iya. Demi Ayla. Demi Ayla, Regal sampai menitihkan air mata. "Ay, pesenin min-" ucapan Regal terputus, s**l, bicarapun sampai sulit. Kini ia sibuk mengontrol rasa pedas di lidahnya. Ayla menenggak, melihat Regal yang duduk di hadapannya. "Lo nangis?" Regal tidak menjawab, ia ingin menjawab tidak, namun air matanya sudah keluar. Bukan Regal tidak mau menghapusnya, masalahnya tangannya dipenuhi bumbu ayam yang pedas, jika ia mengucekan ke matanya, malah memperparah. Lalu terdengar Ayla tertawa, melihat Regal yang tampak melankolis karena sambal. Regal melongo sesaat melihat tawa Ayla, bukan senang, justru rasanya Regal ingin banting meja saat melihat Ayla malah tertawa. "Sori, gue pesenin minum lagi." Lalu Ayla berdiri, masih dengan sisa tawanya, mengingat tangis Regal. Jadi hal yang dapat membuat cowok b******k macam Regal menangis itu Fire Chicken? Mungkin jika Ayla memberitahukannya pada cewek-cewek yang pernah berhubungan dengan Regal, bisa-bisa mereka berlomba-lomba untuk menjejalkan combo fire chicken level 5 ke mulut Regal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN