- 12 -

1320 Kata
Assalamualaikum, Chicaa." Ayla mengucapkan salam saat sampai di depan rumah Chica. Ditangannya ia membawa buku tulis bersampul coklat milik Chica. Meskipun berbeda kelas, tugas yang diberikan pada mereka sama. Chica yang rajin mengerjakan tugas, seringkali bukunya dipinjam oleh Ayla. Tak lama pintu rumah Chica terbuka, menampakan Chica dengan balutan kaos oblong dan celana pendek selututnya. Bukan melihat Ayla, kepalanya sibuk menenggak-nenggak, melihat ke motor yang terparkir di depan rumahnya. "Lo abis nonton sama Regal?" "Haii, Ca." Sapa Regal kalem, sambil tersenyum pada Chica meski cewek itu tidak balas tersenyum padanya. Ayla mengulurkan buku milik Chica yang disambut cepat oleh Chica. Namun pandangan Chica kini segara mengarah tajam pada Ayla. "Lo sama Regal pacaran ya?" Tembak Chica dengan suaranya yang sama sekali tidak pelan, sampai terdengar oleh Regal. "Apasih? Enggak." Ayla menjawab tenang. "Kenapa lo di anterin Regal?" Chica masih berusaha mencecar Ayla. "Tadi lo dianterin siapa ke rumah gue?" Ganti Ayla yang bertanya, yang disambut Chica dengan tatapan kesal karena Ayla mengalihkan pembicaraan. "Kok jadi nanya gue. Sama Fahlan. Emang kenapa?" "Lo sama Fahlan pacaran?" "Yaa nggaklah!" "Terus kalo gue dateng ke rumah lo sama Azrial, gue sama Azrial pacaran, gitu?" Chica melotot saat menyadari arah pembicaraan Ayla. Ia baru akan menjawab dan menyadari ia kebingungan akan menjawab apa. Sementara Chica yang masih bingung, Ayla berjalan meninggalkan Chica dan naik ke boncengan Regal. "Gue balik." Pamit Ayla. "Duluan, Ca." Regal mengikuti pamit dengan Chica, lalu menggas motornya meninggalkan depan rumah Chica. "Eh, La! Dih, kok jadi gue yang bingung. k*****t emang si Ayla." Chica berteriak kesal saat motor Regal sudah jalan menjauh. Dia memang selalu kalah jika adu mulut dengan Ayla. Ayla selalu berhasil memutar balikan keadaan. Kenapa sih Chica bisa-bisanya bertemen sama Ayla? Sedang di motor, Regal masih tidak habis pikir dengan pembicaraan Chica dan Ayla tadi. Tapi ada satu hal yang Regal simpulkan dari pembicaraan Chica dan Ayla tadi. Tidak ingin berspekulasi, Regal langsung menanyakannya pada Ayla. "Elo gak cerita ke Chica?" Ayla mengernyit sesaat, tidak mengerti dengan pertanyaan Regal, "cerita apa?" "Kok Chica kaget gitu lo nonton sama gue." "Ohh." Ayla menyaut kalem, "ngapain cerita?" Bukan menjawab, Ayla malah balik bertanya. "Yah, cewek kan suka curhat-curhatan gitu sama temen ceweknya. Gue pikir lo juga gitu." "Emang sepenting itu, ya. Sampe harus diceritain?" Mungkin ini yang dirasakan Chica tadi, berargumentasi dengan Ayla, malah dibalik dengan pertanyaan-pertanyaan retoriknya, yang membuat Regal ingin menabrakan motor ke pohon saja. Dari kalimat Ayla barusan, tersirat makna bahwa, Regal gak penting-penting amat buat Ayla. Regal tau kok. Sadar malah. Tapi Regal tetap suka. Ia memang menyukai Ayla yang tidak pernah mengucapkan kata-kata manis. Tidak apa. Toh, Ayla bersamanya. Memang sesederhana itulah hubungan mereka. *** Dari 18 jumlah kelas yang tediri dari enam kelas di setiap angkatan, yang terbagi menjadi dua kelas di setiap jurusannya, serta siswa yang berjumlah 38 disetiap kelas, naasnya SMKN 1998 hanya memiliki sebuah kantin. Kantinnya memang lumayan besar, tapi tentu saja, untuk menampung siswa dari delapan belas kelas, maka setiap harinya kantin selalu penuh sesak. Seperti pagi ini, saat Chica dan Ayla ke kantin, bangku kantin sudah terisi penuh. Akhirnya mereka membawa makanannya ke kelas dan makan bersama di kelas. Dikarenakan Ayla malas ke kelas Chica, mereka jadi makan di kelas Ayla, begitu juga Satrya dan Fahlan. Bangku di meja Ayla dihadapkan ke belakang, membentuk formasi meja seperti di kantin. Beberapa teman sekelas Ayla yang tidak kebagian tempat di kantin pun melakukan hal yang sama. Fahlan yang tidak kebagian tempat duduk, menarik bangku dari meja lain. "Regal kemanain, La?" Tanya Satrya, yang saat itu menempati bangku Regal karena sang pemilik tidak ada di tempat. "Istirahatlah." Nada suara Ayla seolah mengatakan pertanyaan Satrya itu tidak pantas untuk ditanyakan. "Iyaa tau istirahat, tapi kan biasanya dia kalo istirahat nempelin lo mulu." Ayla hanya mengangkat bahu, tidak memperdebatkan ucapan Satrya lagi. Chica yang teringat akan kejadian semalam, dengan heboh mengetok sendok ke mangkuk pangsitnya. Yang disambut pelototan dari teman-temannya karena mengundang perhatian. "Apasih, Ca, apaa?" Fahlan yang tidak sabaran karena ulah Chica, melotot pada cewek itu. "Kemaren si Ayla nonton sana Regal! Terus dia ke rumah gue juga dianter Regal." Chica membuka suaranya dengan menggebu-gebu, namun ucapannya tidak mengejutkan siapapun. "Lah, Ayla pulang sekolah juga tiap hari dianter Regal." Azrial menyaut santai. Ia pikir Chica akan memberikan informasi yang jauh lebih penting, ternyata informasi basi. "Emang iyaa?" Chica kembali bersuara dengan heboh, menatap Ayla tidak percaya. "Kayaknya emang elo doang deh yang gak tau." Kali ini Satrya ikut berkomentar. "Tau apaa?" "Jumat ini jadi table manner?" Ayla mengalihkan pembicaraan, tidak peduli dengan pertanyaan Chica yang memang tidak penting. Teman-temannya juga tidak ada yang menyauti pertanyaan Chica. "Jadi lah, udah bayar. Gue mau cari ciwi-ciwi Bandung ah." "Gininih, semut di ujung lautan keliatan, gajah di pelupuk mata gak keliatan. Jadi selama ini lo nganggep gue apa, Sat?" Chica mengomentari ucapan Satrya dengan penuh drama. "Gak lebih dari remah-remah biskuit Regal." "Apaan nama gue disebut-sebut?" Regal yang baru datang dengan membawa sebuah buku paket, menarik bangku dari meja lain, dan duduk dekat Ayla. Ia memberikan buku yang tadi dipegangnya pada Ayla, yang disambut Ayla sambil membuka bagian dalamnya. "Kita lagi ngomongin biskuit, bukan elo. Kecuali kalo lo mau diancurin kaya remah-remah biskuit." Azrial yang menjawab pertanyaan Regal. "Abis darimana lo?" Lanjut Azrial bertanya. "Kantin dong, tadi ada urusan juga ama anak akuntansi, eh kebablasan silaturahmi deh." Mereka berdecak mendengar jawaban Regal, sudah paham bahwa silaturahmi yang diucapkan Regal adalah kata lain dari tebar pesona. Setelah selesai dengan aksinya ke kelas lain, cowok itu kini terlihat kembali lagi mendekati Ayla. "Punya Meylita Saputri? Nanti siapa yang balikin? Gue gatau orangnya yang mana." Ayla menoleh pada Regal, menanyakan perihal buku paket mandarin yang dipinjamkan Regal dari kelas XI Akuntansi 1. "Ohh nyari pinjeman buku buat Ayla. Eh, siapa? Meylita? Meylita yang itu. Anak akuntansi yang cakep banget itu?" Azrial yang menyadari nama itu segera merebut buku paket mandarin dari tangan Ayla, dan membaca nama yang diucapkan Ayla tadi beserta asal kelasnya. "Yoii. Cewek gue tuh." Jawab Regal kalem. Dan sukses mendapatkan pelototan tidak percaya dari teman-temannya. Kecuali Ayla. Cewek itu kini menyeruput Es Jeruknya dengan tenang. "Nanti gue aja yang balikin, Ay." Tidak peduli dengan keterkejutan teman-temannya, Regal menjawab pertanyaan Ayla yang tadi. "Kapan putus sama Febi?" Azrial yang menjadi teman sebangkunya, benar-benar tidak tau tentang kabar itu. Setaunya, Regal masi pacaran dengan Febi. "Dua minggu yang lalu." "Lo pake pelet apasih, Re? Bisa-bisanya cewek secakep dan pinter kayak Lita mau sama lo." Fahlan geleng-geleng kepala. Ia tau Regal memang banyak dekat dengan cewek-cewek di sekolahnya. Tapi ia tidak menyangka sampai bisa berpacaran dengan Meylita Saputri. Cewek tercantik seangkatan mereka. Bukan hanya itu, cewek itu juga pintar dan terpilih menjadi kandidat Lomba Kejuruan Siswa mewakili Prodi Akuntansi. Regal hanya nyengir, tidak tau harus menjawab apa. Dia hanya mendekati apa yang dia suka, tidak peduli mereka suka atau tidak. Tapi sepertinya perlakuan dan janji-janji Regal begitu manis pada cewek-cewek. Sampai mereka tidak punya pilihan selain jatuh ke pelukan Regal. "Terus kalo lo pacaran sama Lita, Ayla itu apa?" Chica yang mendengar percakapan mereka, segera teringat akan kejadian semalam. "Kita berteman baik kok. Ya kan, Ay?" Regal menoleh pada Ayla, meminta persetujuannya. Ayla malah menoleh pada Chica, kenapa sahabatnya ini masih penasaran sih? "Emang kata siapa gue pacaran sama Regal? Lo aja kali yang nyimpulin sendiri." "Tapi chatan di bbm lo juga dari Regal semua, pagi siang sore malem." Chica berusaha membela diri. "Wohooo. Ayla terciduk." Fahlan berteriak memperkeruh suasana. "Kok lo baca-baca bbm gue sih?" Ayla semakin menatap kesal pada Chica. "Kan gue penasaran, abis lo ga cerita apa-apa sama gue." "Kenapa gue harus cerita sama lo?" "Iyaa guemah cuma remah-remah biskuit regal. Abaikan aja. Puas lo!" "Ini cewek cuma dua tapi ribet banget ya, gimana ada lima?" Satrya geleng-geleng kepala, sudah biasa dengan keributan Ayla dan Chica yang memperdebatkan suatu hal. Tapi tunggu saja, beberapa menit lagi juga mereka sudah tampak akur. Satrya, ataupun yang lain, tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran dua cewek ini. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN